Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2021

Maria adalah Perempuan! (beberapa catatan tentang monolog “Maria”)

  Manado , 30 Oktober 2021 malam. Kota ini terasa begitu sesak. Di suatu kawasan pusat perbelajaan terlihat ramai orang-orang menikmati malam. Jalan raya padat dengan kendaraan roda empat dan dua.   Di sebuah kafe Maria hadir lagi dan berbicara hadapan orang-orang di situ. Ia berbicara dengan nada mengeluh, tapi juga protes. Maria, ya dia seorang perempuan. Pojok Indie nama kafe itu. Berdiri memang di sebuah pojok. Di depannya pusat perbelanjaan yang berdiri di atas tanah reklamasi. Ia berada sekira 1 km dari Pasar 45, yang di masa kolonial adalah benteng Ford Amsterdam pusat dari segala kekuasaan yang mengubah. Tak jauh dari situ adalah pelabuhan tua yang masih berfungsi. Oleh suatu proses berkesenian, Maria datang lagi ke sini, ketika semua sudah banyak yang berubah. "Saya Maria. Lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872,” kata perempuan itu. Perempuan yang sedang berbicara itu adalah Maria dalam pentas monolog karya Achi Breyvi Talanggai dengan aktrisnya Melv...

“Indu-nesia”

Oleh Denni H.R. Pinontoan   JAUH ke belakang, satu abad sebelum ia menjadi nama negara, nama tuanya adalah "Indunesia" dan "Malayunesia". Nama itu diberikan oleh George Samuel Windsor Earl (1813-1865) pada tahun 1847. Cuma saja dia lebih suka dengan nama Melayunesia untuk menunjuk pada sebuah wilayah geografis, yang oleh pemerintah kolonial Belanda menyebutnya Hindia Belanda. Sebenarnya, Indunesia itulah yang juga disebut kepulauan Hindia. James Richardson Logan, kolega Earl tahun 1850 memilih nama "Indonesia", yang dari nama semula "Indunesia". Huruf "u" dirubah menjadi "o". Adolf Bastian, pada tahun 1884 menggunakan nama "Indonesia" untuk menunjuk pada wilayah geografis yang sebelumnya dinamakan "Melayunesia" dan "Indunesia” itu. "Indu" adalah "India" atau Hindia. Lalu "nesia" berasal dari kata Yunani "nesos" yang berarti "pulau/kepulauan". T...

171 tahun Sejarah ‘Penatua” dan “Diaken” di Tanah Minahasa

Pengangkatan penatua dan diaken-diaken pertama dalam sejarah kekristenan di Minahasa terjadi tahun 1850. Zending J.G. Schwarz adalah yang melakukan pengangkatan itu untuk orang-orang Minahasa yang sudah Kristen di Kakas dan Remboken. Salah satu nama yang disebutkan telah diangkat sebagai penatua waktu itu adalah John Malonda. Itu terjadi kurang lebih 30 tahun sejak kedatangannya pertama di Kakas, lalu Langowan bersama J.F. Riedel yang menetap di Tondano. Memang sejarah kekristenan Protestan di tanah Minahasa sudah sejak zaman VOC, namun kedua zendeling inilah yang boleh dikatakan berhasil mendekati orang-orang Minahasa di pegunungan untuk menerima agama itu. “Penulong” pertama hasil dididikan sistem anak piara yang mereka perkenalkan adalah Silvanus Item dan Adrianus Angkouw. Namun, dengan diangkatnya para penatua dan diaken sebagai majelis jemaat oleh Schwarz ini boleh dikatakan sebagai tanda penerimaan kekristenan yang semakin mantap oleh orang-orang Minahasa. Namun, lebih da...