Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2018

Ibadah Natal di Gereja Sentrum Tondano dan Menteri Muslim

HARI Natal, 25 Desember 1951. Wakil Perdana Menteri Raden Suwiryo berkunjung ke Tondano, Minahasa. Ia di temani dua menteri. Menteri Sosial Sjamsuddin Sutan Makmur dan yang satu lagi asal Minahasa, menteri Penerangan Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Tidak hanya sekadar berkunjung, Suwiryo dan Sjamsuddin yang beragama Islam itu juga mengikuti ibadah Natal di dalam gedung gereja GMIM Sentrum Tondano. Mereka ini duduk dalam kabinet Kabinet Sukiman-Suwirjo. Sebelum ke Tondano, para petinggi negara ini terlebih dahulu mengunjungi makam Tuanku Imam Bonjol di Lota, Pineleng. “Setelah kunjungan ini, para menteri beragama Islam, Suwirjo dan Sjamsuddin menghadiri kebaktian di gereja darurat Tondano untuk pertama kalinya,” tulis Java-bode, koran berbahasa Belanda yang terbit di Batavia dalam terbitannya edisi 28 Desember 1951.    Wakil Perdana Menteri Raden Suwiryo adalah seorang tokoh pergerakan kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, tanggal 17 Februari ...

'Kukis Brudel', Kue dari Belanda yang Populer di Minahasa

Kue Brudel dari Belanda, diperkenalkan di Hindia Belanda oleh Nonna Cornelia dalam buku resepnya, di Minahasa kue jenis ini sangat populer   SETIAP mendekati ‘Hari Besar”, Natal dan Tahun Baru atau acara-acara tertentu, orang-orang Minahasa pasti akan mengingat kukis (kue) yang satu ini: brudel. Kukis brudel dapat dinikmati setelah makan rupa-rupa lauk-pauk dalam pesta-pesta. Juga sangat pas dinikmati bersama kopi atau teh hangat.     Dari mana asal kukis brudel ini? Orang-orang akan menjawab, dari Belanda. Dari zaman kolonial. Tapi bagaimana kisahnya? Resep kukis (kue) brudel atau dalam bahasa Belanda ditulis broeder sudah muncul dalam sebuah resep masakan tahun 1845. Pengarangnya bernama Nonna Cornelia. Buku karangannya yang berjudul Kokki Bitja ataoe Kitab Masakan India diterbitkan dalam bahasa Melayu dicampur bahasa Belanda. Pertama kali terbit tahun tahun 1845, lalu terbit lagi dalam edisi revisi tahun 1859.     “Ambil doea deeg, ...