BLOG ini saya kelola secara pribadi. Saya, Denni H.R. Pinontoan. Memiliki minat membaca dan menulis. Sekarang ini tinggal bersama
keluarga di Kota Tomohon. Istri saya, Erny A.Jacob, SE. Dua anak kami: Teresa Karema Maria dan Kevin Kamang Jacob.Perjalanan pendidikan saya dimulai di tanah Minahasa. Saya menempuh pendidikan sekolah dasar kelas 1 hingga kelas 3 di SD GMIM Motoling. Setelah itu saya pindah ke Kawangkoan dan melanjutkan pendidikan kelas 4 hingga kelas 6 di SD GMIM 1 Kawangkoan. Saya kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Kristen Motoling dan menyelesaikannya pada 1992.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, saya melanjutkan ke SMA Negeri Motoling. Saya menempuh kelas 1 hingga beberapa minggu pertama di kelas 3 di sekolah tersebut. Setelah itu saya pindah ke Kawangkoan dan melanjutkan pendidikan di SMA Nasional Kawangkoan hingga tamat pada 1995. Perpindahan sekolah dari Motoling ke Kawangkoan menjadi bagian dari pengalaman hidup saya sejak masa remaja. Saya mengalami langsung dua lingkungan sosial yang memiliki hubungan kuat dalam kehidupan kebudayaan Minahasa. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu latar yang membentuk perhatian saya terhadap agama, kebudayaan, sejarah, dan kehidupan masyarakat.
Saya baru memasuki perguruan tinggi pada 1998. Saya memilih Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia di Tomohon, atau UKIT. Di Fakultas Teologi UKIT inilah perjalanan akademik dan intelektual saya mulai menemukan bentuknya. Saya belajar teologi sekaligus berhadapan dengan berbagai persoalan gereja, masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan manusia.
Selama menjadi mahasiswa, ketertarikan saya terhadap dunia tulis-menulis dan media semakin berkembang. Pada 2002 saya dipercaya mengelola media terbitan Fakultas Teologi UKIT yang bernama Inspirator. Pengalaman ini menjadi salah satu pintu masuk penting bagi saya ke dalam dunia jurnalistik dan penerbitan. Mengelola sebuah media mengajarkan saya bagaimana menulis, menyunting, memilih isu, mengembangkan gagasan, dan menyampaikan informasi kepada publik. Dari pengalaman tersebut saya mulai memahami media bukan sekadar alat penyampai informasi, tetapi juga ruang pembentukan pemikiran dan komunikasi dengan masyarakat.
Saya menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Teologi UKIT pada 2003. Setahun kemudian, pada 2004, saya mulai memasuki dunia akademik sebagai asisten dosen di Fakultas Teologi UKIT. Dari posisi tersebut saya kemudian dipercaya menjadi dosen luar biasa. Pengalaman mengajar mempertemukan saya secara lebih dekat dengan dunia pendidikan teologi dan sekaligus mendorong saya untuk terus mengembangkan kemampuan akademik.
Pada periode yang sama saya juga memasuki dunia jurnalistik secara lebih serius. Setelah lulus dari Fakultas Teologi UKIT, saya bekerja sebagai wartawan dan kemudian menjadi redaktur pelaksana di Radio Sion Tomohon. Pengalaman sebagai wartawan membawa saya berhadapan langsung dengan berbagai realitas kehidupan masyarakat. Saya belajar bahwa kehidupan sehari-hari menyimpan begitu banyak cerita tentang manusia, agama, politik, kebudayaan, perubahan sosial, dan berbagai persoalan yang sering kali tidak terlihat dari ruang akademik.
Pada 2006 saya bekerja di Yayasan Suara Nurani. Dalam perjalanan di lembaga tersebut, saya kemudian dipercaya menjadi pimpinan Radio Suara Minahasa. Dunia radio memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Radio bukan hanya media penyampai informasi, tetapi juga ruang perjumpaan dengan masyarakat. Melalui radio saya belajar mendengar suara masyarakat, memahami persoalan mereka, dan melihat bagaimana media dapat memainkan peran dalam kehidupan sosial dan kebudayaan.
Pada 2008 saya menjadi dosen tetap di Fakultas Teologi UKIT dan menjalani tugas tersebut hingga 2020. Selama menjadi dosen tetap, saya tidak hanya menjalankan tugas pengajaran, tetapi juga terlibat dalam kehidupan kelembagaan dan pengembangan akademik. Saya pernah dipercaya menjabat sebagai Plt. Wakil Rektor III UKIT. Saya kemudian juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Teologi UKIT.
Bagi saya, perjalanan dari mahasiswa, pengelola media Inspirator, wartawan, redaktur pelaksana, pimpinan radio, asisten dosen, dosen luar biasa, hingga dosen tetap dan pejabat struktural di lingkungan UKIT merupakan pengalaman yang saling berkaitan. Dunia jurnalistik membuat saya dekat dengan realitas sosial, sementara pendidikan teologi memberikan kerangka untuk merefleksikan realitas tersebut. Keduanya kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektual saya.
Pada 2010 saya menyelesaikan pendidikan Magister Teologi pada Program Pascasarjana Teologi Universitas Kristen Indonesia di Tomohon. Pendidikan magister memperkuat dasar akademik saya sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian dan penulisan.
Ketertarikan saya pada dunia jurnalistik terus saya kembangkan. Pada 2011 saya mengikuti kursus jurnalisme sastrawi di Pantau, Jakarta. Pengalaman ini penting dalam perjalanan kepenulisan saya. Saya belajar bahwa jurnalistik bukan hanya soal kecepatan menyampaikan berita, tetapi juga tentang kemampuan memahami manusia, pengalaman, konteks, dan detail kehidupan. Jurnalisme sastrawi kemudian turut memengaruhi cara saya menulis buku, esai, dan berbagai karya reflektif.
Setelah menjalani pengalaman panjang di bidang pendidikan teologi, jurnalistik, media, dan kelembagaan akademik, saya terus mengembangkan perhatian pada agama, kebudayaan, sejarah, dan masyarakat. Perhatian tersebut kemudian semakin terlihat dalam karya-karya buku yang saya tulis maupun yang saya sunting.
Pada 2013 saya menerbitkan Gereja yang Berpijak dan Berpihak. Pada tahun yang sama saya menjadi salah satu editor Memerdekakan Tou Minahasa: Kumpulan Pemikiran Kaum Muda Minahasa, bersama Rikson Ch. Karundeng dan Meidy Y. Tinangon. Saya juga menjadi bagian dari tim editor Melayani Gereja dan Masyarakat secara Utuh: Buku Penghormatan 80 Tahun Pdt. Prof. Dr. Wilhelmus Absalom Roeroe. Tahun 2013 menjadi salah satu periode penting karena perhatian saya terhadap gereja, masyarakat, Minahasa, dan kerja intelektual mulai tampil dalam berbagai bentuk publikasi.
Pada 2015 saya menjadi editor buku Semangat yang Tak Pernah Padam, yang diterbitkan UKIT Press. Pada 2016 saya bersama Karolina Augustien Kaunang menerbitkan Misi dalam Konteks Globalisasi dan Posmodern: Buku Penghargaan 25 Tahun Pdt. Dr. RAD Siwu, MA, PhD sebagai Akademisi. Pada 2017 saya bersama Karolina Augustien Kaunang menerbitkan Teologi Perjumpaan: Pengalaman, Gagasan dan Refleksi. Pada tahun yang sama saya juga menjadi editor Pembaharuan Tanpa Titik: Sejarah, Refleksi dan Rekonstruksi Reformasi Martin Luther, yang diterbitkan dalam rangka 500 tahun Reformasi Martin Luther dan Dies Natalis ke-55 Fakultas Teologi UKIT.
Pada 2018 saya terlibat sebagai editor dalam Misi Lintas Budaya, bersama Karolina Augustien Kaunang dan Lientje Kaunang. Saya juga menjadi bagian dari tim editor Wale Pakasaan: Misi yang Berakar, Bertumbuh dan Menghidupkan, buku penghormatan bagi 70 tahun Pdt. Dr. Richard Adolf Daniel Siwu.
Memasuki 2019, perhatian saya semakin kuat pada hubungan antara agama, sejarah, dan kebudayaan Minahasa. Saya menerbitkan Walian dan Tuang Pandita: Perjumpaan Agama Minahasa dan Agama Kristen pada Abad XIX. Buku ini menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan saya menelusuri perjumpaan antara agama Minahasa dan kekristenan dalam konteks sejarah abad XIX. Pada tahun yang sama saya juga menulis sejumlah bab buku mengenai agama, pembangunan berkeadilan, serta agama tua Minahasa dalam mitos, ritus, dan kultus. Dalam CV saya tercatat sejumlah publikasi buku, bab buku, dan artikel jurnal dalam periode 2019–2024.
Pada 2020 saya menulis mengenai makna ungkapan Pakatuan wo Pakalawiren dalam praktik religi-kultural Minahasa. Saya juga menulis mengenai politik multikulturalisme dalam masyarakat majemuk serta Manguni and Christian Nationalism (in) Minahasa. Pada tahun yang sama saya menulis tentang ritual Mahtambulelen dan kekristenan di Minahasa. Saya juga terlibat dalam kajian mengenai respons Gereja Minahasa terhadap pandemi COVID-19.
Pada 2021 saya menerbitkan Endo Wangko: Narasi dan Refleksi Seputar Perayaan Natal-Tahun Baru dalam Sejarah dan Tradisi di Minahasa. Saya juga menjadi editor buku Perempuan Minahasa dan Pendidikan. Perhatian saya pada sejarah perempuan, pendidikan, tradisi, dan kehidupan keagamaan masyarakat Minahasa semakin berkembang.
Pada 2022 saya menerbitkan Perempuan Minahasa Melawan Kolonialisme, yang mengangkat perjuangan Maria Walanda Maramis dan PIKAT di bidang pendidikan dan politik. Saya juga menjadi salah satu penulis dalam Penjaga Seni Tradisi Minahasa. Pada periode ini saya menulis mengenai rekonstruksi pendidikan kristiani holistik pada era digital melalui warisan nilai sistem pendidikan anak piara di Minahasa. Saya juga menulis tentang masyarakat digital, kehendak bebas, agama, dan makna sosio-religi-kultural dapur dalam masyarakat Minahasa.
Pada 2023 saya menyelesaikan pendidikan Doktor Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray Makassar. Tahun ini juga menjadi periode produktif dalam penulisan. Saya menerbitkan Tuhan ke Mana? Manusia, Agama dan Bencana, Kebudayaan Masa Antara, dan Seni Pertunjukan Wolay di Desa Poopo, Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan. Saya juga menjadi salah satu penulis dalam Politik Identitas. Selain itu, saya menerbitkan karya mengenai perempuan Minahasa dalam sejarah pekabaran Injil pada masa kolonial. Pada tahun yang sama saya menjadi narasumber dalam The AIFIS-MSU Conference on Indonesian Studies 2023.
Pada 2024 saya menerbitkan Festival Kuncikan dalam Diskursus Kristen Kultural Minahasa: Perspektif Sosiologi, Teologi dan Pendidikan Agama Kristen bersama Semuel Selanno, Ivan R. B. Kaunang, dan Meily M. Wagiu, sekaligus menjadi editornya. Saya juga menerbitkan artikel Contextual Christology in the phrase ‘apo isa elmaseh’ and the word ‘opo’ dalam jurnal internasional Q1 Verbum et Ecclesia. Karya tersebut menunjukkan perhatian saya terhadap kristologi kontekstual dan usaha membaca iman Kristen melalui ungkapan dan konsep yang hidup dalam kebudayaan Minahasa.
Pada 2025 saya menerbitkan Dari Aurich ke Tomohon: Kehidupan dan Karya Nicolaas Philip Wilken (1813–1878) serta Dalam Kemelut Perang. Dari Aurich ke Tomohon kemudian juga tersedia dalam format digital PDF. Melalui karya-karya ini perhatian saya semakin diarahkan pada sejarah, tokoh, ingatan, dan dinamika kekristenan dalam perjalanan masyarakat Minahasa.
Pada 2026 saya kembali terlibat dalam kerja editorial melalui buku Pendidikan Agama Kristen di Sekolah: Fondasi, Praksis, dan Transformasi karya Devis Oktavianus Pinontoan. Saya menjadi editor untuk edisi cetak maupun digital buku tersebut. Bagi saya, keterlibatan dalam karya ini merupakan kelanjutan dari perhatian saya terhadap pendidikan agama Kristen dan tantangan perubahan zaman.
Dalam perjalanan akademik saya, saya juga aktif mengajar di IAKN Manado. Mata kuliah yang pernah saya ajarkan antara lain Fenomenologi Agama, Injil dan Kebudayaan, Analisis Sosial Keagamaan, Agama Suku, Agama Virtual, Moderasi Beragama, Kajian Budaya Lokal, Teologi Agama-Agama, Komunikasi Sosial, dan Latihan Penyusunan Penelitian Sosiologi Agama.
Saya juga mengikuti berbagai kegiatan pengembangan profesional. Pada 2014 saya mengikuti Sekolah Pengelolaan Keragaman yang diselenggarakan CRCS UGM. Pada 2018 saya mengikuti TOT tentang Agama, Kerukunan dan Binadamai di Indonesia yang dilaksanakan PUSAD Paramadina dan Kementerian Agama RI. Pada 2023 saya mengikuti Orientasi Pelopor Moderasi Beragama IAKN Manado.
Dalam berbagai forum, saya juga mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Pada 2018 saya menjadi narasumber dalam Burma/Myanmar–Indonesia Forum mengenai peran pemerintah dan masyarakat sipil dalam melindungi dan mempromosikan kebebasan beragama, toleransi, serta menanggulangi ekstremisme kekerasan. Pada 2023 saya menjadi narasumber dalam The AIFIS-MSU Conference on Indonesian Studies.
Dalam perjalanan berikutnya, saya menjalankan tugas sebagai dosen di Institut Agama Kristen Negeri Manado dan dipercaya sebagai Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya LP2M. Posisi ini semakin mempertemukan pengalaman akademik saya dengan perhatian yang sejak lama saya kembangkan terhadap agama dan kebudayaan.
Jika saya melihat kembali perjalanan hidup saya, saya menyadari bahwa pengalaman sebagai mahasiswa teologi, pengelola media Inspirator, wartawan, redaktur pelaksana, pimpinan radio, asisten dosen, dosen luar biasa, dosen tetap, pejabat struktural perguruan tinggi, peneliti, penulis, dan editor bukanlah pengalaman yang berdiri sendiri. Semuanya saling membentuk dan memberi warna pada cara saya berpikir dan bekerja.
Jurnalistik mengajarkan saya untuk mendengar suara masyarakat dan berhadapan langsung dengan kenyataan. Radio mengajarkan saya pentingnya komunikasi dan kedekatan dengan publik. Teologi mengajarkan saya untuk merefleksikan kenyataan secara kritis dan mendalam. Kajian kebudayaan mengajarkan saya untuk menghargai pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat. Sedangkan dunia akademik memberi saya ruang untuk menguji, mendiskusikan, dan mengembangkan gagasan-gagasan tersebut.
Karena itu, karya-karya saya kemudian bergerak di sekitar agama, gereja, kebudayaan, sejarah, pendidikan, masyarakat, perempuan, identitas, dan perubahan sosial. Saya melihat bidang-bidang tersebut bukan sebagai wilayah yang terpisah. Justru perjumpaan di antara semuanya menjadi ruang utama bagi saya untuk berpikir dan menulis.
Saya menaruh perhatian khusus pada Minahasa karena di dalam sejarah dan kebudayaannya terdapat pengalaman panjang mengenai perjumpaan. Ada perjumpaan antara agama Minahasa dan kekristenan, antara tradisi dan modernitas, antara masyarakat lokal dan kekuatan kolonial, antara gereja dan kebudayaan, antara identitas dan perubahan sosial. Perjumpaan-perjumpaan tersebut selalu menyimpan pertanyaan teologis, sosiologis, historis, dan kebudayaan yang menarik untuk terus dikaji.
Bagi saya, menulis adalah cara untuk merawat ingatan, membaca kenyataan, dan membuka kemungkinan bagi masa depan. Menulis juga merupakan cara untuk menghadirkan kembali pengalaman masyarakat yang mungkin terlupakan, mengajukan pertanyaan terhadap sejarah, serta membuka percakapan baru tentang kehidupan manusia.
Saya percaya bahwa pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang akademik. Pengetahuan perlu kembali kepada masyarakat, berdialog dengan pengalaman hidup, dan membantu manusia memahami dunia sosial dan kebudayaannya secara lebih kritis dan reflektif. Karena itu, saya berusaha menjadikan penelitian, pengajaran, jurnalistik, penulisan, penyuntingan, dan kerja kebudayaan sebagai bagian dari satu perjalanan intelektual yang saling berhubungan.
Perjalanan saya masih berlangsung. Dari Motoling dan Kawangkoan, ke ruang pendidikan teologi di Tomohon, ke dunia jurnalistik dan radio, kemudian ke ruang kelas, penelitian, penulisan, dan kajian kebudayaan, saya terus belajar bahwa setiap zaman menghadirkan pertanyaan baru.
Setiap karya bagi saya bukanlah titik akhir. Ia adalah bagian dari perjalanan untuk memahami manusia, agama, gereja, kebudayaan, sejarah, dan masyarakat. Dari media Inspirator hingga buku, dari ruang redaksi dan studio radio hingga ruang akademik, dari pengalaman hidup di tengah masyarakat Minahasa hingga penelitian tentang sejarah dan kebudayaannya, saya terus berusaha membaca kehidupan secara kritis, reflektif, dan manusiawi.
Saya pernah menjadi repoter radio, redaktur sebuah majalah, sering sekali mengirim tulisan di harian lokal maupun nasional, dan akhir-akhir ini menyunting beberapa buku bunga rampai untuk diterbitkan.


Comments