Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2021

Gedung Gereja Tua GMIM ‘Sion’ Sendangan dalam Memori

  SEBUAH buku cukup tebal, tidak bersampul muka dan belakang. Halaman dalam sampul, keterangan penulis dan daftar isi sudah hilang. Saya lupa buku itu saya peroleh dari siapa atau di mana. Buku stensilan ini berisi tentang sejarah kekristenan di Minahasa. Di bagian halaman belakang tercetak foto gereja-gereja GMIM di tahun 1980. Dua foto hitam putih di bagian itu adalah gedung gereja tua GMIM Sion Sendangan, Kawangkoan. Keterangan di bagian bawah foto pertama menyebutkan “Gereja GMIM ‘Sion’ Kawangkoan menjelang selesai dipugar.” Bagian tanda kurung tertulis sumber foto dan tanggal pengambilan: “Lensa: hl. 27 Juni 1980”. Ya, pemugaran, mungkin maksudnya merenovasi bagian-bagian yang rusak, pengecatan, dll. Sebab keterangan pada foto kedua disebutkan: “Gereja GMIM ‘Sion’ Jemaat Kawangkoan Dati II Minahasa, nampak kesibukan Jemaat dan Pimpinannya sedang melakukan pemugaran Gerejanya dalam menyambut Sidang Raya DGI IX 1980.   Melihat foto itu, ingatan saya dengan segera...

Kultur Kelelondey, Langowan di Era Budaya Digital

TAHUN 1831 , seorang berkebangsaan Jerman, zendeling pada NZG, badan misi yang berpusat di Rotterdam, Johann Gotlieb Schwarz tiba di Manado. Kira-kira baru 10 hari kemudian, dia dan kawannya pasangan Johann Frederik Riedel-Maria Williams, diantar oleh Gerrit Jan Hellendoorn, predikant di Manado, dan Residen Manado menuju ke pegunungan Minahasa. Schwarz rencananya akan menetap di Langowan, Riedel dan istrinya Maria Williams di Tondano. Tapi, Schwarz tidak langsung tinggal di Langowan. Dia harus kembali lagi ke Manado. Sebab, Schwarz mesti ke Batavia dan Singapura untuk mengambil bantuan, antara lain buku cetak dan peralatan yang nantinya akan digunakan di sekolah yang rencananya segera didirikan. Buku cetak. Ya, itu teknologi mutakhir waktu itu untuk pendidikan. Ia tentu berkaitan dengan penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada abab ke-15 di Jerman. Mesin cetak, untuk pertama kali didatangkan ke Minahasa beberapa tahun setelah kedatangan Schwarz dan Riedel. Seorang zend...

Ambtenaar dari Batavia

  Ambtenaar dari Batavia Medio Juni 2021: Seorang ambtenaar dari Batavia, ya Jakarta itu, datang ke daerah koloni, Tanah Minahasa. Salam selamat datang disambutnya sekadar. Tak ada basa-basi - yang sebenarnya, pun seorang yang mulia Gubernur Jenderal perlu melakukan itu - si pegawai hamba birokrasi ini langsung interogasi ini dan itu. Khas seorang dari pusat kekuasaan. Ya, dia datang memang sebagai verifikator. Lalu, orang Minahasa yang biasa menjamu siapapun dengan makan dan minum, pun kepada dia atau mereka kompeni yang bermaksud menjarah tanah. Belum apa-apa, yang dimintanya lebih dulu adalah ‘tanda’, bahwa dia sudah datang menjalankan tugas, dan itu berarti duit - Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) - Si 'jongos' birokrasi itu yang dibayar oleh uang rakyat. Lalu, si ambtenaar yang saya pastikan belum pernah membaca 'Max Havelaar"-nya Multatuli, juga Indonesia in den Pacific; Kernproblemen van den Azialistischen-nya Sam Ratu Langie, apalagi sejarah petisi A.L. Wa...