Tulisan ini mengkaji Draft Perubahan Tata Gereja GMIM 2026 sebagai sebuah dokumen eklesiologis yang tidak hanya mengatur tata kelola organisasi, tetapi juga mencerminkan cara GMIM memahami hakikat gereja, kepemimpinan, kewenangan, persekutuan, penatalayanan, dan panggilan misioner. Dengan menempatkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan Tata Gereja sebagai sarana bagi kehidupan gereja, kajian ini membaca kembali sejumlah persoalan mendasar dalam Draft 2026, terutama mengenai relasi Jemaat dan Sinode, luasnya kewenangan BPMS, mekanisme pengambilan keputusan, sinodalitas, subsidiaritas, pengelolaan persembahan dan aset, serta disiplin gerejawi. Kajian ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak semata-mata bersifat organisatoris dan administratif, melainkan mempunyai konsekuensi teologis terhadap cara GMIM memahami dirinya sebagai Tubuh Kristus. Berdasarkan pembacaan tersebut, tulisan ini mengusulkan agar pembaruan Tata Gereja tidak diarahkan terutama pada penambahan regulasi, ...
Drs L. Coomans de Ruiter dalam artikelnya berjudul "Zangers der tropische maannachten" di majalah “Oost en West” tahun 1951, menuliskan kisah yang menarik tentang burung Manguni di Minahasa yang dikenal dengan berbagai nama seperti “wara imbengie, wala, lojot, dojot, dan hoit”. Burung yang secara zoologis diidentifikasi sebagai Otus scops manadensis ini bukan sekadar satwa malam bagi masyarakat Minahasa masa lampau, melainkan makhluk yang dipercaya membawa pesan-pesan tertentu bagi kehidupan manusia. Dari berbagai suara yang dikeluarkannya lahirlah seperangkat pengetahuan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam konteks ini, tiga istilah penting muncul sebagai pusat pemaknaan: Manguni, Tonaas, dan Tumotowa. Manguni, Suara Alam sebagai Pertanda Di antara berbagai bunyi yang dikeluarkan oleh burung tersebut, suara yang disebut manguni merupakan yang paling dihormati. Bunyi yang terdengar seperti “oe-ek, oe-ek, oe-ek” ini dipanda...