Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

J.A. Mattern dan Awal Kekristenan di Tomohon

Rumah Jaga dan pemandangan negeri di Minahasa abad 19 Zendeling J.A. Mattern dikenal sebagai perintis kekristenan di Tomohon, tapi orang Tomohon yang menjadi Kristen sudah ada sebelum kedatangannya JUNI 1838 datang seorang zendeling dan istrinya di distrik Tomohon yang juga melayani di distrik Sarongsong. Namanya Johan Adam Mattern. Dia diutus oleh NZG mulanya khusus untuk mengurus percetakan.    Mattern lahir di Spiers pada tahun 1807. Istri pertamanya yang datang bersama dia ke Tomohon bernama Jacoba Oudshoff. Ia menempuh pendidikan sebagai zendeling selang tahun 1829 sampai tahun 1832. Pertama-tama di Berlin lalu dilanjutkan di Rotterdam. Setelah selesai dengan pendidikannya ia diutus oleh NZG ke Hindia Belanda. Tahun 1835 ia tiba di Manado. Setelah setahun di Tomohon, Mattern dan keluarga merasa bahagia karena sudah dapat memiliki rumah yang bagus. Keluarga ini sudah bisa menerima tamu di rumah itu. "Dengan perasaan bahagia dan bersyukur ka...

“Pulang Kampung”, Pulang ke Mana?

PERISTIWA ‘pulang kampung’ (Pulkam) pada momen Natal, Tahun Baru, hari raya pengucapan syukur, atau hari-hari raya keagamaan agama-agama pada umumnya terjadi karena sebelumnya telah berlangsung urbanisasi. Modernisasi kolonial telah membentuk kota-kota sebagai pusat kekuasaan dan ekonomi. Pembentukan tatanan sosial baru, yang di dalamnya termasuk relasi-relasi baru antar kelompok dimungkinkan karena terbentuk dan berkembangnya ruang-ruang hidup baru yang lebih modern, majemuk dan kapitalistis. Jadi, fenomena Pulkam adalah sebuah tanda terbentuknya ruang-ruang baru namun ruang-ruang lama sebagai tempat asal tidak serta merta tergantikan. Pulkam akhirnya menjadi cara untuk mengatur relasi dan ingatan. Meski telah direkonstruksi menjadi berbeda dengan ‘kota’ dalam banyak hal, tapi kampung kemudian menemukan cara sendiri untuk eksis dan terus bermakna. Pada akhirnya, ‘kampung’ hadir pula di kota-kota, yang banyak di antaranya masih membawa apa yang ‘asli’ yaitu sebagai p...

Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan, dan Memelihara Sejarah*

PIHAK   Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara  meminta saya untuk berbicara pada k egiatan Lawatan Sejarah Daerah 2019  ini diseputar topik , “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan, Memelihara Sejarah”.  Topik ini memuat tiga variabel yang dapat dibicarakan sendiri-sendiri yaitu: “pendidikan’; “kebudayaan’, dan “Sejarah”. Tapi sesungguhnya tiga variabel ini memiliki hubungan satu sama yang lain. Dalam konteks ini, saya membicarakan tiga variabel tersebut dalam konsep, bahwa  upaya memajukan kebudayaan, salah  satu cara, dan ini penting, adalah menguatkan pendidikan dan memelihara sejarah.  Saya akan membicarakan topik ini dalam alur pemikiran seperti yang terumus di atas. Olehnya, saya akan mengawali keseluruhan pembahasan dengan subtopik tentang pendidikan, lalu sejarah yang kesemuanya akan bermuara pada konsep tentang memajukan kebudayaan sebagai sebuah proses. Karena hal-hal ini saling berkaitan, maka alurnya tidak a...

Soekarno, Sinterklaas Hitam dan Natal

Soekarno, Sinterklaas dan anak-anak di Istana tahun 1951. (Sumber: Walentina Waluyanti de Jonge dalam  Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen: Sisi Lain Putra Sang Fajar yang Tak Terungkap  terbit 2013/ANRI). Soekarno pernah melarang perayaan Hari Sinterklaas di Indonesia, pemicunya adalah pertentangan politik dengan Belanda, tapi dia sangat menghargai perayaan Natal DESEMBER 1957, seorang menteri asal Minahasa, Gustaaf A. Maengkom mengeluarkan pengumuman yang memerintakan seluruh orang Belanda segera meninggalkan Indonesia. Tradisi merayakan Hari Sinterklaas juga dilarang.   Saat itu Maengkom adalah menteri Kehakiman. Ia lahir di Tondano, daerah pusat kekristenan di abad 19 pada 11 Maret 1907. Pengumuman tersebut adalah atas perintah Presiden Soekarno. Tradisi Sinterklaas  di Hindia Belanda diperkenalkan oleh orang-orang Belanda Kristen. Pada masa kolonial, setiap tanggal 5 Desember Batavia selalu diramaikan dengan kehadiran Sinterklaas. “Se...