Drs L. Coomans de Ruiter dalam artikelnya berjudul "Zangers der tropische maannachten" di majalah “Oost en West” tahun 1951, menuliskan kisah yang menarik tentang burung Manguni di Minahasa yang dikenal dengan berbagai nama seperti “wara imbengie, wala, lojot, dojot, dan hoit”. Burung yang secara zoologis diidentifikasi sebagai Otus scops manadensis ini bukan sekadar satwa malam bagi masyarakat Minahasa masa lampau, melainkan makhluk yang dipercaya membawa pesan-pesan tertentu bagi kehidupan manusia. Dari berbagai suara yang dikeluarkannya lahirlah seperangkat pengetahuan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam konteks ini, tiga istilah penting muncul sebagai pusat pemaknaan: Manguni, Tonaas, dan Tumotowa. Manguni, Suara Alam sebagai Pertanda Di antara berbagai bunyi yang dikeluarkan oleh burung tersebut, suara yang disebut manguni merupakan yang paling dihormati. Bunyi yang terdengar seperti “oe-ek, oe-ek, oe-ek” ini dipanda...
Lompad, 6 Juli 1931. – Suasana syukur dan sukacita meliputi jemaat Lompad pada hari yang istimewa ini. Mereka berkumpul untuk merayakan tiga dekade pengabdian seorang guru dan gembala jemaat yang setia, W. F. Purukan. Sejak diangkat sebagai guru Zending pada tahun 1901, ia telah mencurahkan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan dan kehidupan rohani jemaat. Peringatan ini diselenggarakan dengan penuh kehormatan. Para guru dan pengajar hadir untuk memberikan penghormatan kepada rekan mereka, meskipun jumlah yang hadir tidaklah banyak. Namun, diyakini bahwa seluruh komunitas guru Zending turut bersukacita ketika mendengar kabar ini. Acara dimulai pada sore hari di gereja, di mana seorang saudara jemaat menyampaikan salam dan mengenang hubungan erat antara jemaat dan gurunya. Kemudian, Tuan Mongkau, seorang pengajar Injil dari Popo, membuka pertemuan dengan nyanyian Mazmur 103:1. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa W. F. Purukan adalah seorang guru yang t...