Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kuliner

Klappertaart, Kue Warisan dari Zaman Indies

Suatu siang menjelang sore, di akhir abad ke-19, kapal uap pos Belanda Prins Willem der Nederlanden melaju perlahan meninggalkan Pelabuhan Tandjoeng Prioek, Batavia. Asap hitam mengepul dari cerobong, sementara gelombang Selat Sunda terbelah di haluan. Pelayaran panjang menuju Eropa baru saja dimulai—hari pertama atau hari-hari awal perjalanan berminggu-minggu melintasi samudra. Krakatau dibicarakan sebagai peristiwa yang sudah lewat, menandai waktu cerita sesudah letusan dahsyat 1883. Di dalam kapal, kehidupan sosial segera menemukan ritmenya. Salon makan menjadi pusatnya. Ruang tertutup namun luas itu dipenuhi meja-meja panjang, kursi rotan, dan kipas angin manual— punkah —yang digerakkan tanpa henti oleh pelayan Jawa. Di sinilah para penumpang kelas atas berkumpul: pejabat kolonial, perwira militer, keluarga Indo-Eropa, perempuan terdidik, dan para oud-gast —orang lama Hindia—yang membawa pengalaman tropis mereka kembali ke Eropa. Makan siang besar ala rijsttafel baru saja usai. H...

'Kukis Brudel', Kue dari Belanda yang Populer di Minahasa

Kue Brudel dari Belanda, diperkenalkan di Hindia Belanda oleh Nonna Cornelia dalam buku resepnya, di Minahasa kue jenis ini sangat populer   SETIAP mendekati ‘Hari Besar”, Natal dan Tahun Baru atau acara-acara tertentu, orang-orang Minahasa pasti akan mengingat kukis (kue) yang satu ini: brudel. Kukis brudel dapat dinikmati setelah makan rupa-rupa lauk-pauk dalam pesta-pesta. Juga sangat pas dinikmati bersama kopi atau teh hangat.     Dari mana asal kukis brudel ini? Orang-orang akan menjawab, dari Belanda. Dari zaman kolonial. Tapi bagaimana kisahnya? Resep kukis (kue) brudel atau dalam bahasa Belanda ditulis broeder sudah muncul dalam sebuah resep masakan tahun 1845. Pengarangnya bernama Nonna Cornelia. Buku karangannya yang berjudul Kokki Bitja ataoe Kitab Masakan India diterbitkan dalam bahasa Melayu dicampur bahasa Belanda. Pertama kali terbit tahun tahun 1845, lalu terbit lagi dalam edisi revisi tahun 1859.     “Ambil doea deeg, ...