Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2016

Muhammad Ali di Masa Kecil: “Kecupan Manis di Minggu Pagi itu”

Suatu Minggu pagi pada akhir tahun 1940. Di sebuah kamar rumah keluarga kulit hitam di Louisville, Kentucky, Amerika, dua bocah kakak beradik masih saja belum beranjak dari tempat tidur. Seorang perempuan, kira-kira berusia 30-an tahun masuk ke kamar mereka. Dia mendekati dua bocah itu dan memberi kecupan manis di dahi mereka.  "Bangun bayi kecil, bangun Rudy, kita akan bersyukur kepada Tuhan!" kata perempuan itu kepada mereka.  Sang kakak bernama Cassius Marcellus Clay, jr. Sang adik adalah Rudy Clay. Perempuan yang telah memberi kecupan itu adalah ibu mereka yang bernama   Odessa Grady Clay . Nama sang kakak diambil dari nama ayah mereka, sehingga dibelakang namanya ditambahkan ‘jr’ (junior). Sang ibu kadang-kadang memanggil Cassius dengan sebutan “GG”. Menurut  Cassius  sendiri, ibunya memanggil dia dengan sebutan itu, karena ‘GG” adalah kata pertama yang diucap ketika pertama kali bicara.  Ibu mereka, Odessa adalah seora...

Pernikahan Dini Gandhi dan Kasturbai

Gandhi dan Kasturbai. Sumber Foto: Gandhi: Sebuah Otobiografi Porbandar, India suatu hari di tahun 1883. Seorang remaja laki-laki, usianya baru 13 tahun deg-degan menghadapi hari pernikahannya. Rumah orang tuanya, selama berminggu-minggu ramai dengan tetangga yang mempersiapkan segala hal untuk hari perkawinan. Seorang perempuan, juga masih remaja sudah disiapkan oleh keluarga untuk menjadi calon istrinya. Remaja itu adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Calon istrinya bernama Kasturbai. Mereka sebaya. Cuma saja Gandhi dapat bersekolah, sementara Kasturbai, sampai menikah masih buta huruf. Pasangan ini berasal dari kota yang sama, yaitu Porbandar sebuah kota pesisir di bagian Gujarat India. “Saya dikawinkan, bukanlah bertunangan,” tulis Gandhi dalam Gandhi: Sebuah Otobiografi (1975, 1982). Gandhi tidak sedang dipersiapkan untuk bertunangan, tapi benar-benar akan menikah. Pertunangan dan perkawinan, kata Gandhi, dalam tradisi umum di India jelas-jelas berbeda. Pertunang...

Rokok dan Perang

Sumber: http://houel.perso.neuf.fr/ Minahasa , Sulawesi Utara tahun 1946. Soekarno dan Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Di zaman Belanda, banyak orang Minahasa yang menjadi tentara KNIL. Ketika Jepang menyerah, kekuasaan beralih ke Nica. Kemudian Belanda mau berkuasa lagi. Tentara KNIL Minahasa punya pengalaman diskriminasi dari tentara KNIL Belanda.    Diskriminasi dalam bentuk pembedaan pembagian jatah ransum dan rokok. Tentara KNIL Minahasa mendapat jatah beras sisa-sisa perang, sedangkan tentara KNIL Belanda mendapat jatah beras yang baru. “Jatah rokok KNIL Belanda mendapat Lucky Strike, KNIL pribumi Homare dan Kinsi, rokok Jepang,” tulis H.B. Palar dalam bukunya, Minahasa Benteng Terakhir NKRI (2009). Pembedaan pembagian jatah tersebut, tampaknya berhubungan dengan diskriminasi rasial sejak zaman Belanda berkuasa. “Diskriminasi rasial yang senantiasa ada dalam seluruh sejarah KNIL,” tulis R.Z. Leirissa da...

Kema, Kota Pelabuhan Tua

Kema adalah nama sebuah kota pelabuhan tua yang terletak di pesisir pantai Timur Minahasa. Nama Kema sudah dikenal sejak kedatangan Spanyol di Minahasa abad 16. Pelabuhan Kema menjadi saksi perjumpaan orang-orang Minahasa dengan Eropa untuk pertama kali. Harry Kawilarang, dalam tulisannya berjudul, Dari Quimas menjadi Kema yang dipublikasikan di situs theminahasa.net menyebutkan, nama Kema dikaitkan dengan pembangunan pangkalan militer Spanyol ketika Bartholomeo de Soisa mendarat pada 1651 dan mendirikan pelabuhan di daerah yang disebutnya ‘La Quimas.’ Letak benteng Spanyol berada di muara sungai Kema, yang disebut oleh Belanda, "Spanyaards-gat," atau Liang Spanyol. September 1855, Pieter Bleeker, seorang dokter dan ahli ikan dari Belanda tiba di Manado dan naik ke pedalaman Minahasa mengunjungi beberapa tempat. Tanggal 22 September 1855 dari Tondano, Bleeker menuju ke Kema. Dari pelabuhan Kema ia akan ke Ambon. Dia dan beberapa orang lainnya berangkat ke Kema p...