Drs L. Coomans de Ruiter dalam artikelnya berjudul "Zangers der tropische maannachten" di majalah “Oost en West” tahun 1951, menuliskan kisah yang menarik tentang burung Manguni di Minahasa yang dikenal dengan berbagai nama seperti “wara imbengie, wala, lojot, dojot, dan hoit”. Burung yang secara zoologis diidentifikasi sebagai Otus scops manadensis ini bukan sekadar satwa malam bagi masyarakat Minahasa masa lampau, melainkan makhluk yang dipercaya membawa pesan-pesan tertentu bagi kehidupan manusia. Dari berbagai suara yang dikeluarkannya lahirlah seperangkat pengetahuan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam konteks ini, tiga istilah penting muncul sebagai pusat pemaknaan: Manguni, Tonaas, dan Tumotowa. Manguni, Suara Alam sebagai Pertanda Di antara berbagai bunyi yang dikeluarkan oleh burung tersebut, suara yang disebut manguni merupakan yang paling dihormati. Bunyi yang terdengar seperti “oe-ek, oe-ek, oe-ek” ini dipanda...
Hari ini di masa lalu