Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2018

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Guru Amal Modjo dan Warga Jaton di Gorontalo

Mesjid Al Mutaqqin di Yosenogoro. Bangunan pertama terbuat dari kayu yang didirikan oleh Amal Modjo. Foto: Bulletin Umulolo, 2017 Salah satu lulusan Kweekschool atau Sekolah Guru di Tondano pada tahun 1902 adalah keturunan Kyai Modjo bernama Amal Modjo. Ketika pindah ke Gorontalo, bersama rombongannya mereka mendirikan Kampung Jawa Yosonegoro, Amal Modjo menjadi guru di sana. KAMPUNG Jawa Tondano (Jaton) berdiri tahun 1830. Di Minahasa, pada masa kolonial,   selain sekolah-sekolah yang didirikan oleh zending, pemerintah juga mendirikan sekolah untuk umum, antara lain Kweekschool atau Sekolah Guru di Tondano. Dalam perjalanannya, di awal abad 20 lahan untuk digarap oleh masyarakat Kampung Jaton semakin sempit.   Maka, sekelompok orang dari kampung ini bermigrasi ke Gorontalo dengan membawa tradisi, budaya dan pengetahuan-pengetahuan baru yang diperoleh dari interaksi mereka dengan masyarakat masyarakat Minahasa yang mayoritas Kristen dan sistem pendidikan modern ...

Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil, Hadji Banten di Manado

Haji Moh. Arsyad Thawil Syekh Mas Mohamad Arsyad Thawil , dikenal sebagai Hadji Banten, menikah dengan perempuan Minahasa dan memilih menetap di Menado sampai akhir hayat. Dengan keislamannya yang ramah, ia dihormati oleh banyak orang, baik muslim maupun Kristen.   KAMPUNG Kumaraka, 20 Maret 1934 . Hari baru lepas subuh. P ukul 5.00 pagi. Or ang banyak berkumpul di sebuah rumah. Mereka sedang mengikuti prosesi pemakaman seorang ulama besa r. Ha ji Arsyad Thawil atau Haji Banten , nama ulama sepuh itu. Sekira 40 tahun sudah ia hidup di daerah ini. Tokoh ini diasingkan oleh Belanda dari Banten tahun 1889 . “Pada pukul 5.00 pagi hari ke 20 Maret 1934, jenasah Bapa Hadji diiringi ribuan muslim dan non muslim ke pemakaman Islam di Kokaweg , ” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara , terbit 2015 mengutip sebuah koran berbahasa Belanda . Berita koran ini menyebutkan, orang-orang yang hadir dalam pemakaman tersebut, selain mereka yang beragama Islam, ...