Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2024

Pilkada sebagai Praktik Kebudayaan

Dibuat dengan AI (bing.com) HINGGA kini, publik, para intelektual, dan para aktivis demokrasi masih mendiskusikan tentang praktek dan fenomena politik uang, politisasi identitas, mobilisasi massa PNS, calon yang dinilai tidak berkualitas, dll di Pemilihan Umum (Pemilu), dan lebih khusus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Katakanlah, dari segi prosedur tentu semakin hari semakin baik, apalagi jika dibandingkan sebelum era reformasi, tapi praktek dan fenomena “penyakit demokrasi” tersebut, jelas adalah indikator bahwa demokrasi di negara kita ini belum substansial.  “Penyakit demokrasi” tersebut terjadi dalam sebuah konteks sosio-kultural. Para peserta Pilkada, yaitu partai politik, para pasangan calon, baik yang diusung oleh partai politik, maupun independen berhadapan dengan rakyat pemilih, kemudian tim sukses yang bekerja mempromosikan para calon dengan segala cara adalah anggota masyarakat. Semua pihak ini adalah bagian dari kehidupan sosial-budaya suatu komunitas atau masyaraka...

POPULISME

(Gambar: designer.microsoft.com) Tiba-tiba muncul seorang politisi yang mengklaim paling memahami rakyat. Dalam kata-katanya yang enak didengar, bahwa dia siap berdiri paling depan membela rakyat. Partai politik si politisi ini, juga sering sekali menyebut sebagai partai yang berdiri dan bergerak bersama rakyat. Siapa rakyat itu? Semua itu adalah klaim politis untuk mengatakan, politisi dan partai politik yang lain adalah elitis. Ini semua terjadi dalam kompetisi politik elektoral. Itulah fenomena populisme. Gabor Scheiring, profesor ilmu politik pada Universitas Georgetown, dalam sebuah tulisannya yang terbit di Theconversation.com mendefinisikan "populisme" sebagai "ideologi politik yang memposisikan 'rakyat' sebagai kelompok yang adil secara moral dan baik dalam masyarakat, berbeda dengan orang-orang lain yang elitis dan tidak peduli dengan masyarakat." Mark Rice-Oxley dan Ammar Kalia dalam tulisan mereka di Thegurdian.com menyebutkan, "Populisme...

“Jurnal Predator” Pemangsa Harkat Pengetahuan

HASIL  penelitian dua peneliti dari Charles University, Republik Ceko yaitu Vit Machacek dan Martin Srholec yang dirilis di jurnal  Quantitative Science Studie s tahun 2022 yang berjudul "Predatory publishing in Scopus: Evidence on cross-country differences” menempatkan Indonesia pada urutan kedua sebagai negara yang banyak menerbitkan artikel ilmiah di jurnal predator. Namun, jika membaca keseluruhan hasil penelitian Machacek dan Srholec tersebut, ada hal spesifik yang menarik untuk ditinjau selanjutnya, yaitu terkait kategori bidang penelitian. Secara umum, jurnal predator menunjuk pada media terbitan ilmiah yang tidak mengikuti kaidah-kaidah penerbitan karya ilmiah, yaitu antara lain tidak melakukan tinjauan sejawat untuk artikel yang dipublikasikan, dan membantu para peneliti/penulis dengan jalan pintas, yaitu membayar publikasi tanpa syarat yang ketat akademik. Jurnal predator, ya katakanlah semacam bisnis layanan jasa penerbitan karya ilmiah. Selain asal negara, lalu...