Skip to main content

Perayaan 30 Tahun Pengabdian W. F. Purukan: Guru dan Gembala Jemaat yang Setia



Lompad, 6 Juli 1931. – Suasana syukur dan sukacita meliputi jemaat Lompad pada hari yang istimewa ini. Mereka berkumpul untuk merayakan tiga dekade pengabdian seorang guru dan gembala jemaat yang setia, W. F. Purukan. Sejak diangkat sebagai guru Zending pada tahun 1901, ia telah mencurahkan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan dan kehidupan rohani jemaat.  

Peringatan ini diselenggarakan dengan penuh kehormatan. Para guru dan pengajar hadir untuk memberikan penghormatan kepada rekan mereka, meskipun jumlah yang hadir tidaklah banyak. Namun, diyakini bahwa seluruh komunitas guru Zending turut bersukacita ketika mendengar kabar ini.  

Acara dimulai pada sore hari di gereja, di mana seorang saudara jemaat menyampaikan salam dan mengenang hubungan erat antara jemaat dan gurunya. Kemudian, Tuan Mongkau, seorang pengajar Injil dari Popo, membuka pertemuan dengan nyanyian Mazmur 103:1. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa W. F. Purukan adalah seorang guru yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi gembala bagi jemaatnya dan pemimpin gereja di Lompad.  

Selanjutnya, beberapa tokoh bergantian memberikan kesaksian tentang dedikasi Purukan. Tuan Lumenta dari Pontak menyoroti peran Purukan dalam mendidik generasi muda yang kelak menjadi warga negara yang taat. Sementara itu, Tuan Sumampow, seorang guru dari Tokin, menggambarkan betapa besar usahanya dalam membimbing anak-anak agar menjadi jemaat yang setia.  

Seorang tokoh masyarakat, Tuan Tanor, turut menyampaikan rasa syukur atas kesepahaman antara Purukan dan pemerintah dalam memajukan kehidupan rakyat. Dalam tanggapannya, Purukan menerima segala penghormatan dengan rendah hati, berterima kasih kepada panitia dan jemaat yang telah mengadakan perayaan ini untuknya.  

Acara ditutup oleh Tuan Polla dari Motoling, yang mengingatkan jemaat agar tidak melupakan momen berharga ini dan menjadikannya sebagai pengingat untuk terus setia pada bimbingan guru mereka. Sepanjang acara, para pemuda dari Lompad dan Pitjoean turut memeriahkan suasana dengan nyanyian-nyanyian yang menambah kesan khidmat dan penuh sukacita.  

Setelah perayaan di gereja selesai, para tamu berkumpul di halaman rumah W. F. Purukan, yang telah dihias dengan indah. Di sana, mereka menikmati hidangan yang telah disediakan jemaat sebagai tanda kasih dan penghargaan kepada guru mereka.  

Dalam pidatonya, Tuan Lumenta mengutip perkataan Nabi Samuel, "Eben Haeser—Sampai di sini Tuhan telah menolong kita." Ia menegaskan bahwa pengabdian selama 30 tahun ini adalah bukti nyata pertolongan Tuhan. Sebagai seorang guru, Purukan telah membuka wawasan murid-muridnya dari kegelapan kebodohan menuju terang ilmu pengetahuan. Sebagai gembala jemaat, ia telah menanamkan nilai-nilai iman, melindungi serta membimbing mereka dalam kehidupan rohani.  

Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada banyak tantangan, kekecewaan, dan kesedihan yang harus dihadapi. Namun, seperti yang disampaikan dalam perayaan ini, semuanya adalah bagian dari perjalanan seorang pendidik dan pelayan Tuhan. Hari ini, jemaat Lompad tidak hanya merayakan pengabdian W. F. Purukan, tetapi juga bersaksi atas kasih dan berkat Tuhan yang telah menyertainya.  

Dengan penuh rasa syukur, perayaan ini ditutup dengan keyakinan bahwa pelayanan Purukan akan terus berlanjut hingga Tuhan sendiri yang menentukan akhirnya. Dan seperti yang diucapkan dalam kebersamaan malam itu, "Eben Haezer—Sampai di sini Tuhan telah menolong kita." 

(Sumber: Surat Kabar Mingguan "Pangkal Setia", edisi No. 15, thn. IX, Rabu, 23 September 1931) 

Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

Angkot Manado Tempo Doeloe, Dari Bemo ke ‘ST20’

Salah satu terminal di Kota Manado tahun 70-an. Foto: Expose Manado Juli 2015 Jenis mobil angkutan kota (angkot) di Kota Manado mengikuti trend dari Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Riwayat perjalanannya, dari bemo ke ‘ST20'. Oto Becak, Oto Kacili Kase Lari Sambilan Puluh Banyak Orang Suka Pa Ngana Ngana Bilang Ngoni Jo dulu Lagu ini populer di kalangan orang-orang Minahasa sampai tahun 1990-an. Tapi mungkin ia sudah ada sejak tahun 1960-an. Rupanya ia menggambarkan   kehidupan masyarakat Manado masa itu. Tentang   teknologi kendaraan umum. “ Oto becak, oto kacili” hendak mau menyebut jenis angkutan umum   populer di kota Manado dan kota-kota lain di Indonesia masa itu. Namanya bemo atau becak motor. Bemo adalah kendaraan beroda tiga dengan mesin sepeda motor sebagai angkutan dalam kota yang umum di Indonesia tahun 1960-an. “Luar Jawa seperti Medan, Ujung Pandang dan Menado, ia menjadi dasar untuk angkutan umum berjurusan tetap,” ...