Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2018

Sejarah Tsunami di Sulawesi Utara

Daerah pesisir Sulawesi Utara yang berdekatan dengan laut Maluku Utara rawan terkena tsunami jika terjadi gempa di laut itu. HARI sudah malam, kira-kira pukul delapan. Sebuah gempa berkekuatan 8,0 skala richter terjadi di Laut Maluku. Jaraknya ± 72 km dari Kema, sebuah kota pelabuhan di bagian utara Minahasa. Hari itu, Jumat, 6 September 1889.   “Tsunami muncul segera setelah gempa, “ tulis Kevin McCue dalam tulisannya berjudul Historical earthquakes in the Northern Territory . Tinggi gelombang tsunami di Kema, kata McCue, sekitar 3,5 sampai 4 meter. Di Manado setinggi 2 meter. Amurang juga mengalami. Tsunami ini mengakibatkan kerusakan pemukiman di Kema dan banjir di Bentenan. “Tiga puluh blok pemukiman (distrik) hancur di Kema. Di Bentenan, satu distrik perumahan mengalami banjir 15 kali dalam 2 jam. Air naik 0,5 m (2 kaki) di pekarangan rumah di pantai selama tiga gelombang pertama,” tulis McCue.   Di pulau Ternate gelombang air laut tiba-tiba men...

Sejarah Kata ‘di’ dalam Nama GMIM

Bakal Sinode GMIM 1934. Foto: Kitab Peringatan Pendirian Gereja Protestan Minahasa Kata ‘di’ dalam nama Gereja Masehi Injili di Minahasa punya sejarahnya. Debat tentang perlu tidaknya digunakan kata itu dalam nama GMIM adalah debat tentang keberadaannya HARI itu, Minggu, 30 September 1934 di ‘Roemah Geredja Tomohon’. Pada sebuah kebaktian agung berdirilah seorang pendeta Kristen Minahasa menyampaikan pidato, Albertus Zacharias Runturambi Wenas . Sebelum gilirannya berturut-turut para pembesar gereja dan pemerintah Hindia Belanda telah menyampaikan pidatonya masing-masing. Saat itu, Wenas kira-kira berusia 37 tahun. “Demikian hari ini adalah hari lahirnja Geredja Masehi Indjili Minahasa jang berdiri sendiri,” kata Wenas dalam pidatonya sebagai Ketua II Sinode Geredja Masehi Indjili Minahasa (G.M.I.M). Ia adalah satu-satunya orang Minahasa dalam struktur kepeminpinan sinode awal gereja ini. Pidato Wenas ini termuat dalam Kitab Peringatan Perihal Perajaan Pendirian Ger...

Pemilu di Minahasa tahun 1951, Pemilihan Langsung Pertama di Indonesia

Pemilu pertama di Indonesia dengan sistem pemilihan langsung dilaksanakan di Minahasa pada tahun 1951.   “Rakjat! Pilihlah Jang Berani dan Djudjur” begitu bunyi sebuah iklan kampanye di Minahasa tahun 1951. Sampai bulan Juni tahun itu, rakyat sibuk dengan kampanye dan propaganda politik oleh partai politik maupun para calon anggota dewan daerah tingkat II Minahasa. Suasana selama kampanye sangat ramai. Siapapun yang memiliki hak dipilih terbuka untuk mencalonkan diri melalui partai-partai politik. Propaganda dilancarkan oleh para pendukung. Orang-orang berkumpul dalam acara pesta-pesta yang dibuat oleh para calon. Partai dan calon bahu-membahu membiayai kampanye. Pamfel dan spanduk-spanduk kampanye dipajang menghiasi tempat-tempat umum. Panitia pemilihan giat melakukan sosialisasi kepada rakyat Minahasa, antara lain menggunakan bendi. Mobil-mobil ditempeli plakat-plakat yang menarik perhatian banyak orang. Murid-murid sekolah juga dimobilisir. Keramaian ini dis...

Riwayat ‘Gelar Adat Minahasa’, Diskusi Panjang Antara Kelompok Kawanua dan Kelompok Minahasa

Kliping Koran tentang pemberian gelar kepada Siti Hardiyanti Rukhmana. Foto: dr. Bert A. Supit Diskusi tentang ‘gelar adat Minahasa’ antara kelompok Kawanua dan Kelompok Minahasa diwarnai oleh perbedaan-perbedaan pendapat. Di saat diskusi masih berlansung pemerintah Kabupaten Minahasa justru telah menganugerahkan gelar adat kepada sejumlah tokoh nasional, militer maupun sipil. “Mengenai gelar adat, kita tidak mengenal gelar tetapi jabatan, yang dimaksud ‘gelar’ itu seperti (di Jawa) Kiay Panembahan, Pangeran....” kata sejarawan Minahasa, F.S. Watuseke pada sebuah pertemuan yang digagas oleh Yayasan Kebudayaan Minahasa (YKM) Minggu, 15 September 1986 di hotel Kawanua City Manado. Watuseke adalah seorang yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah Minahasa. Sejak tahun 1950-an ia banyak menulis tentang sejarah Minahasa. Tulisan-tulisannya antara lain terbit pada majalah terbitan KITLV Belanda. Tua-tua Minahasa lainnya yang hadir adalah H.M. Taulu, budayawan dan penul...