Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Catatan

“Sinkretisme” yang Disalahpahami

ISTILAH  “sinkretisme” sering kali menjadi momok dalam diskursus keagamaan, terutama di kalangan Kristen konservatif. Bagi sebagian besar dari kelompok ini, sinkretisme dianggap sebagai bahaya rohani yang mengancam kemurnian iman. Ia dijadikan istilah untuk menandai dan mengkritik integrasi budaya lokal ke dalam praktik iman Kristen, yang dipandang sebagai pencemaran doktrin, penyesatan Injil, atau bahkan penyembahan berhala terselubung. Maka tak heran, banyak ekspresi iman Kristen yang berakar pada budaya lokal – seperti tarian pujian, penggunaan simbol-simbol adat, atau praktik sosial keagamaan yang berciri lokal – cepat dilabeli “sinkretis” dengan nada sinis. Namun demikian, cara pandang ini ternyata menyederhanakan dan bahkan menyalahpahami sejarah dan makna sejati dari istilah “sinkretisme” itu sendiri. Sejarah etimologis dan perkembangan wacana tentang sinkretisme menunjukkan bahwa istilah ini tidak selalu bermakna negatif, dan bahkan pada awalnya sama sekali bukan istilah te...

Pancasila dan Kebhinekaan dari Perspektif Minahasa

  Bendera Merah Putih berkibar di Halaman Watu Pinawetengan Dr. G.S.S.J. Ratu Langi: “ Persatuan nasional dari bangsa Indonesia adalah suatu persatuan politis . Kenyataan ini didasarkan pada kemauan politis yang sukarela untuk membentuk suatu persatuan bangsa dan Negara Indonesia yang berdaulat . Dengan mengakui dan menghormati akan perbedaan etnis dan budaya pluralitas bangsa Indonesia yang bersatu dengan segala konsekuensinya, kita semua harus menerima, menghormati dan berjuang untuk persatuan politis bangsa Indonesia tersebut – Namun, dilain pihak adalah suatu keharusan yang seimbang bahwa Persatuan Indonesia juga harus mengakui dan menghormati hak asasi dari tiap kelompok etnis untuk mempertahankan otonomi mereka dalam batas wilayah kelompok etnis tersebut.” (Fikiran” 31 Mei 1938). Ø   Bagi Ratu Langi, Indonesia merdeka adalah suatu persatuan politis, dasarnya adalah kemaun politis. Indonesia sebagai persatuan politis ini mesti mengakui dan menghormati perbedaan ...

Kristen Magis menurut Kruyt dan Kristen Kultural

ZENDELING Albertus Christiaan Kruyt yang bertugas di Poso sejak tahun 1892 dalam bukunya Van Heiden Tot Christen terbit tahun 1926 menceritakan mengenai cara orang-orang Poso merayakan dan menghayati Natal. Dari pengamatannya secara partisipatif dia mendapati bahwa perayaan Natal bagi orang-orang Poso agaknya masih dalam penghayatan ritual-ritual agama leluhur mereka. Pohon terang misalnya dimakna secara magis. Lalu, perayaan Natal mesti dilakukan secara komunal yang ditandai dengan pesta-pesta, yaitu kesibukan memasak, makan-makan, saling pesiar, dan pertunjukkan semalam suntuk. Kruyt menyebut fenomena ini sebagai model Kristen magis. Sebuah model kekristenan yang memahami semua unsur dalam agama Kristen, ibadah, alkitab, tokoh-tokoh di dalamnya, perayaan-perayaan keagamaan memiliki kekuatan magis. Ini, katanya berdasarkan cara berpikir mereka yang memahami semua yang ada di dalam ini mengandung unsur magis. Namun, seperti cara berpikir orang-orang modern Eropa pada umumnya waktu it...

Maria adalah Perempuan! (beberapa catatan tentang monolog “Maria”)

  Manado , 30 Oktober 2021 malam. Kota ini terasa begitu sesak. Di suatu kawasan pusat perbelajaan terlihat ramai orang-orang menikmati malam. Jalan raya padat dengan kendaraan roda empat dan dua.   Di sebuah kafe Maria hadir lagi dan berbicara hadapan orang-orang di situ. Ia berbicara dengan nada mengeluh, tapi juga protes. Maria, ya dia seorang perempuan. Pojok Indie nama kafe itu. Berdiri memang di sebuah pojok. Di depannya pusat perbelanjaan yang berdiri di atas tanah reklamasi. Ia berada sekira 1 km dari Pasar 45, yang di masa kolonial adalah benteng Ford Amsterdam pusat dari segala kekuasaan yang mengubah. Tak jauh dari situ adalah pelabuhan tua yang masih berfungsi. Oleh suatu proses berkesenian, Maria datang lagi ke sini, ketika semua sudah banyak yang berubah. "Saya Maria. Lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872,” kata perempuan itu. Perempuan yang sedang berbicara itu adalah Maria dalam pentas monolog karya Achi Breyvi Talanggai dengan aktrisnya Melv...

Ambtenaar dari Batavia

  Ambtenaar dari Batavia Medio Juni 2021: Seorang ambtenaar dari Batavia, ya Jakarta itu, datang ke daerah koloni, Tanah Minahasa. Salam selamat datang disambutnya sekadar. Tak ada basa-basi - yang sebenarnya, pun seorang yang mulia Gubernur Jenderal perlu melakukan itu - si pegawai hamba birokrasi ini langsung interogasi ini dan itu. Khas seorang dari pusat kekuasaan. Ya, dia datang memang sebagai verifikator. Lalu, orang Minahasa yang biasa menjamu siapapun dengan makan dan minum, pun kepada dia atau mereka kompeni yang bermaksud menjarah tanah. Belum apa-apa, yang dimintanya lebih dulu adalah ‘tanda’, bahwa dia sudah datang menjalankan tugas, dan itu berarti duit - Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) - Si 'jongos' birokrasi itu yang dibayar oleh uang rakyat. Lalu, si ambtenaar yang saya pastikan belum pernah membaca 'Max Havelaar"-nya Multatuli, juga Indonesia in den Pacific; Kernproblemen van den Azialistischen-nya Sam Ratu Langie, apalagi sejarah petisi A.L. Wa...

Darah, Leluhur dan Identitas

  Tahukah anda warisan genetis apa yang mengalir dalam darah penyanyi asal Papua, Edo Kondologit ? Menyimak hasil tes DNAnya, mungkin kita semua akan terkejut. Hasil tes DNA Edo oleh Lembaga Eijkman menemukan bahwa ada gen Taiwan pada darah yang mengalir dalam tubuhnya.   Lalu bagaimana dengan Najwa Shihab ? Dirinya sendiri terkejut, dan mungkin juga kita, g en Arab pada dirinya hanya 3,4 p ersen . Najwa Shihab memiliki 10 fragmen DNA dari 10 leluhur berbeda. DNA-nya didominasi gen South Asian dengan jumlah 48,54 persen. (selengkapnya anda dapat membaca hasil tes DNA untuk sejumlah tokoh publik ini di situs kompas.com dan Historia.id. ) Bagi saya orang awam untuk studi genetis, pastilah akan terkejut dengan dua tokoh tadi. Edo berkulit hitam, tapi memiliki gen Taiwan. Najwa Shihab yang mengaku pernah diolok ‘onta’, justru memiliki kadar gen Arab yang minim. Intinya, dua orang ini memiliki warisan gen yang beragam. Mengapa? Para ahli genetis menjawab bahwa leluhur ke...

Tuhan ke Mana?

AGAMA -agama dan ruang-ruang sosial sepi. Virus Corona menyerang manusia, masyarakat dan peradaban. Hal keagamaan dan kerutinan masyarakat sejenak berhenti. Peradaban memasuki masa hening. Orang-orang dunia banyak yang terkena penyakit Covid-19. Banyak yang meninggal. Virus Corona menyerang peradaban yang telah dibangun lama. Masyarakat dunia cemas, panik, takut.   Negara-negara sedunia punya prosedur bersama secara global menghadapi virus ini. Agar virus tidak menyebar, menurut prosedur global itu, masyarakat mesti menjalankan ‘social distancing’. Bentuknya antara lain, mengurangi atau mendiadakan pertemuan-pertemuan dan jabat tangan. Nah, ini soal bagi orang-orang beragama. Ritual mesti melibatkan banyak orang. Ibadah di gereja Minggu, Sholat Jum’at, sembayang di Klenteng, di Pura, dlsb, dibatasi atau dianjurkan agar tidak dulu dilakukan. Lalu, jabat tangan yang sudah dianggap bagian dari tindakan keaagamaan juga untuk sementara tidak diperbolehkan. Soal terak...

Covid-19

Oleh Denni H.R. Pinontoan SALING ber s alaman, untuk sekarang ini, dianjurkan baiknya tidak dilakukan dulu. Apalagi cipika-cipiki . Dulu larangan bersalaman antar orang-orang tertentu terutama karena alasan agama. Alasannya bersifat doktrinal. Sesuatu yang tak dapat diindera. T erkini, anjuran itu karena bahaya virus yang bernama corona. Itu juga karena sesuatu yang tidak dapat diindera dengan mata telanjang. Kontak langsung berbahaya menyebarnya virus corona itu. Orang yang terinfeksi virus ini akan terkena jenis penyakit baru bernama Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Bermula di Wuhan, China, kini sudah menyebar ke kira-kira 104 negara. Ia lalu mendapat gelar sebagai "pendemi global". Virus ini menyebar cepat. Satu orang diketahui dan ditetapkan positif, maka akan muncul dugaan untuk banyak orang. Seorang yang terinfeksi itu, sebelum diketahui dan positif terkena virus, pasti ia pernah melakukan kontak dengan banyak orang. Manusia itu mak...

Beberapa Pokok Pikiran Mengenai Perilaku Politik Warga Sulawesi Utara dari Perspektif Kebudayaan

PEMILIHAN Kepala Daerah ( Pilkada ) adalah peristiwa kebudayaan . Keseluruhan proses pelaksanaan Pilkada adalah suatu proses perencanaan kehidupan bersama kini dan masa depan untuk banyak hal. Kepala daerah yang merupakan hasil dari proses itu adalah kepala pemerintahan yang nanti akan memimpin banyak orang dalam upaya mengelola banyak aspek untuk kebaikan bersama. Dari dasar pemahaman ini maka untuk sementara dapat dikatakan, bahwa dari perspektif kebudayan, Pilkada adalah kegiatan berbudaya (politik) masyarakat secara partisipatif dalam memilih pemimpin untuk bersama-sama merencanakan politik kehidupan berdasar aspirasi dan makna-makna atau nilai-nilai kolektif yang diyakini. Bagaimana cara dan motivasi warga (perilaku) berpartisipasi tersebut, selalu dipengaruhi oleh konteks dan perubahan-perubahan yang terjadi. Dengan begitu, budaya politik yang dimaksud adalah upaya-upaya manusia dan masyarakat memberi makna pada politik praktis maupun pada politik dalam pengerti...