Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2026

Tata Gereja sebagai Proses Berteologi

Tulisan ini mengkaji Draft Perubahan Tata Gereja GMIM 2026 sebagai sebuah dokumen eklesiologis yang tidak hanya mengatur tata kelola organisasi, tetapi juga mencerminkan cara GMIM memahami hakikat gereja, kepemimpinan, kewenangan, persekutuan, penatalayanan, dan panggilan misioner. Dengan menempatkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan Tata Gereja sebagai sarana bagi kehidupan gereja, kajian ini membaca kembali sejumlah persoalan mendasar dalam Draft 2026, terutama mengenai relasi Jemaat dan Sinode, luasnya kewenangan BPMS, mekanisme pengambilan keputusan, sinodalitas, subsidiaritas, pengelolaan persembahan dan aset, serta disiplin gerejawi. Kajian ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak semata-mata bersifat organisatoris dan administratif, melainkan mempunyai konsekuensi teologis terhadap cara GMIM memahami dirinya sebagai Tubuh Kristus. Berdasarkan pembacaan tersebut, tulisan ini mengusulkan agar pembaruan Tata Gereja tidak diarahkan terutama pada penambahan regulasi, ...

Manguni, Tonaas dan Watu Tumotowa

Drs L. Coomans de Ruiter dalam artikelnya berjudul "Zangers der tropische maannachten" di majalah “Oost en West” tahun 1951, menuliskan kisah yang menarik tentang burung Manguni di Minahasa yang dikenal dengan berbagai nama seperti “wara imbengie, wala, lojot, dojot, dan hoit”. Burung yang secara zoologis diidentifikasi sebagai Otus scops manadensis ini bukan sekadar satwa malam bagi masyarakat Minahasa masa lampau, melainkan makhluk yang dipercaya membawa pesan-pesan tertentu bagi kehidupan manusia.  Dari berbagai suara yang dikeluarkannya lahirlah seperangkat pengetahuan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam konteks ini, tiga istilah penting muncul sebagai pusat pemaknaan: Manguni, Tonaas, dan Tumotowa. Manguni, Suara Alam sebagai Pertanda Di antara berbagai bunyi yang dikeluarkan oleh burung tersebut, suara yang disebut manguni merupakan yang paling dihormati. Bunyi yang terdengar seperti “oe-ek, oe-ek, oe-ek” ini dipanda...

Perayaan 30 Tahun Pengabdian W. F. Purukan: Guru dan Gembala Jemaat yang Setia

Lompad, 6 Juli 1931. – Suasana syukur dan sukacita meliputi jemaat Lompad pada hari yang istimewa ini. Mereka berkumpul untuk merayakan tiga dekade pengabdian seorang guru dan gembala jemaat yang setia, W. F. Purukan. Sejak diangkat sebagai guru Zending pada tahun 1901, ia telah mencurahkan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan dan kehidupan rohani jemaat.   Peringatan ini diselenggarakan dengan penuh kehormatan. Para guru dan pengajar hadir untuk memberikan penghormatan kepada rekan mereka, meskipun jumlah yang hadir tidaklah banyak. Namun, diyakini bahwa seluruh komunitas guru Zending turut bersukacita ketika mendengar kabar ini.   Acara dimulai pada sore hari di gereja, di mana seorang saudara jemaat menyampaikan salam dan mengenang hubungan erat antara jemaat dan gurunya. Kemudian, Tuan Mongkau, seorang pengajar Injil dari Popo, membuka pertemuan dengan nyanyian Mazmur 103:1. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa W. F. Purukan adalah seorang guru yang t...