Skip to main content

Posts

Teras

Agen Jepang Jadi Petani di Tondano

Suatu pagi yang berkabut di tepian Danau Tondano pada akhir dekade 1930-an, seorang pria Jepang tampak berjalan di antara kebun-kebun yang menghijau. Ia menyapa penduduk yang berpapasan dengannya, berbincang dengan para petani, dan sesekali turun ke Menado untuk mengurus urusan dagang. Namanya Tsunehachi Kobayashi. Di mata masyarakat Tondano kala itu, ia hanyalah seorang pemilik perkebunan Jepang yang memilih menetap di pedalaman. Kehidupannya tampak sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik internasional yang saat itu mulai mengguncang Asia. Namun beberapa tahun kemudian, ketika perang pecah dan berbagai arsip konsulat Jepang diperiksa oleh pemerintah kolonial Belanda, sosok Kobayashi muncul sebagai sosok yang berbeda. Petani itu ternyata diduga menjadi bagian dari jaringan informasi Jepang yang bekerja diam-diam di Hindia Belanda. Jejak Kobayashi sebenarnya dapat ditelusuri jauh sebelum perang. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 28 Oktober 1927 memuat berita berjudul J...
Recent posts

Historiografi "Wenang": Membedakan Wenang dari Manado Tua dan Manado

Unduh pdf Oleh Denni H.R. Pinontoan   Pengantar Ada diskusi menarik menanggapi artikel Greenhill Weol berjudul “Dari Wenang ke Manado” yang dipublikasikan di Facebook, Jumat, 23 Mei 2026. Demikian juga pada postingan saya yang mengambil artikel Adrianus Kojongian berjudul “Manado Tua dan Misteri di Balik Peta”. Salah satu yang menjadi perhatian, adalah tentang perbedaan antara Manado Tua, Manado dan Wenang. Sebenarnya sudah ada beberapa penulis yang berusaha menjelaskan tentang apa yang menjadi tema tulisan saya ini. Antara lain Meers Malky Tzedek dengan tulisannya berjudul "Monango Labo (Pelabuhan Manado)”. Tulisan terbaru, selain dari Greenhil Weol juga Hendrik Rapar berjudul “Monango Labo: Nama yang Hilang di Arsip, tetapi Bertahan dalam Ingatan Manado” . Tulisan saya ini hendak menegaskan satu hal, bahwa yang disebut-sebut dalam dokumen klasik sebagai “Monango Labo” dengan beberapa varian penulisannya adalah “Wenang” atau “Pelabuhan Wenang” di daratan Minahasa. Tumpahan Wenan...

1880

  Cerpen Denni H.R. Pinontoan Tuang Guru Yohanes berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekati dinding rumah. Di situ ada tertempel almanak bertahun 1880. Jari telunjuknya menekan angka 15 di bulan April. Ia menyebut sesuatu, tapi tak terdengar suara. Wajahnya tampak mengingat sesuatu dalam kesedihan. Setelah itu dia kembali ke tempat semula. Pagi itu rumah tuang guru Yohanes tampak mencolok di antara rumah-rumah lain di kampung Kamangna, sebuah desa kecil di distrik Tompaso, bagian selatan Minahasa. Amurang, pusat pemerintahan onderafdeling itu, berjarak puluhan pal dari Kamangna. Di rumah panggung beratap rumbia bertudung ijuk enau itu tinggal tuang guru Yohanes, istrinya Marta, dan Magdalena, anak gadis mereka. Sebenarnya Magdalena memiliki seorang kakak laki-laki bernama Yopi, tetapi ia meninggal tragis lima tahun lalu. Ia tewas dibunuh para tukang pukul suruhan mandor karena menolak bekerja di kebun kopi. Tanggal kematiannya: 15 April 1875. Setiap tahun, tuang guru Yo...

Klappertaart, Kue Warisan dari Zaman Indies

Suatu siang menjelang sore, di akhir abad ke-19, kapal uap pos Belanda Prins Willem der Nederlanden melaju perlahan meninggalkan Pelabuhan Tandjoeng Prioek, Batavia. Asap hitam mengepul dari cerobong, sementara gelombang Selat Sunda terbelah di haluan. Pelayaran panjang menuju Eropa baru saja dimulai—hari pertama atau hari-hari awal perjalanan berminggu-minggu melintasi samudra. Krakatau dibicarakan sebagai peristiwa yang sudah lewat, menandai waktu cerita sesudah letusan dahsyat 1883. Di dalam kapal, kehidupan sosial segera menemukan ritmenya. Salon makan menjadi pusatnya. Ruang tertutup namun luas itu dipenuhi meja-meja panjang, kursi rotan, dan kipas angin manual— punkah —yang digerakkan tanpa henti oleh pelayan Jawa. Di sinilah para penumpang kelas atas berkumpul: pejabat kolonial, perwira militer, keluarga Indo-Eropa, perempuan terdidik, dan para oud-gast —orang lama Hindia—yang membawa pengalaman tropis mereka kembali ke Eropa. Makan siang besar ala rijsttafel baru saja usai. H...