Namanya Junus
Moningka. Seorang lelaki tua dari Minahasa. Matanya berair ketika
mengenang masa yang sudah jauh tertinggal. Ia masih bisa mendengar suara
tembakan itu. Bau mesiu. Rumput basah di Salenda yang menempel di kulit. Semua
itu sudah lebih dari empat puluh tahun lalu, tapi masih hidup dalam ingatannya
seperti baru kemarin. Kadang, ketika ia duduk di beranda rumah dan mendengar
suara motor lewat, ia merasa seperti mendengar dentum mortir Jepang yang
memecah pagi.
Moningka adalah mantan prajurit KNIL kelas satu di tahun 1940-an.
Kira-kira tahun 1988, seorang wartawan Belanda, Michiel Hegener, datang ke rumahnya. Usia Moningka sudah enam puluh tujuh waktu itu. Di rumah itu ada banyak orang menyaksikan Moningka diwawancarai. Keluarga dan tetangga hadir.
“Mereka minum teh dan makan kue kelapa,” kata Hegener dalam tulisannya berjudul "Tranen om een dapper man door" yang terbit di De Volkskrant edisi 03-09-1988 .
Hegener lahir di Hilversum pada 11 Mei 1952, lulusan geografi sosial Universitas Utrecht dengan spesialisasi kartografi. Ia adalah seorang jurnalis, fotografer, dan kartografer Belanda yang menulis untuk NRC Handelsblad, Vrij Nederland, dan de Volkskrant. Sejak 1984 ia aktif melaporkan berbagai kisah kemanusiaan dari Eropa hingga Timur Tengah dan Asia. Salah satu karya terkenalnya adalah buku Guerilla in Mori – The Resistance against the Japanese in Central Celebes during the Second World War (1990), yang mengisahkan perlawanan rakyat di Sulawesi Tengah dan meraih penghargaan kehormatan Dr. L. de Jong untuk historiografi kontemporer. Wawancara dengan Moningka, selain terbit di De Volkskrant edisi 03-09-1988, juga menjadi bagian dari isi buku Guerilla in Mori itu.
Hegener datang dengan alat perekam kecil dan senyum sopan. Tapi bahkan sebelum sempat menyalakan alatnya, Moningka sudah menangis. “Saya selalu harus menangis ketika berbicara tentang peristiwa-peristiwa ini,” katanya tersedu. Ia menunduk, mengusap air mata dengan tangan tuanya. “Saya salah satu orang pertama yang mendaftar untuk berjuang.”
Hegener itu mengeluarkan
foto kecil dari sakunya: seorang pria muda dengan seragam militer, tegap,
matanya tajam, senyumnya tenang. “De Jong,” katanya pelan. Moningka menatap
lama foto itu. Air matanya jatuh lagi. “Orang berani dia,” katanya lirih. “Seorang
pria pemberani.”
Junus Moningka pertama kali bertemu Letnan Johannes Adrianus de Jong di Kolonodale, tahun 1941. Saat itu ia masih prajurit muda KNIL, belum banyak pengalaman tapi penuh semangat. Ketika Jepang menyerang Hindia Belanda dan kabar kekalahan dari Jawa sampai ke Sulawesi, banyak tentara yang putus asa. Tapi tidak De Jong.
Pada bulan Maret 1942, perintah menyerah datang. Mayor Schilmöller sudah menyerahkan diri. Banyak yang menganggap perang telah selesai. Tapi De Jong berdiri di depan pasukannya dan berkata, “Saya telah bersumpah kepada Ratu. Dan saya tidak akan mengkhianati sumpah itu.” Nadanya tenang, tapi setiap kata keluar dengan keyakinan yang membuat para prajurit kembali tegak.
Di Poso, tulis Hegener, seorang pengkhianat datang. Ratumbanua, seorang fourier KNIL yang membelot ke Jepang, membawa perintah agar mereka menyerahkan senjata. Tapi malam itu juga, De Jong memimpin serangan balasan. Moningka ikut bersama kelompok yang menuju depot senjata. Mereka berbaris dalam gelap, hanya diterangi sinar bulan. Tepat tengah malam, peluit De Jong terdengar. Dalam sekejap, suara tembakan dan teriakan pecah. “Kami masuk ke barak, kaca pecah, peluru berdesing. Ratumbanua tertangkap, seorang anak buahnya mati,” kenang Moningka.
Sejak malam itu, tak ada jalan kembali.
“Kita akan ke pedalaman,” kata De Jong kepada istrinya sebelum mengirim perempuan dan anak-anak menyerah kepada Jepang. Junus Moningka masih ingat pesan itu, diceritakan dari mulut ke mulut di antara para prajurit. “Cobalah bersikap bodoh selama empat hari saat kalian menyerah. Jangan bicara Melayu, jangan bicara Inggris. Tutup mulut saja.” Semua orang tahu itu perpisahan terakhir mereka.
Pasukan kecil itu bersembunyi di hutan dekat Tentena. Mereka makan ubi hutan, minum air sungai, tidur di tanah lembap. Jepang datang dari laut, membawa bala bantuan. Empat ratus orang dikirim hanya untuk mengejar satu letnan Belanda dan pasukannya yang menolak menyerah.
Pertempuran di Salenda adalah yang paling diingat Moningka. “Kami bersembunyi di balik batu sebesar rumah,” katanya kepada Hegener sambil menirukan gerak tangannya. “Rumput tinggi menutupi kami. Jepang begitu dekat, saya bisa melihat wajah mereka.” Ia tersenyum samar, matanya berair lagi. “Saya berteriak kepada teman-teman: Jangan khawatir! Batu ini begitu tebal, tak ada peluru yang bisa menembusnya!” Lalu ia melempar granat terakhirnya. Ledakannya menggema di lembah, memecah keheningan malam.
Pasukan mereka kalah jumlah, tapi semangatnya tak pernah pudar. De Jong selalu di depan. Ia tidak sembunyi, tidak lari. Kadang ia berjalan tanpa helm, hanya membawa pistol. “Kalau mati, lebih baik mati berdiri,” katanya suatu malam sambil menatap langit hitam di atas perbukitan Mori. Kata-kata itu menempel di benak Moningka sepanjang hidupnya.
Bulan berganti. Satu per satu kawan seperjuangan gugur. Ketika Jepang akhirnya berhasil menangkap De Jong, Moningka sudah terpisah dari kelompok utama. Kabar yang beredar: Letnan itu disiksa. Tapi tidak pernah ada cerita bahwa ia menyesal. Seorang perawat Belanda yang selamat dari kamp interniran berkata, sebelum ditembak di Sario-Menado pada 25 Agustus 1942, De Jong berdiri tegak. Tidak menunduk. Tidak minta ampun.
Moningka tahu itu benar. Ia tahu siapa De Jong.
Ketika Hegener bertanya padanya, “Mengapa kau terus bertempur, ketika semua sudah menyerah?” Moningka terdiam lama. Lalu ia menjawab pelan, “Karena dia tidak menyerah. Dan kami tidak mau meninggalkannya sendirian.”
Setelah perang, bertahun-tahun kemudian, pemerintah Belanda memberi De Jong penghargaan anumerta—Ridder der Militaire Willems-Orde, Orde Militer Willem, kelas empat. Di kertas resmi, tertulis bahwa ia dihormati “atas keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaannya dalam pertempuran di Poso.” Tapi bagi Moningka, penghargaan itu hanyalah catatan. “Bagi saya,” katanya, “dia bukan cuma pahlawan. Dia manusia yang tidak mau berhenti menjadi manusia.”
Ia masih menyimpan batu kecil dari Salenda. Batu yang dulu melindungi mereka dari peluru. Kadang, saat malam datang dan udara Manado terasa lembap, ia menggenggam batu itu erat-erat. “Dingin, berat,” katanya, “tapi terasa hangat di tangan. Mungkin karena kenangan.”
Ketika sore jatuh, langit Manado memerah. Suara anak-anak tetangga bermain, tertawa di jalan. Junus Moningka menatap ke arah itu lama, lalu berbisik seolah kepada seseorang yang tak terlihat, “Orang berani dia. Seorang pria pemberani.”
Dan di antara deru kendaraan dan nyanyian jangkrik, suara Letnan De Jong seakan datang kembali dari hutan Poso: “Kita akan terus berjuang. Saya sudah bersumpah pada ratu.”
Junus Moningka tahu, sumpah itu tidak hanya milik sang Letnan. Itu juga sumpahnya sendiri untuk tidak pernah melupakan.(***)
Comments
Post a Comment