Belang, Minahasa, Agustus 1958 — ketika perang saudara menjangkau laut dan sebuah kapal kargo menjadi saksi sejarah. Pada pertengahan Agustus 1958, laut di sekitar Sulawesi tidak sepenuhnya menjadi ruang bagi nelayan mencari ikan atau kapal dagang mengangkut barang. Di tengah pergolakan politik dan militer yang melanda Indonesia, laut berubah menjadi jalur pergerakan pasukan, pengiriman logistik, sekaligus medan pengejaran. Di perairan inilah sebuah kapal kargo bernama Norse Lady terseret ke dalam pusaran konflik antara pasukan Permesta dan pemerintah pusat. Kapal ini tidak dibuat untuk berperang. Sejarahnya telah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada 11 September 1919, kapal tersebut diluncurkan di Inggris dengan nama War Glade. Setelah selesai dibangun pada Januari 1920, kapal ini memasuki dunia pelayaran niaga. Dalam perjalanan waktu, namanya berganti beberapa kali: Norefos, Norefjord, dan Ry varden—kemudian dikenal sebagai Norse Lady setelah berpindah kepemilikan pada 1958. ...
Pada suatu hari musim gugur yang muram, menjelang akhir abad ke-18, lonceng Gereja Kaufmannskirche di Erfurt, Jerman, berdentang mengiringi sebuah iring-iringan pemakaman. Jalan-jalan sempit kota tua itu menjadi saksi perjalanan terakhir seorang saudagar yang dikenal luas karena kebaikan hatinya. Di belakang peti jenazah, seorang janda muda berjalan dengan tubuh nyaris tak sanggup menahan kesedihan. Lima orang anak mengikutinya. Anak yang paling kecil, seorang bocah berusia sekitar tiga tahun, menangis tanpa benar-benar memahami mengapa orang-orang dewasa di sekelilingnya begitu berduka. Seorang bayi lainnya masih terbaring di rumah. Lelaki yang dimakamkan itu bernama Christian Emanuel Riedel, seorang pedagang yang dihormati masyarakat Erfurt. Ia meninggalkan bukan hanya keluarga yang kehilangan pelindung, melainkan juga sebuah nama yang telah lama dikenal karena kemurahan hati. Di tengah khotbah pemakaman, perhatian jemaat diarahkan kepada batu nisan seorang leluhur keluarga Rie...