Pada suatu hari musim gugur yang muram, menjelang akhir abad ke-18, lonceng Gereja Kaufmannskirche di Erfurt, Jerman, berdentang mengiringi sebuah iring-iringan pemakaman. Jalan-jalan sempit kota tua itu menjadi saksi perjalanan terakhir seorang saudagar yang dikenal luas karena kebaikan hatinya. Di belakang peti jenazah, seorang janda muda berjalan dengan tubuh nyaris tak sanggup menahan kesedihan. Lima orang anak mengikutinya. Anak yang paling kecil, seorang bocah berusia sekitar tiga tahun, menangis tanpa benar-benar memahami mengapa orang-orang dewasa di sekelilingnya begitu berduka. Seorang bayi lainnya masih terbaring di rumah. Lelaki yang dimakamkan itu bernama Christian Emanuel Riedel, seorang pedagang yang dihormati masyarakat Erfurt. Ia meninggalkan bukan hanya keluarga yang kehilangan pelindung, melainkan juga sebuah nama yang telah lama dikenal karena kemurahan hati. Di tengah khotbah pemakaman, perhatian jemaat diarahkan kepada batu nisan seorang leluhur keluarga Rie...
Akhir Juni lalu, saya berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Niat untuk pergi museum karena penasaran dengan sosialisasi yang masif di media sosial. Apa yang menarik di museum yang baru di revonasi itu? Setelah melapor kepada seorang ibu di dekat pintu masuk, saya dipersilakan untuk mengelilingi museum. Dibandingkan dengan keadaan museum sebelumnya, tampaknya ada yang benar-benar berbeda. Hari itu ramai pengunjung di museum. Para pengunjung tampak antusias. Ada sepasang suami-istri bersama anak-anak mereka. Tampak juga para muda-mudi yang berkelompok. Dan, di bagian galeri yang menampilkan koleksi artefak Minahasa, sekelompok anak sekolah dari Minahasa Selatan mendekat. Mereka mengamati dengan kagum warisan leluhur kaumnya, tapi tampak pula kebingungan. “Oh, ini kata arca,” kata seseorang dari mereka. “Ini kine watu tumotowa,” tambah yang lain “Ih, sama deng patong ini,” kata anak yang satu lagi. Kami sudah berdekatan. Lalu saya bertanya asal mereka. Mereka senang menyeb...