Suatu siang menjelang sore, di akhir abad ke-19, kapal uap pos Belanda Prins Willem der Nederlanden melaju perlahan meninggalkan Pelabuhan Tandjoeng Prioek, Batavia. Asap hitam mengepul dari cerobong, sementara gelombang Selat Sunda terbelah di haluan. Pelayaran panjang menuju Eropa baru saja dimulai—hari pertama atau hari-hari awal perjalanan berminggu-minggu melintasi samudra. Krakatau dibicarakan sebagai peristiwa yang sudah lewat, menandai waktu cerita sesudah letusan dahsyat 1883. Di dalam kapal, kehidupan sosial segera menemukan ritmenya. Salon makan menjadi pusatnya. Ruang tertutup namun luas itu dipenuhi meja-meja panjang, kursi rotan, dan kipas angin manual— punkah —yang digerakkan tanpa henti oleh pelayan Jawa. Di sinilah para penumpang kelas atas berkumpul: pejabat kolonial, perwira militer, keluarga Indo-Eropa, perempuan terdidik, dan para oud-gast —orang lama Hindia—yang membawa pengalaman tropis mereka kembali ke Eropa. Makan siang besar ala rijsttafel baru saja usai. H...
Namanya Junus Moningka. Seorang lelaki tua dari Minahasa. Matanya berair ketika mengenang masa yang sudah jauh tertinggal. Ia masih bisa mendengar suara tembakan itu. Bau mesiu. Rumput basah di Salenda yang menempel di kulit. Semua itu sudah lebih dari empat puluh tahun lalu, tapi masih hidup dalam ingatannya seperti baru kemarin. Kadang, ketika ia duduk di beranda rumah dan mendengar suara motor lewat, ia merasa seperti mendengar dentum mortir Jepang yang memecah pagi. Moningka adalah mantan prajurit KNIL kelas satu di tahun 1940-an. Kira-kira tahun 1988, seorang wartawan Belanda, Michiel Hegener, datang ke rumahnya. Usia Moningka sudah enam puluh tujuh waktu itu. Di rumah itu ada banyak orang menyaksikan Moningka diwawancarai. Keluarga dan tetangga hadir. “Mereka minum teh dan makan kue kelapa,” kata Hegener dalam tulisannya berjudul "Tranen om een dapper man door" yang terbit di De Volkskrant edisi 03-09-1988 . Hegener lahir di Hilversum pada 11 Mei...