Skip to main content

Kopra di Minahasa dan Pemberontakan Permesta


Pengeringan kopra di Minahasa tahun 1938. 
ORANG-orang Minahasa pernah merasakan masa-masa melimpah dengan harga kopra yang tinggi. Ekspor kopra melalui perusahaan-perusahaan asing yang membuka cabang di Manado di mulai awal abad 20.

“Pada masa itu petani kopra Minahasa banyak menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya seperti membeli kendaraan bermotor,” tulis Effendy Wahyono dalam Pembudiyaan dan Perdagangan Kelapa di Minahasa, 1870-1941, tesisnya di UI tahun 1996.

Budidaya kelapa di Minahasa secara massal dimulai tahun 1870. Namun produksi kopra nanti dimulai tahun 1880.

The Foreign and Commonwealth Office (FCO) atau Foreign Office, Inggris dalam Celebes, terbit tahun 1919 menuliskan,  pada tahun 1917 semua gudang di Menado penuh dengan kopra karena harga turun. Sementara para pembeli tetap menerima kopra dari petani dan mengirimnya ke  Makassar.  “Prospek masa depan sangat bergantung pada jenis yang diproduksi, karena Amerika hanya menginginkan yang terbaik,” tulis Foreign Office.

Disebutlah pula, Oliefabrike Insulinde, perusahaan yang memproduksi minyak kelapa dan margarin yang berpusat di  Amsterdam sedang berencana membuat pabrik di Manado.

Pada tahun 1915, dari jumlah 150 ton kopra yang diekspor dari Hindia Belanda untuk pasar internasional, 25.000 ton berasal dari Gorontalo, Manado dan Sangihe, lainnya dari Jawa, Makassar dan Padang. Sementara total produksi kopra dunia sebesar 600.000 ton. “Dari jumlah itu, sekitar 25 persennya berasal dari Hindia Belanda,” tulis Wahyono.

Di masa booming harga kopra tahun 1920-an dan 1930-an, petani-petani kelapa di Minahasa, lanjut Wahyono, memperoleh pinjaman dari pedagang perantara dengan jaminan penyerahan kopra setelah masa panen. Akibatnya, banyak petani yang terlilit hutang. “Ketika harga kopra turun, petani tidak lagi mampu membayar hutang-hutangnya beserta bunganya yang umumnya di atas 6 persen setiap masa panen,” beber Wahyono. Krisis harga kopra terjadi pada tahun 1940 akibat pecahnya Perang Dunia ke-II.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Hindia Belanda, melalui Direktur Urusan Ekonomi kemudian membentuk Het Copra Fonds atau yang lebih dikenal dengan nama Yayasan Kopra. Dengan maksud awal untuk menjaga kestabilan harga, maka hingga tahun 1950-an, Yayasan Kopra adalah pemegang kendali penetapan harga dan perdagangan kopra di Minahasa.

Nieuwe Courant edisi 12 Juli tahun 1951 mengumumkan kebijakan Yayasan Kopra menurunkan harga kopra per Agustus dari  Rp. 130 per kwintal menjadi Rp. 115. Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 22 April  1954 mengumumkan harga pembelian kopra di Indonesia Timur yang ditetapkan oleh Yayasan Kopra per 16 April, yaitu sebesar Rp-120.- per kuintal. “Harga ini dijamin hingga 15 Mei,” tulis Het Nieuwsblad voor Sumatra.   

Harga pada September 1953 di Indonesia Timur adalah Rp. 125 per 100 kg. Sekitar dua bulan sebelum pembubaran Yayasan Kopra, menurut berita Java-Bode edisi 29 Februari 1956 harga kopra yang ditetapkan senilai Rp. 140 per kwintal. Harga itu berlaku mulai tanggal 1 Maret.     

Yayasan Kopra akhirnya dinyatakan gagal mengatur tata niaga kopra yang berpihak kepada petani. Sebabnya adalah utang. “Utang Yayasan Kopra mencapai Rp102.146.702,99,” tulis  A. Rasyid Asba dalam Integrasi Ekspor Makassar di Antara Kontinuitas dan Diskontinuitas termuat dalam Makara Vol. 10, No. 2, Desember2006.

Kegiatan Yayasan Kopra resmi dihentikan pada tanggal 31 Mei 1956 berdasarkan Surat Keputusan Menteri No. 6722 /M.  Mengutip arsip Saleh Laheda, Asba melanjutkan, kehancuran Yayasan Kopra disebabkan oleh terlalu tingginya berbagai pengeluaran yang harus ditanggung. Pengeluaran  tersebut antara lain, biaya keamanan Propinsi Sulawesi 30%, biaya operasi kepolisian 30 % dan 40 % untuk pembangunan sosial. 

Pengeluaran-pengeluaran ini bertentangan dengan apa yang diatur dalam anggaran dasar yayasan.  Antara lain diatur,  “25 % untuk cadangan, 20 % anggota penyimpanan, 25 % untuk para pemakai jasa Yayasan, dan masing-masing 5 % untuk dana pegawai, pendidikan, sosial, dan 10 % untuk pengembangan Yayasan,” tulis Asba.

Java-Bode edisi 05 Juli 1957 dalam berita tentang penyegelan kantor pusat Yayasan Kopra di Jakarta menyebutkan tentang ditemukannya ketidakberesan dalam kebijakan keuangan pada yayasan itu.

Di kemudian hari, dalam tajuknya di Harian Indonesia Raya edisi 1 Februari 1969, Mochtar Lubis menyatakan, keberadaan Yayasan Kopra tersebut hanyalah untuk memperkaya beberapa orang di Jakarta dan di daerah. “Rakyat petani malahan hanya disuruh memegang bon-bon utang yayasan bertahun-tahun lamanya,” tegas Lubis seperti termuat dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya

Sebab semua itu adalah dominasi perdagangan kopra oleh negara. G.S.S.J. Ratu Langie sebagai gubernur Sulawesi waktu itu, seperti dikutip Abas mengatakan, “perilaku politik perkopraan merupakan dominasi kekuasaan yang jauh lebih dahsyat daripada zaman kolonial.”

Tanggal 2 Maret 1957 di Makassar Ventje Sumual, Andi Pangerang Petta, dan 50-an lainnya tokoh militer dan sipil Indonesia Timur memproklamasikan Perjuangan Semesta atau Permesta. Salah satu tuntutan dalam Piagam Permesta adalah otonomi seluas-luasnya.

Pemicu utamanya adalah ketidakadilan yang dibuat oleh pusat terhadap daerah dalam bidang ekonomi dan politik. Abdul Muluk, tokoh Masyumi dan bekas Pejabat di Konjen RI London, salah satu penandatangan piagam Permesta, beberapa bulan setelah proklamasi itu mengatakan, Permesta hadir untuk, “ pemulihan hak-hak Indonesia Timur, yang haknya selama 12 tahun kemerdekaan tidak dihormati,” tulis Java-Bode edisi 29 Agustus 1957.

Permesta menolak monopoli perdagangan kopra oleh pemerintah dan menuntut 70 persen hasil perdagangan kopra untuk daerah dan 30 persen sisanya untuk pemerintah pusat seperti yang tertuang dalam piagam Permesta. Sejak tahun 1955, sistem barter secara langsung dengan pembeli internasional itu telah menjadi kehendak daerah-daerah. Tapi itu tidak diindahkan oleh pemerintah pusat. 

Maka, Permesta melakukan itu. Sebetulnya, di Minahasa perdagangan langsung ke pasar internasional kopra sudah dilakukan sebelum Permesta diproklamasikan. Monopoli oleh Yayasan Kopra dilawan dengan menggunakan cara-cara penyeludupan.

“Sejak September 1954, Panglima Warouw mengizinkan ekspor kopra tanpa melalui prosedur yang biasa,” tulis R. Z. Leirissa dalam PRRI, Permesta: Strategi Membangun Indonesia tanpa Komunis. Kolonel Y.P. Warouw kelak menjadi Wakil Perdana Menteri PRRI/Permesta.

Sistem barter ini sebetulnya cukup menguntungkan masyarakat Minahasa. “Perekonomian berubah cepat seperti hasil sulapan saja. Kemakmuran tampak muncul mendadak, laksana khasiat lampu Aladin. Maklum perdagangan kopra waktu – sebagai komoditi primadona daerah Nyiur Melambai – dilakukan dengan sistem barter langsung dengan luar negeri,” kata Phill M. Sulu menggambarkan suasana di Minahasa jelang pergolakan Permesta tahun 1957 dalam Permesta, Jejak-jejak Pengembaraan.

Tapi, seperti harga kopra yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi internasional, nasib Permesta rupanya juga demikian. Cita-cita Permesta kandas di masa Perang Dingin. Setelah itu, petani kelapa di Minahasa memasuki ganasnya kekuatan kapitalisme yang berkolaborasi secara baik dengan rezim orde baru. Petani kelapa di Minahasa tidak pernah berdaulat atas miliknya, akibatnya harga kopra sering jatuh anjlok.

Sementara, di warung-warung semakin banyak minyak kelapa sawit dalam kemasan menarik dijual. Itu yang dibeli oleh petani kelapa atau masyarakat Minahasa umumnya beberapa puluh tahun setelah Permesta.


______________
Artikel ini ditulis oleh Denni H.R. Pinontoan. Saran dan masukan silakan dikirim ke alamat email dpinontoan6@gmail.com. Pengutipan untuk penelitian atau penulisan artikel, harap mencantumkan nama 'Denni H.R. Pinontoan'. Pihak yang akan mengutip keseluruhan artikel untuk diterbitkan di media lain atau untuk kepentingan komersil lainnya, harap terlebih dahulu menghubungi penulis. 

Makase banyak.



Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

'Kukis Brudel', Kue dari Belanda yang Populer di Minahasa

Kue Brudel dari Belanda, diperkenalkan di Hindia Belanda oleh Nonna Cornelia dalam buku resepnya, di Minahasa kue jenis ini sangat populer   SETIAP mendekati ‘Hari Besar”, Natal dan Tahun Baru atau acara-acara tertentu, orang-orang Minahasa pasti akan mengingat kukis (kue) yang satu ini: brudel. Kukis brudel dapat dinikmati setelah makan rupa-rupa lauk-pauk dalam pesta-pesta. Juga sangat pas dinikmati bersama kopi atau teh hangat.     Dari mana asal kukis brudel ini? Orang-orang akan menjawab, dari Belanda. Dari zaman kolonial. Tapi bagaimana kisahnya? Resep kukis (kue) brudel atau dalam bahasa Belanda ditulis broeder sudah muncul dalam sebuah resep masakan tahun 1845. Pengarangnya bernama Nonna Cornelia. Buku karangannya yang berjudul Kokki Bitja ataoe Kitab Masakan India diterbitkan dalam bahasa Melayu dicampur bahasa Belanda. Pertama kali terbit tahun tahun 1845, lalu terbit lagi dalam edisi revisi tahun 1859.     “Ambil doea deeg, ...