Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Tokoh

Junus Moningka dan Letnan De Jong yang Menolak Menyerah

  Namanya Junus Moningka. Seorang lelaki tua dari  Minahasa. Matanya berair ketika mengenang masa yang sudah jauh tertinggal. Ia masih bisa mendengar suara tembakan itu. Bau mesiu. Rumput basah di Salenda yang menempel di kulit. Semua itu sudah lebih dari empat puluh tahun lalu, tapi masih hidup dalam ingatannya seperti baru kemarin. Kadang, ketika ia duduk di beranda rumah dan mendengar suara motor lewat, ia merasa seperti mendengar dentum mortir Jepang yang memecah pagi. Moningka adalah mantan prajurit KNIL kelas satu di tahun 1940-an. Kira-kira tahun 1988, seorang wartawan Belanda, Michiel Hegener, datang ke rumahnya. Usia Moningka sudah enam puluh tujuh waktu itu. Di rumah itu ada banyak orang menyaksikan Moningka diwawancarai. Keluarga dan tetangga hadir. “Mereka minum teh dan makan kue kelapa,” kata Hegener dalam tulisannya berjudul "Tranen om een dapper man door" yang terbit di  De Volkskrant  edisi 03-09-1988 . Hegener lahir di Hilversum pada 11 Mei...

Janji Bung Karno kepada Yurike Sanger, “Adiklah, istri yang terakhir”

KABAR duka itu datang dari California, 17 September 2025. Di sebuah rumah sakit di kota kecil Banning, San Gorgonio Memorial Hospital, seorang perempuan Minahasa berusia delapan puluh tahun telah meninggal dunia. Nama lengkapnya Yurike Mariana Sanger, tapi lebih dikenal dengan nama Yurike Sanger. Yurike lahir di Paso, Kakas Minahasa tanggal 21 Mei 1945. Ia anak dari pasangan keturunan Jerman dan Minahasa. Ayahnya bermarga Goltmier, ibunya bermarga Sanger dari Kakas, Minahasa. Dialah salah satu perempuan yang pernah menjadi bagian dari lingkaran rumah tangga Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno . Pertemuan Tak Terduga Cerita dimulai pada 1963, di Jakarta. Soekarno menghadiri sebuah acara kenegaraan. Seperti biasa, Bung Karno tidak hanya memperhatikan pidato atau upacara. Ia juga sering mengamati sekelilingnya. Di hadapannya berdiri barisan siswa Bhinneka Tunggal Ika, remaja-remaja yang mengenakan busana tradisional Nusantara. Dari sekian wajah, matanya tertuju pada satu sosok...

GMIM di Masa Jepang: Ds. Locher Ditawan, Ds. Wenas Jadi Ketua Sinode

Di tengah bayang pendudukan Jepang yang mengekang gereja dan menawan pemimpin Belanda, GMIM menemukan wajah barunya lewat kepemimpinan pendeta Minahasa, Ds. A.Z.R. Wenas. AWAL tahun 1942. Laut Sulawesi bergemuruh. Dari Davao, Filipina, kapal-kapal perang Jepang berlayar menuju selatan. Di langit, pesawat-pesawat tempur melintas seperti kawanan burung hitam. Pada 11 Januari, mereka mendarat di Manado dan Kema. Sehari itu juga, langit Minahasa dipenuhi terjun payung Jepang—operasi pertama mereka di Asia Tenggara. Mayor Ben Schillmöller, komandan Belanda, mencoba bertahan. Bersama pasukan KNIL, milisi Eropa, dan warga lokal Minahasa, ia mendirikan barikade di Pineleng, Tinoör, hingga Tomohon. Dentuman senjata terdengar. Namun kekuatan mereka terlalu kecil. Dalam dua hari, Manado, Tomohon, dan Langoan jatuh. Bendera matahari terbit berkibar di bumi Minahasa. Kehidupan berubah seketika. Laurens Th. Manus, dkk dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Utara (1945–1949) buku hasil p...

Mien Tampinongkol, Cerita yang Hidup di Ujung Zaman

TAHUN 1998, di Klaten, sebuah desa di Jawa Tengah, seorang ibu di jalan bertanya pada beberapa orang Belanda.  “Apakah kalian orang Belanda? Saya tahu seseorang yang pasti ingin sekali berbicara dengan kalian. Seorang nenek tua, tinggal agak jauh di sana,” ujar si ibu.   Salah seorang yang ditanya adalah Marius Bremmer, seorang jurnalis Belanda. Ia menulis laporan perjalanan dan kolom di banyak media Belanda. Ia dan beberapa temannya kebetulan sedang berada di Indonesia waktu itu.     “Namanya tante Mien,” lanjut si ibu itu. “Mari, saya antar, kalau tidak kalian tidak akan menemukannya. Rumahnya ada di tengah kampung. Saya yakin dia akan sangat menghargai kunjungan orang Belanda.” Bremmer menulis kisah perjumpaannya dengan tante Mien dengan judul “Hollands heimwee op Midden-Java: Tante Mien Tapi Nonkol: "Ik spreek nog heel goed Nederlands, hoor!" terbit di majalah Belanda Terdege edisi 13 Mei 1998.   Bremmer dan rombongan kecil itu mengikuti...

Paul Pinontoan dan Pemikirannya tentang Agama dan Negara

Paul Pinontoan adalah salah seorang putra Minahasa yang menempuh pendidikan tinggi pada masa kolonial dan turut memberi warna dalam dunia pergerakan pemuda. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak banyak tercatat dalam arsip, namun menurut sejarawan Bodewyn Talumewo, ia berasal dari Tikala Ares, Minahasa. Perjalanan pendidikannya membawanya ke Batavia, tempat ia masuk STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran untuk pribumi. Pinontoan menyelesaikan studinya pada tahun 1927, bersama dengan rekannya Soebowo dari Solo, lalu pada tahun berikutnya, 1928, ia dipromosikan menjadi dokter. Selain menekuni dunia medis, Paul Pinontoan juga aktif dalam organisasi pergerakan pemuda. Ia bergabung dengan Studeerenden Vereeniging Minahasa, sebuah perkumpulan pelajar Minahasa yang berdiri di Batavia pada 6 Januari 1918 di bawah pimpinan T.A. Kandou. Organisasi ini kemudian berkembang dan pada akhir dekade 1920-an berubah nama menjadi Jong Celebes , sejalan dengan pola organ...