Cerpen Denni H.R. Pinontoan Tuang Guru Yohanes berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekati dinding rumah. Di situ ada tertempel almanak bertahun 1880. Jari telunjuknya menekan angka 15 di bulan April. Ia menyebut sesuatu, tapi tak terdengar suara. Wajahnya tampak mengingat sesuatu dalam kesedihan. Setelah itu dia kembali ke tempat semula. Pagi itu rumah tuang guru Yohanes tampak mencolok di antara rumah-rumah lain di kampung Kamangna, sebuah desa kecil di distrik Tompaso, bagian selatan Minahasa. Amurang, pusat pemerintahan onderafdeling itu, berjarak puluhan pal dari Kamangna. Di rumah panggung beratap rumbia bertudung ijuk enau itu tinggal tuang guru Yohanes, istrinya Marta, dan Magdalena, anak gadis mereka. Sebenarnya Magdalena memiliki seorang kakak laki-laki bernama Yopi, tetapi ia meninggal tragis lima tahun lalu. Ia tewas dibunuh para tukang pukul suruhan mandor karena menolak bekerja di kebun kopi. Tanggal kematiannya: 15 April 1875. Setiap tahun, tuang guru Yo...
Suatu siang menjelang sore, di akhir abad ke-19, kapal uap pos Belanda Prins Willem der Nederlanden melaju perlahan meninggalkan Pelabuhan Tandjoeng Prioek, Batavia. Asap hitam mengepul dari cerobong, sementara gelombang Selat Sunda terbelah di haluan. Pelayaran panjang menuju Eropa baru saja dimulai—hari pertama atau hari-hari awal perjalanan berminggu-minggu melintasi samudra. Krakatau dibicarakan sebagai peristiwa yang sudah lewat, menandai waktu cerita sesudah letusan dahsyat 1883. Di dalam kapal, kehidupan sosial segera menemukan ritmenya. Salon makan menjadi pusatnya. Ruang tertutup namun luas itu dipenuhi meja-meja panjang, kursi rotan, dan kipas angin manual— punkah —yang digerakkan tanpa henti oleh pelayan Jawa. Di sinilah para penumpang kelas atas berkumpul: pejabat kolonial, perwira militer, keluarga Indo-Eropa, perempuan terdidik, dan para oud-gast —orang lama Hindia—yang membawa pengalaman tropis mereka kembali ke Eropa. Makan siang besar ala rijsttafel baru saja usai. H...