Akhir Juni lalu, saya berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Niat untuk pergi museum karena penasaran dengan sosialisasi yang masif di media sosial. Apa yang menarik di museum yang baru di revonasi itu? Setelah melapor kepada seorang ibu di dekat pintu masuk, saya dipersilakan untuk mengelilingi museum. Dibandingkan dengan keadaan museum sebelumnya, tampaknya ada yang benar-benar berbeda. Hari itu ramai pengunjung di museum. Para pengunjung tampak antusias. Ada sepasang suami-istri bersama anak-anak mereka. Tampak juga para muda-mudi yang berkelompok. Dan, di bagian galeri yang menampilkan koleksi artefak Minahasa, sekelompok anak sekolah dari Minahasa Selatan mendekat. Mereka mengamati dengan kagum warisan leluhur kaumnya, tapi tampak pula kebingungan. “Oh, ini kata arca,” kata seseorang dari mereka. “Ini kine watu tumotowa,” tambah yang lain “Ih, sama deng patong ini,” kata anak yang satu lagi. Kami sudah berdekatan. Lalu saya bertanya asal mereka. Mereka senang menyeb...
Gereja Tua Tinoor Jelang GMIM berdiri sendiri pada 30 September 1934, terjadi perdebatan antara Pdt. Ernst Anton Adriaan de Vreede dan Pdt. Albertus Zacharias Runturambi Wenas. Keduanya adalah pendeta De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indië (atau Indische Kerk). Tapi yang satu Belanda, dan yang satunya lagi Minahasa. Pokok perdebatan mereka adalah kata “di” dalam nama gereja yang akan mandiri dari Indische Kerk itu. “Gereja Masehi Injili di Minahasa” atau “Gereja Masehi Injili Minahasa”. Pdt. De Vreede ingin ada kata “di”, sementara Pdt.Wenas menolaknya. Tapi, katanya kemudian, Pdt. Wenas justru mengakui bahwa Pdt. De Vreede yang benar, bahwa dalam nama GMIM harus ada kata “di”. Tapi, sejak berdiri pada tanggal 30 September 1934, pendapat Pdt. Wenas yang diterima, nama gereja ini adalah “Gereja Masehi Injili Minahasa”, tanpa kata “di”. Penggunaan kata “di” nanti resmi tahun 1990-an. Namun, yang menarik, menurut Pdt. D.M. Lintong dalam sebuah bukunya, justru adanya burun...