Skip to main content

1880

 

Cerpen Denni H.R. Pinontoan

Tuang Guru Yohanes berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekati dinding rumah. Di situ ada tertempel almanak bertahun 1880. Jari telunjuknya menekan angka 15 di bulan April. Ia menyebut sesuatu, tapi tak terdengar suara. Wajahnya tampak mengingat sesuatu dalam kesedihan. Setelah itu dia kembali ke tempat semula.

Pagi itu rumah tuang guru Yohanes tampak mencolok di antara rumah-rumah lain di kampung Kamangna, sebuah desa kecil di distrik Tompaso, bagian selatan Minahasa. Amurang, pusat pemerintahan onderafdeling itu, berjarak puluhan pal dari Kamangna. Di rumah panggung beratap rumbia bertudung ijuk enau itu tinggal tuang guru Yohanes, istrinya Marta, dan Magdalena, anak gadis mereka.

Sebenarnya Magdalena memiliki seorang kakak laki-laki bernama Yopi, tetapi ia meninggal tragis lima tahun lalu. Ia tewas dibunuh para tukang pukul suruhan mandor karena menolak bekerja di kebun kopi. Tanggal kematiannya: 15 April 1875.

Setiap tahun, tuang guru Yohanes selalu mengenangnya. Setiap melihat tanggal 15 April di almanak, ia kembali mengingat hari penghabisan anaknya itu. Hingga saat ini, tuang guru Yohanes, dan istrinya yang biasa disapa penduduk kampung dengan sapaan nyora Marta, dan Magdalena masih belum menerima sepenuhnya kepergian orang yang mereka cintai itu. Selain tanggal 24 dan 31 Desember, pada tanggal itu keluarga ini berziarah ke makam Yopi.

Nyora Marta dan Magdalena sudah menunggu di kolong rumah. Tinggal menunggu tuang guru Yohanes turun dari tangga, dan mereka akan berjalan bersama menyusuri jalan kampung menuju pemakaman.

Tapi hari ini mereka harus bersiap pula menerima tamu. Pada sore nanti, tuang pandita Hermann dari kampung Kelembuai—pusat klasis dan tempat tinggal zendeling—akan datang.


Tuang pandita Hermann adalah seorang Jerman yang diutus oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap dari Belanda untuk melaksanakan pekabaran Injil di Minahasa bagian selatan. Ia adalah generasi kedua setelah zendeling Johann Gottlieb Schwarz dan Johann Frederik Riedel yang datang pada tahun 1831.

Sementara, tuang guru Yohanes adalah guru di sekolah midras dan juga membantu pelayanan di gereja Kamangna. Ia dibaptis oleh Scwharz di Langowan waktu masih muda, dan kemudian menjadi murid anak piara Hermann yang pertama.

Di tempat pemakaman umum, berjejer makam-makam warga Kamangna. Ada yang nisannya hanya terbuat dari batu sungai dengan tulisan nama dan tanggal, ada pula makam yang dibuat dari beton berhias marmer. Banyak di antaranya mencantumkan ayat Alkitab.

Mereka bertiga masuk agak ke dalam, melewati satu deretan makam menuju tempat jasad Yopi dibaringkan. Makam beton dengan marmer bergambar burung Merak itu tampak mulai redup. Pada batu nisan tertulis: Yopi Walintukan. Lahir 19 Oktober

1856. Meninggal 15 April 1875.

Nyora Marta menatap makam anaknya itu dalam-dalam. Tuang guru Yohanes menyeka debu di permukaan marmer sambil mengucapkan sesuatu. Magdalena berdiri di samping ibunya. Wajahnya sedih, tetapi matanya memancarkan sesuatu yang tampak bergolak dari dalam. Mereka semuanya diam.

Ketika matahari mulai meninggi, mereka kembali pulang ke rumah.


***

Menjelang sore, tuang pandita Hermann tiba di rumah tuang guru Yohanes. Ia menunggang kuda, ditemani seorang pemuda. Wajahnya yang dulu pirang terang kini memudar menjadi pirang keabu-abuan, dengan helai uban yang berkilat ketika terkena cahaya. Garis-garis halus di pelipisnya tampak membelah usia.

Setelan wol kelabu yang dikenakannya tampak kusut oleh perjalanan jauh. Kemeja putih berkerah tinggi mulai menguning oleh debu, dan sepatu bot hitamnya berlapis tanah kering. Topi gabus bertepi lebar menaungi wajah letihnya.

“Selamat datang, tuang pandita,” sapa tuang guru Yohanes.

Tuang pandita turun dari kuda yang dia tunggangi dari Kelembuai. Nafasnya tampak berat. Perjalanan dari Kelembuai, melewati hutan serta punggung gunung berbatu, bukan perjalanan mudah bagi seseorang seusianya. Sudah tiga puluh tahun ia melayani di sini, dan tak pernah pulang ke negerinya Jerman. Ia dikenal oleh orang- orang di klasis itu sebagai pria kulit putih yang baik hati.

Nyora Marta dan Magdalena menyambut di bawah rumah. Pemuda yang menemani tuang pandita menggiring kuda ke kandang, lalu membawa koper kulit dan bundel npakaian. Biasanya, setiap kunjungan tuang pandita berlangsung beberapa hari.


Besok, di rumah gereja ia akan membaptis beberapa anak, yang sebelumnya memberikan pengajaran bagi orang tua mereka.

“Minum kopi, tuang pandita?” tanya nyora Marta.

“Air putih saja terlebih dahulu,” jawab tuang pandita Hermann.

Magdalena tampak senang dengan kedatangan tuang pandita. Ia selalu suka bercakap dengan lelaki tua itu. Ia belajar membaca dan menulis di midras kampungnya. Ia rajin membaca buku atau surat kabar Tjahaja Sijang yang dibawa tuang pandita setiap kali berkunjung. Itu membuat wawasannya luas, lebih luas dibanding banyak pemuda di kampungnya.


***

Malam segera tiba. Usai makan malam, di serambi rumah panggung itu, tuang pandita dan tuang guru duduk bercakap. Lampu minyak gantung memberikan cahaya kuning yang lembut. Dari serambi itu, cahaya lampu-lampu minyak di rumah- rumah warga tampak seperti kunang-kunang yang menempel pada gelapnya malam, memantul di dedaunan pisang dan garis atap rumah-rumah panggung.

“Sebelum tuang pandita tiba, kami berziarah ke makam Yopi,” kata tuang guru Yohanes perlahan.

“O, iya. Hari ini tanggal lima belas,” jawab tuang pandita Hermann. “Sudah lima tahun.”

“Saya belum bisa melupakannya,” kata tuang guru Yohanes. “Ia mati karena tanam paksa itu. Banyak orang mati. Banyak yang menderita. Saya sangat merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya.”

Tuang pandita Hermann menunduk. “Saya tahu. Tempo hari para kepala distrik mengajukan keberatan. Tapi pemerintah di Batavia belum berniat menghapusnya.”

Tuang pandita Hermann menyebut tentang protes para kepala Minahasa kepada pemerintah Hindia Belanda yang belum menghapus sistem tanam paksa yang menyiksa itu. Sebelumnya, para kepala juga menyampaikan petisi menolak kebijakan domainverklaring tahun 1870 yang membuat tanah-tanah adat mereka diambil alih oleh pemerintah untuk dibuat perkebunan kopi.

Tuang guru Yohanes menghela napas panjang. “Yopi tak pantas mati seperti itu.” Tuang pandita Hermann diam. Ia tahu kata-kata tidak cukup menyembuhkan luka yang sedalam itu.

Dan pada saat itulah, langkah pelan terdengar dari arah pintu. Magdalena muncul, berdiri di antara cahaya lampu dan kegelapan halaman.

“Ada yang ingin saya tanyakan,” katanya tiba-tiba.

Tuang guru Yohanes menoleh cepat. “Magdalena, ada apa?”

Magdalena melangkah ke serambi, wajahnya tegas namun matanya tampak bergetar oleh sesuatu yang telah ia tahan selama bertahun-tahun.

“Tuang pandita,” katanya, “apa arti menjadi Kristen jika kita tidak bisa berbicara keadilan?” Hening menyergap udara.

Tuang guru Yohanes terperanjat. “Magdalena! Jangan bicara begitu!”

Namun tuang pandita Hermann mengangkat tangan, meminta ruang guru Yohanes duduk kembali.

“Biarkan ia bicara.” Magdalena menelan ludah. Kata-katanya meluncur deras, terbakar oleh luka

kematian kakaknya.

“Kakak saya mati karena menolak bekerja sebagai penanggung. Ia dipukul, dikejar, dan akhirnya diseret. Ia bukan pencuri, bukan pemberontak. Ia hanya menolak penindasan. Jika agama Masehi tidak berani bicara… untuk siapa Injil itu?”

Tuang guru Hermann menatap kedua tangannya. Magdalena tidak tahu bahwa ia telah menahan pertanyaan serupa sejak lama, terjepit antara perannya sebagai hamba Injil dan posisinya sebagai hulpprediker dalam gereja kolonial Indische Kerk.

“Pertanyaanmu… sangat berat,” kata tuang pandita Hermann pelan. “Tapi benar, bukan?” balas Magdalena.

Ia tidak mengeraskan suara, tetapi kalimat itu jatuh seperti batu besar ke dalam hati setiap orang di serambi itu.

“Benar,” jawab tuang pandita Hermann, akhirnya. 

“Kalau tuang pandita tahu itu benar, mengapa kita diam?”

Tuang pandita Hermann menutup mata sejenak. Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan muda oleh dirinya sendiri.

“Karena sesungguhnya kita sedang berada dalam posisi sulit,” kata tuang pandita Hermann akhirnya.

Suaranya berat. “Saya melayani Injil. Tapi sekarang ini, apalagi, kekristenan di Hindia Belanda berada di bawah pemerintah kolonial. Ada hal-hal yang tidak bisa saya ubah begitu saja. Sebelum jemaat-jemaat Kristen di Minahasa ini diserahkan kepada Indische Kerk, kami pada zendeling masih memiliki ruang untuk bersuara kepada pemerintah.”

“Kebenaran tidak seharusnya bergantung pada izin siapa pun,” ucap Magdalena.

Kata-kata itu membuat tuang pandita Hermann merasakan sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi sulit: dorongan awal ketika ia memutuskan menjadi zendeling, bertahun- tahun lalu, ketika ia masih muda dan idealis. Yaitu, memberitakan Injil yang memerdekakan kepada penduduk pribumi Minahasa.

Nyora Marta yang berada di ambang pintu menahan tangisnya. Tuang Yohanes menggenggam tangannya sendiri. Meskipun ia sempat bertanya dalam diri tentang arti menjadi Kristen berhadapan dengan ketidakadilan pemerintah dan kematian Yopi, tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa Magdalena, anak gadisnya itu memiliki keberanian dan kecerdasan seperti yang ditunjukkannya malam ini.

“Tuang pandita… saya takut. Yopi mati karena melawan. Saya tidak ingin Magdalena mengalami hal sama,” tuang guru Yohanes menyatakan kekhawatirannya.

Magdalena menoleh pada ayahnya. Wajahnya melembut, tetapi suaranya tidak gemetar.

“Ayah, saya tidak akan melawan dengan parang dan tombak. Saya hanya ingin kebenaran. Bukankan Injil berbicara tentang kebenaran itu?”

“Magdalena,” tanya tuang pandita Hermann pelan, “apa yang ingin kau lakukan?”

Pertanyaan itu mengejutkannya. Ia tidak menyangka akan ditanya demikian. Ia menarik napas, memandang ke arah kampung Kamangna yang gelap.

“Saya ingin sekolah lagi,” jawabnya. “Saya ingin belajar lebih banyak. Saya ingin tahu hukum, tahu sejarah, tahu apa yang terjadi di luar Minahasa. Agar saya bisa membela rakyat saya sendiri.”

Tuang pandita Hermann memandangnya dengan mata yang tiba-tiba berkaca.

“Keberanian itu… tidak banyak dimiliki orang,” katanya. “Terlebih oleh perempuan. Tetapi mungkin… kaulah awalnya.”

“Saya perempuan Minahasa!” Kata Magdalena tegas.

Di luar, angin malam berhembus membawa aroma tanah dan kopi kering. Lampu minyak berayun perlahan, memantulkan bayangan wajah tuang pandita yang terlihat lebih tua dibanding siang tadi.

Malam semakin pekat. Desa Kamangna tenggelam dalam keheningan. Penduduk terlelap dalam kelelahan menjalani kehidupan yang tertindas. Hanya suara serangga dan hembusan angin yang menyentuh serambi.

Magdalena memandang jauh ke kegelapan. Di dalam pikirannya, ia mulai melihat gambaran yang belum jelas namun penuh api: sebuah gerakan, sekelompok pemuda dan perempuan yang belajar, berdiskusi, mempertanyakan nasib tanah kelahiran mereka. Ia melihat sekolah-sekolah kecil, buku-buku, tulisan-tulisan yang menggugah. Dan ia melihat perempuan, yang kelak berdiri di depan orang banyak, membawa suara rakyatnya.

Ia belum tahu apa nama gerakan itu. Ia belum tahu bahwa kelak itu akan menjadi bagian dari arus besar nasionalisme.

“Magdalena,” kata tuang pandita lembut, “ingatlah. Tuhan tidak pernah menghendaki manusia menjadi budak siapa pun.”

Magdalena mengangguk. Di dalam dirinya, sesuatu telah menyala, dan tidak boleh
padam.***


Kakaskasen – Tomohon, 23 November 2025

Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

'Kukis Brudel', Kue dari Belanda yang Populer di Minahasa

Kue Brudel dari Belanda, diperkenalkan di Hindia Belanda oleh Nonna Cornelia dalam buku resepnya, di Minahasa kue jenis ini sangat populer   SETIAP mendekati ‘Hari Besar”, Natal dan Tahun Baru atau acara-acara tertentu, orang-orang Minahasa pasti akan mengingat kukis (kue) yang satu ini: brudel. Kukis brudel dapat dinikmati setelah makan rupa-rupa lauk-pauk dalam pesta-pesta. Juga sangat pas dinikmati bersama kopi atau teh hangat.     Dari mana asal kukis brudel ini? Orang-orang akan menjawab, dari Belanda. Dari zaman kolonial. Tapi bagaimana kisahnya? Resep kukis (kue) brudel atau dalam bahasa Belanda ditulis broeder sudah muncul dalam sebuah resep masakan tahun 1845. Pengarangnya bernama Nonna Cornelia. Buku karangannya yang berjudul Kokki Bitja ataoe Kitab Masakan India diterbitkan dalam bahasa Melayu dicampur bahasa Belanda. Pertama kali terbit tahun tahun 1845, lalu terbit lagi dalam edisi revisi tahun 1859.     “Ambil doea deeg, ...