Skip to main content

Tragedi Kebudayaan pada Makam Leluhur


Dibuat dengan AI, bing.com

SUATU malam, mungkin dua minggu dari sekarang, saya mengambil waktu sejenak berdiri di pinggir jalan. Tepatnya, dekat jalan masuk menuju ke rumah sakit Gunung Maria, Tomohon. Posisi saya berada di tempat parkir sebuah minimarket waralaba.
 
Di seberang jalan, lampu terang benderang dari sejumlah gedung yang berjejer. Ada gedung retail perabotan rumah tangga dan asesoris. Di sebelahnya ada gedung restoran walaraba. Keduanya adalah perusahaan waralaba international. Sebuah gedung tempat fotocopy milik pengusaha lokal tampak terjepit di antara dua gedung itu. Jalanan yang padat dengan kendaraan makin membuat tempat itu benar-benar seperti kota modern.
 
Pada jalan ke arah menuju Tondano dan Kawangkoan, di tengah-tengahnya, patung Tololiu terlihat samar, sesekali cahaya lampu kendaraan mengenai wajahnya. Ia bukan sekadar benda. Patung ini adalah artefak, sebuah teks dan narasi tentang heroisme komunitas ini. Tapi, siapa yang peduli dengan itu ketika semua disibukan dengan politik atas nama modernisasi.
 
Tomohon. Saya ingat ketika pertama kali menetap di sini, tahun 1998. Orang Motoling datang ke kota ini kuliah di sekolah para calon pendeta. Tapi, saya datang bukan untuk jadi pengkhotbah mimbar. Tomohon kala itu sangat sejuk. Bendi ada di mana-mana. Orang berbelanja sembako di pasar, warung-warung, atau di satu minimarket milik pengusaha Tionghoa asal sini.
 
Ada dua bioskop di sini: Sonya dan Nusantara. Orang-orang menonton film Barat, Mandarin, India, dan sudah pasti Indonesia di dua bioskop ini. Untung saya sudah mengenal bioskop sejak sekolah di Kawangkoan, jadi tak heran dengan bau pesing dan tikus-tikus yang ikut menonton.
 
Suatu kali, dari kampus di Kakaskasen saya dan teman-teman hendak ke pusat kota menumpang angkot mikro. Ada orang Kakaskasen di pinggir jalan bersama kami. Saya dengar dia bilang ke sopir, “Tomohon neh om…” Maksudnya, dia akan menuju Tomohon.
 
Tomohon? Orang Kakaskasen ke Tomohon?
 
Nanti di kemudian hari saya paham. Bahwa, Tomohon itu nama administrasi pemerintahan. Salah satu Kecamatan di kabupaten Minahasa. Tomohon juga sebuah identitas kultural. Ini punya sejarahnya yang jauh ke belakang.
 
Ada banyak komunitas adat di sini. Orang Minahasa menyebutnya “walak”. Tombulu adalah nama Etnis. Masing-masing-masing punya wilayah dan pemerintahan adatnya sendiri-sendiri. Tapi semuanya adalah Tombulu: adalah Minahasa.


Tersedia buku-buku elektronik tentang sejarah dan budaya Minahasa serta teologi. Tertarik lihat di sini 
***
Tomohon kini adalah kota. Sebuah kota di pegunungan Minahasa. Beda tentu dengan kota Manado atau kota Bitung. Tomohon tidak punya pelabuhan. Tapi di sini ada warisan sejarah dan budaya Tombulu, ya Minahasa. Orang-orang Tomohon sangat menghargai warisan budaya leluhurnya. Ada banyak waruga di sini.
 
Kota Tomohon. Ada walikotanya. Ada Pilwakonya. Ada dewan kotanya. Konsekuensinya, kesatuan adat, “wanua” atau desa mesti menjadi kelurahan. Pemimpinnya tidak lagi dipilih oleh komunitas, tapi berdasarkan penempatan oleh pemerintah. Meski begitu, kelurahan tetap saja dihidupi sebagai “wanua”.
 
Leluhur terus hidup dalam ingatan kolektif komunitas. Itu tampak sekali pada setiap peristiwa kematian. Ada kebersamaan di bangsal duka, ada “kumawus”, “muntep rendem”, yang semuanya berlangsung secara “mapalus” untuk menghormati anggota keluarga yang lebih dulu pergi. Sudah sejak dahulu, tempat peristirahatan terakhir dari leluhur, “waruga”, kemudian bentuk makam seperti yang umum sekarang adalah penting bagi komunitas “wanua” untuk merawat ingatan dan relasi sosial yang berdimensi religius.
 
Hubungan-hubungan kekerabatan anggota komunitas berbasiskan pada ingatan kolektif terhadap leluhur. Sejarah setiap komunitas yang kemudian menjadi identitas merujuk pada leluhur pendiri “Wanua”. Itulah sehingga Festival Wanua Woloan yang kembali digelar pada tanggal 9 Agustus lalu menjadi sangat penting, pertama-tama tentang komunitas setempat, tapi juga dalam kebudayaan Tombulu dan Minahasa secara umum. Sebuah festival yang berusaha hadir di tengah euforia festival tahunan oleh pemerintah kota, TIFF.
 
Tapi, di hari yang sama festival wanua itu, alat berat sedang menggusur makam-makam tua, tempat para leluhur orang-orang Woloan tidur dalam keabadian. Lokasi pekuburan tua ini, secara garis lurus kira-kira hanya berjarak 600 meter dari Amphitheater, tempat pagelaran Festival Wanua Woloan. Di waktu yang sama sedang terjadi dua aktivitas yang sungguh sangat kontras. Di Amphiteater ada aktivitas budaya, lalu di tempat yang sebenarnya menjadi situs bagi orang-orang Woloan justru sedang terjadi penghancuran ingatan.
 
Armando Loho, kawan saya pegiat budaya Woloan dan Tombulu, melalui sambungan telepon mengatakan, kejadian itu adalah sesuatu yang menyedihkan. Lokasi pekuburan yang sudah ada sejak tahun 1800-an itu sangat berarti bagi komunitas mereka. Sebab, di situ ada makam para leluhur Woloan. Dari merekalah generasi Woloan kini ada.
 
“Keluarga-keluarga yang para leluhurnya dimakamkan di situ rencananya akan melakukan gugatan hukum,” kata Armando.
 
Dalam kosmologi Minahasa, lokasi pemakaman terhubung secara spiritual dengan wanua. Dahulu, makam dalam bentuk waruga, rumah jiwa para leluhur. Jenasah dimakamkan dalam posisi seperti janin di dalam rahim. Metode pemakaman ini tentu berkaitan dengan bagaimana pemahaman para leluhur tentang kematian sebagai suatu etape dalam melanjutkan kehidupan secara spiritual.
 
Para leluhur terus hidup dalam ingatan komunitas. Mereka dihormati dalam ritual-ritual, selalu diingat ketika melaksanakan pesta, ataupun ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan komunitas. Ingatan terhadap leluhur melandasi pewarisan silsilah, sesuatu yang penting, baik secara sosial maupun spiritual dalam kehidupan berkaum.
 
Tomohon dan kebudayaan Tombulu, demikian dengan Woloan sebagai Wanua tertua, ingatan terhadap leluhur adalah bagian penting dalam merawat kehidupan berkaum. Sebuah tragedi bagi kebudayaan Tombulu, Woloan, dan Minahasa secara umum, ketika makam-makam leluhur dibongkar untuk dijadikan bank sampah.  
 
“Natal atau Tahun Baru, orang-orang Woloan yang leluhurnya dimakamkan di situ pergi ke pekuburan itu untuk berziarah,” kata Armando.
 
Natal tinggal berapa bulan. Kemana lagi generasi keluarga para leluhur di pekuburan itu berziarah? Dalam tradisi kita orang Minahasa, berziarah lebih dari sekadar kegiatan tahunan menyambut “hari besar”. Ziarah makam adalah cara untuk merawat hubungan dengan para leluhur secara spiritual agar ingatan kolektif terus terawat. Makam mengingatkan tentang asal komunitas secara sosial, dan sekaligus juga tentang bagaimana sebuah kaum melanjutkan ziarah kehidupannya secara spiritual. (dennipinontoan, 13/08/2024)

Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...