Dibuat dengan AI, bing.com |
SUATU malam, mungkin dua minggu dari sekarang, saya mengambil waktu sejenak berdiri di pinggir jalan. Tepatnya, dekat jalan masuk menuju ke rumah sakit Gunung Maria, Tomohon. Posisi saya berada di tempat parkir sebuah minimarket waralaba.
Tersedia buku-buku elektronik tentang sejarah dan budaya Minahasa serta teologi. Tertarik lihat di sini
***
Tomohon kini adalah kota. Sebuah kota di pegunungan Minahasa. Beda tentu dengan kota Manado atau kota Bitung. Tomohon tidak punya pelabuhan. Tapi di sini ada warisan sejarah dan budaya Tombulu, ya Minahasa. Orang-orang Tomohon sangat menghargai warisan budaya leluhurnya. Ada banyak waruga di sini.
Kota Tomohon. Ada walikotanya.
Ada Pilwakonya. Ada dewan kotanya. Konsekuensinya, kesatuan adat, “wanua” atau
desa mesti menjadi kelurahan. Pemimpinnya tidak lagi dipilih oleh komunitas,
tapi berdasarkan penempatan oleh pemerintah. Meski begitu, kelurahan tetap saja
dihidupi sebagai “wanua”.
Leluhur terus hidup dalam ingatan
kolektif komunitas. Itu tampak sekali pada setiap peristiwa kematian. Ada
kebersamaan di bangsal duka, ada “kumawus”, “muntep rendem”, yang semuanya
berlangsung secara “mapalus” untuk menghormati anggota keluarga yang lebih dulu
pergi. Sudah sejak dahulu, tempat peristirahatan terakhir dari leluhur,
“waruga”, kemudian bentuk makam seperti yang umum sekarang adalah penting bagi
komunitas “wanua” untuk merawat ingatan dan relasi sosial yang berdimensi
religius.
Hubungan-hubungan kekerabatan
anggota komunitas berbasiskan pada ingatan kolektif terhadap leluhur. Sejarah
setiap komunitas yang kemudian menjadi identitas merujuk pada leluhur pendiri
“Wanua”. Itulah sehingga Festival Wanua Woloan yang kembali digelar pada
tanggal 9 Agustus lalu menjadi sangat penting, pertama-tama tentang komunitas
setempat, tapi juga dalam kebudayaan Tombulu dan Minahasa secara umum. Sebuah
festival yang berusaha hadir di tengah euforia festival tahunan oleh pemerintah
kota, TIFF.
Tapi, di hari yang sama festival
wanua itu, alat berat sedang menggusur makam-makam tua, tempat para leluhur
orang-orang Woloan tidur dalam keabadian. Lokasi pekuburan tua ini, secara
garis lurus kira-kira hanya berjarak 600 meter dari Amphitheater, tempat
pagelaran Festival Wanua Woloan. Di waktu yang sama sedang terjadi dua
aktivitas yang sungguh sangat kontras. Di Amphiteater ada aktivitas budaya, lalu
di tempat yang sebenarnya menjadi situs bagi orang-orang Woloan justru sedang
terjadi penghancuran ingatan.
Armando Loho, kawan saya pegiat
budaya Woloan dan Tombulu, melalui sambungan telepon mengatakan, kejadian itu
adalah sesuatu yang menyedihkan. Lokasi pekuburan yang sudah ada sejak tahun
1800-an itu sangat berarti bagi komunitas mereka. Sebab, di situ ada makam para
leluhur Woloan. Dari merekalah generasi Woloan kini ada.
“Keluarga-keluarga yang para leluhurnya dimakamkan di situ rencananya akan melakukan gugatan hukum,” kata Armando.
Dalam kosmologi Minahasa, lokasi
pemakaman terhubung secara spiritual dengan wanua. Dahulu, makam dalam bentuk
waruga, rumah jiwa para leluhur. Jenasah dimakamkan dalam posisi seperti janin
di dalam rahim. Metode pemakaman ini tentu berkaitan dengan bagaimana pemahaman
para leluhur tentang kematian sebagai suatu etape dalam melanjutkan kehidupan
secara spiritual.
Para leluhur terus hidup dalam
ingatan komunitas. Mereka dihormati dalam ritual-ritual, selalu diingat ketika
melaksanakan pesta, ataupun ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan
komunitas. Ingatan terhadap leluhur melandasi pewarisan silsilah, sesuatu yang
penting, baik secara sosial maupun spiritual dalam kehidupan berkaum.
Tomohon dan kebudayaan Tombulu,
demikian dengan Woloan sebagai Wanua tertua, ingatan terhadap leluhur adalah
bagian penting dalam merawat kehidupan berkaum. Sebuah tragedi bagi kebudayaan
Tombulu, Woloan, dan Minahasa secara umum, ketika makam-makam leluhur dibongkar
untuk dijadikan bank sampah.
“Natal atau Tahun Baru,
orang-orang Woloan yang leluhurnya dimakamkan di situ pergi ke pekuburan itu
untuk berziarah,” kata Armando.
Natal tinggal berapa bulan.
Kemana lagi generasi keluarga para leluhur di pekuburan itu berziarah? Dalam
tradisi kita orang Minahasa, berziarah lebih dari sekadar kegiatan tahunan
menyambut “hari besar”. Ziarah makam adalah cara untuk merawat hubungan dengan
para leluhur secara spiritual agar ingatan kolektif terus terawat. Makam
mengingatkan tentang asal komunitas secara sosial, dan sekaligus juga tentang bagaimana
sebuah kaum melanjutkan ziarah kehidupannya secara spiritual. (dennipinontoan,
13/08/2024)
Tomohon kini adalah kota. Sebuah kota di pegunungan Minahasa. Beda tentu dengan kota Manado atau kota Bitung. Tomohon tidak punya pelabuhan. Tapi di sini ada warisan sejarah dan budaya Tombulu, ya Minahasa. Orang-orang Tomohon sangat menghargai warisan budaya leluhurnya. Ada banyak waruga di sini.
“Keluarga-keluarga yang para leluhurnya dimakamkan di situ rencananya akan melakukan gugatan hukum,” kata Armando.
Comments
Post a Comment