Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2020

Bagian Kedua: Papendangan

PERCAKAPAN yang tak menyenangkan dengan tuang pandita Duverman tak membatalkan rencana Mandey pergi ke rumah tonaas Pandei. Ia terlambat. Mandey kini berada di depan sebuah rumah panggung. Pekarangan rumah ini ditumbuhi beberapa jenis tanaman. Tanaman tawaang terdapat di hampir setiap pinggiran pekarangan. Tepat di bagian depan rumah, sebuah patung manusia terbuat dari kayu setinggi orang dewasa berdiri. Patung ini menandakan bahwa pemilik rumah ini adalah tona’as atau walian sebab ia terkait dengan foso-foso yang dilakukan. Sebuah watu lonjong meruncing ke atas berdiri di sudut pekarangan. Saat melakukan foso tertentu yang dipimpim walian , orang-orang mengitari watu itu.   Di sebelah rumah panggung itu,   seorang lelaki tua sedang duduk di bale-bale bulu [1] . Pohon-pohon yang tumbuh di situ membuat sinar matahari tak langsung mengenai orang-orang di bawahnya. Lelaki tua itu   mengenakan celana setinggi lutut. Kepalanya ditutupi poporong [2] te...

Frederik Kasenda, Pelukis Terkenal Asal Remboken-Minahasa

Frederik Kasenda,   pelukis asal Remboken - Minahasa membawa bakat alamiah melukis, juga empati pada perjuangan orang-orang Cina melawan Jepang SEORANG yang terlahir dengan bakat alamiah asal Remboken, Minahasa pernah melukis potret Chiang Kai-Shek dan Dr. Sun Yat Sen, dua tokoh revolusioner Tiongkok Modern. Dia adalah Frederik Kasenda, seorang pelukis terkenal di masa kolonial.   Waktu itu Chiang Kai-Shek (lahir 31 Oktober 1887) adalah seorang tokoh Partai Kuomintang (KMT). Sun Yat Sen adalah tokoh pemimpin besar Tiongkok. Ia pejuang revolusioner untuk Tiongkok modern yang meninggal pada tahun 1925. Posisinya lalu digantikan oleh Chiang Kai-Shek. Rupanya, tole Minahasa ini menggagumi dua tokoh itu.     Meski lebih terobsesi melukis lanskap, tapi selain dua tokoh besar tadi, Kasenda juga pernah melukis potret Ratu Wilhemina. Frederik Kasenda lahir di   Remboken, Minahasa pada 31 Mei 1891. Kasenda membawa bakat alamiah. Di waktu ma...

Bagian Pertama: Kelung um Banua

CAHAYA  purnama menyinari seantero wanua Tamberan. Di pekarangan  rumah hukum  tua yang luas itu sedang berlangsung pesta foso. Ramai orang berkumpul di situ.  Ini malam terakhir foso  panen padi  yang dilaksanakan selama dua minggu. Para gadis dan pemuda menari  maengket . Musik kolintang gong terdengar hingga di  kejauhan.  Di tengah keramaian pesta itu seorang walian perempuan memegang tawaang di tangannya. Walian lainnya mengitarinya. Doa-doa dipanjatkan.    Obor-obor yang ditaruh di hampir setiap bagian perkarangan membuat malam itu terang benderang. Seolah tidak ada orang yang berdiam diri. Semua larut dalam pesta. Lantai dua rumah panggung besar milik hukum tua  sedang  ramai. Sang  makawale  sedang  menjamu beberapa  kepala  dari negeri  sekitar. Sejumlah lampu minyak menerangi ruangan itu.  “Hoot.....hooooot...............hoooooot...” suara Manguni yang b...