Skip to main content

Agen Jepang Jadi Petani di Tondano


Suatu pagi yang berkabut di tepian Danau Tondano pada akhir dekade 1930-an, seorang pria Jepang tampak berjalan di antara kebun-kebun yang menghijau. Ia menyapa penduduk yang berpapasan dengannya, berbincang dengan para petani, dan sesekali turun ke Menado untuk mengurus urusan dagang.

Namanya Tsunehachi Kobayashi.

Di mata masyarakat Tondano kala itu, ia hanyalah seorang pemilik perkebunan Jepang yang memilih menetap di pedalaman. Kehidupannya tampak sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik internasional yang saat itu mulai mengguncang Asia.

Namun beberapa tahun kemudian, ketika perang pecah dan berbagai arsip konsulat Jepang diperiksa oleh pemerintah kolonial Belanda, sosok Kobayashi muncul sebagai sosok yang berbeda.

Petani itu ternyata diduga menjadi bagian dari jaringan informasi Jepang yang bekerja diam-diam di Hindia Belanda.

Jejak Kobayashi sebenarnya dapat ditelusuri jauh sebelum perang.

Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 28 Oktober 1927 memuat berita berjudul Japansch Bezoek (Kunjungan Jepang). Berita tersebut mengutip harian Jepang di Singapura, Nanyo Nichi Nichi Shimbun, yang melaporkan bahwa mantan Konsul Jenderal Jepang di Singapura, Nakashima Seiichiro, memperoleh tugas dari Departemen Luar Negeri Jepang untuk melakukan perjalanan penelitian ke wilayah Asia Tenggara.

Yang menarik, dua orang yang ditugaskan mendampinginya adalah Sugita Shoten dan Tsunehachi Kobayashi.

Menurut laporan itu, mereka ditugaskan untuk melakukan penelitian mengenai sumber daya ekonomi di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa guna mendorong pembentukan perusahaan-perusahaan Jepang di kawasan tersebut.

Surat kabar tersebut menulis bahwa mereka akan melakukan, "suatu studi mengenai sumber-sumber ekonomi di wilayah-wilayah tersebut guna mendorong pendirian perusahaan-perusahaan Jepang."

Rencana perjalanan mereka disusun secara rinci. Mereka dijadwalkan tiba di Medan pada Desember 1927, tinggal selama empat minggu di Sumatra, sekitar satu bulan di Kalimantan, lalu mengunjungi berbagai kota di Jawa sebelum kembali ke Jepang pada Maret tahun berikutnya.

Pada saat itu tidak ada yang mencurigakan.

Jepang memang sedang memperluas hubungan dagang dan investasinya di Asia Tenggara.

Namun setelah perang meletus, banyak pejabat Belanda membaca kembali berita kecil itu dengan pandangan berbeda. Di antara nama-nama yang tercantum dalam laporan tersebut, salah satunya adalah Tsunehachi Kobayashi—orang yang kelak menetap di Danau Tondano.

Pada dekade 1930-an, Sulawesi Utara menjadi salah satu wilayah yang semakin menarik perhatian Jepang.

Kopra Minahasa merupakan komoditas penting dalam perdagangan internasional. Menado berkembang sebagai pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal Jepang semakin sering berlabuh di kawasan ini.

Berbagai kajian sejarah mengenai komunitas Jepang di Asia Tenggara menunjukkan bahwa sebelum Perang Dunia II, banyak warga Jepang datang sebagai pedagang, nelayan, pemilik toko, pengusaha, dan petani. Mereka membangun jaringan ekonomi yang luas dan pada saat yang sama menjadi sumber informasi penting mengenai daerah tempat mereka tinggal.

Di tengah perkembangan itu, Kobayashi memilih menetap di sekitar Danau Tondano. Ia membeli atau mengelola perkebunan dan menjalani kehidupan sebagai planter.

Tetapi menurut laporan-laporan yang kemudian diterbitkan pemerintah kolonial Belanda, pekerjaan bertani itu mungkin bukan satu-satunya aktivitas yang ia lakukan.

Pada 28 Januari 1942, ketika pasukan Jepang sudah bergerak menaklukkan Asia Tenggara, Bataviaasch Nieuwsblad menerbitkan artikel berjudul Spionnage in Andere Deelen van den Archipel (Spionase di Bagian-Bagian Lain Kepulauan).

Artikel itu menjelaskan bahwa Surabaya merupakan pusat utama kegiatan intelijen Jepang di Hindia Belanda. Namun aktivitas serupa juga berlangsung di Batavia, Bandung, Palembang, Jambi, pelabuhan-pelabuhan minyak, Menado, dan berbagai daerah lain.

Koran tersebut menulis bahwa berbagai perusahaan Jepang secara tekun mengumpulkan peta wilayah, data pelabuhan, dan informasi strategis lainnya.

Di tengah laporan itu muncul nama Tsunehachi Kobayashi. Ia disebut sebagai, "pemilik perkebunan yang bermarkas di Danau Tondano."

Tetapi lebih dari itu, surat kabar tersebut menggambarkannya sebagai salah satu "agen independen" Jepang yang bekerja di luar struktur diplomatik resmi.

Menurut laporan tersebut, Kobayashi secara teratur mengirim informasi kepada otoritas Jepang di Palao dan Tokyo.

Dengan kata lain, seorang petani di pedalaman Minahasa disebut-sebut memiliki hubungan langsung dengan pusat pemerintahan Jepang di Pasifik.

Tuduhan itu diperkuat oleh sebuah buku propaganda perang Belanda berjudul De Japansche Spionnage in Nederlandsch-Indië yang diterbitkan oleh Landsdrukkerij Batavia pada tahun 1942.

Laporan pada buku ini menyebut bahwa Kobayashi menerima pembayaran dari Administrasi Mandat Jepang di Palao, pemerintah Jepang di Tokyo, dan perusahaan kolonisasi Jepang Nanyo Takushoku Kaisha.

Menurut buku itu, laporan-laporannya tidak dikirim melalui kantor pos atau jalur komunikasi umum. Sebaliknya, laporan tersebut diserahkan langsung kepada kapal-kapal Jepang yang singgah di Menado.

Buku tersebut juga menjelaskan bahwa Kobayashi sering menjadi penasihat bagi para perwira militer dan angkatan laut Jepang yang datang mengunjungi Sulawesi Utara sebelum perang.

Jika keterangan ini benar, maka rumah perkebunan di sekitar Danau Tondano bukan hanya tempat tinggal seorang petani, tetapi juga titik pertemuan jaringan informasi yang menghubungkan Minahasa dengan Tokyo.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah apa yang ditemukan menjelang invasi Jepang ke Hindia Belanda.

Pada 30 Januari 1942, Soerabaijasch Handelsblad menerbitkan artikel berjudul Voorbereiding van Overname van het Gezag (Persiapan Pengambilalihan Kekuasaan).

Artikel itu melaporkan hasil pemeriksaan arsip Masaji Nonomura, Konsul Jepang di Menado.

Dalam arsip tersebut, menurut surat kabar itu, ditemukan rancangan lengkap mengenai tata pemerintahan yang akan diterapkan Jepang setelah Hindia Belanda berhasil diduduki.

Surat kabar tersebut menulis bahwa pengambilalihan pemerintahan sipil telah dipersiapkan secara rinci bahkan sebelum invasi dilakukan.

"Pengambilalihan pemerintahan sipil setelah keberhasilan serangan terhadap Hindia Belanda telah dipersiapkan sepenuhnya,” tulis laporan itu.

Pejabat-pejabat pribumi akan tetap mempertahankan jabatan mereka, tetapi mereka akan menerima instruksi dari para pemimpin komunitas Jepang setempat.

Dan para pemimpin tersebut, menurut dokumen yang ditemukan, akan berada di bawah koordinasi seorang tokoh yang namanya berulang kali muncul dalam laporan intelijen: Tsunehachi Kobayashi.

Bahkan Soerabaijasch Handelsblad secara terang-terangan menyebutnya sebagai, "mata-mata Tsunehachi Kobayashi."

Bagi pembaca Belanda pada Januari 1942, istilah itu bukan sekadar tuduhan. Pada saat itu tentara Jepang sudah bergerak menuju Hindia Belanda dan ancaman pendudukan terasa semakin nyata.

Nama Kobayashi yang selama bertahun-tahun nyaris tidak dikenal publik tiba-tiba muncul sebagai salah satu figur penting dalam skenario pemerintahan pendudukan Jepang.

Tentu saja, sumber-sumber tersebut perlu dibaca secara kritis. Sebagian besar laporan berasal dari masa perang ketika pemerintah kolonial Belanda sedang berupaya membangun opini publik anti-Jepang. Tidak semua tuduhan dapat diverifikasi secara independen.

Namun satu hal sulit disangkal. Nama Tsunehachi Kobayashi muncul berulang kali dalam berbagai dokumen dan pemberitaan selama rentang waktu yang panjang.

Ia muncul dalam laporan survei ekonomi Jepang tahun 1927. Ia muncul sebagai pemilik perkebunan di Danau Tondano pada dekade 1930-an. Dan ia muncul kembali dalam laporan-laporan intelijen Belanda menjelang jatuhnya Hindia Belanda pada tahun 1942.

Jika laporan-laporan itu benar, maka sejarah pendudukan Jepang di Minahasa tidak dimulai ketika tentara Jepang memasuki Menado pada tahun 1942.

Sejarah itu mungkin telah dimulai jauh sebelumnya. Ketika seorang pria Jepang datang ke Sulawesi Utara dengan misi penelitian ekonomi. Ketika ia memilih menetap di tepi Danau Tondano. Ketika ia membuka perkebunan dan bergaul dengan masyarakat setempat.

Dan ketika, menurut laporan-laporan kolonial Belanda, ia secara diam-diam mengirimkan catatan-catatan tentang Minahasa ke pusat kekuasaan Jepang.

Di mata banyak orang ia hanyalah petani. Namun arsip-arsip perang memperlihatkan kemungkinan lain.

Bahwa di balik kebun-kebun yang tenang di Tondano, sebuah babak penting dari sejarah Perang Pasifik sedang ditulis secara perlahan, bertahun-tahun sebelum tembakan pertama terdengar di langit Sulawesi Utara.***


Comments

Popular posts from this blog

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Angkot Manado Tempo Doeloe, Dari Bemo ke ‘ST20’

Salah satu terminal di Kota Manado tahun 70-an. Foto: Expose Manado Juli 2015 Jenis mobil angkutan kota (angkot) di Kota Manado mengikuti trend dari Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Riwayat perjalanannya, dari bemo ke ‘ST20'. Oto Becak, Oto Kacili Kase Lari Sambilan Puluh Banyak Orang Suka Pa Ngana Ngana Bilang Ngoni Jo dulu Lagu ini populer di kalangan orang-orang Minahasa sampai tahun 1990-an. Tapi mungkin ia sudah ada sejak tahun 1960-an. Rupanya ia menggambarkan   kehidupan masyarakat Manado masa itu. Tentang   teknologi kendaraan umum. “ Oto becak, oto kacili” hendak mau menyebut jenis angkutan umum   populer di kota Manado dan kota-kota lain di Indonesia masa itu. Namanya bemo atau becak motor. Bemo adalah kendaraan beroda tiga dengan mesin sepeda motor sebagai angkutan dalam kota yang umum di Indonesia tahun 1960-an. “Luar Jawa seperti Medan, Ujung Pandang dan Menado, ia menjadi dasar untuk angkutan umum berjurusan tetap,” ...