Suatu pagi yang berkabut di tepian Danau Tondano pada akhir dekade 1930-an, seorang pria Jepang tampak berjalan di antara kebun-kebun yang menghijau. Ia menyapa penduduk yang berpapasan dengannya, berbincang dengan para petani, dan sesekali turun ke Menado untuk mengurus urusan dagang. Namanya Tsunehachi Kobayashi. Di mata masyarakat Tondano kala itu, ia hanyalah seorang pemilik perkebunan Jepang yang memilih menetap di pedalaman. Kehidupannya tampak sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik internasional yang saat itu mulai mengguncang Asia. Namun beberapa tahun kemudian, ketika perang pecah dan berbagai arsip konsulat Jepang diperiksa oleh pemerintah kolonial Belanda, sosok Kobayashi muncul sebagai sosok yang berbeda. Petani itu ternyata diduga menjadi bagian dari jaringan informasi Jepang yang bekerja diam-diam di Hindia Belanda. Jejak Kobayashi sebenarnya dapat ditelusuri jauh sebelum perang. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 28 Oktober 1927 memuat berita berjudul J...
Hari ini di masa lalu