ISTILAH “sinkretisme” sering kali menjadi momok dalam diskursus keagamaan, terutama di kalangan Kristen konservatif. Bagi sebagian besar dari kelompok ini, sinkretisme dianggap sebagai bahaya rohani yang mengancam kemurnian iman. Ia dijadikan istilah untuk menandai dan mengkritik integrasi budaya lokal ke dalam praktik iman Kristen, yang dipandang sebagai pencemaran doktrin, penyesatan Injil, atau bahkan penyembahan berhala terselubung. Maka tak heran, banyak ekspresi iman Kristen yang berakar pada budaya lokal – seperti tarian pujian, penggunaan simbol-simbol adat, atau praktik sosial keagamaan yang berciri lokal – cepat dilabeli “sinkretis” dengan nada sinis. Namun demikian, cara pandang ini ternyata menyederhanakan dan bahkan menyalahpahami sejarah dan makna sejati dari istilah “sinkretisme” itu sendiri. Sejarah etimologis dan perkembangan wacana tentang sinkretisme menunjukkan bahwa istilah ini tidak selalu bermakna negatif, dan bahkan pada awalnya sama sekali bukan istilah te...
Hari ini di masa lalu