Skip to main content

Manguni, Tonaas dan Watu Tumotowa

Drs L. Coomans de Ruiter dalam artikelnya berjudul "Zangers der tropische maannachten" di majalah “Oost en West” tahun 1951, menuliskan kisah yang menarik tentang burung Manguni di Minahasa yang dikenal dengan berbagai nama seperti “wara imbengie, wala, lojot, dojot, dan hoit”. Burung yang secara zoologis diidentifikasi sebagai Otus scops manadensis ini bukan sekadar satwa malam bagi masyarakat Minahasa masa lampau, melainkan makhluk yang dipercaya membawa pesan-pesan tertentu bagi kehidupan manusia. 

Dari berbagai suara yang dikeluarkannya lahirlah seperangkat pengetahuan budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Dalam konteks ini, tiga istilah penting muncul sebagai pusat pemaknaan: Manguni, Tonaas, dan Tumotowa.

Manguni, Suara Alam sebagai Pertanda
Di antara berbagai bunyi yang dikeluarkan oleh burung tersebut, suara yang disebut manguni merupakan yang paling dihormati. Bunyi yang terdengar seperti “oe-ek, oe-ek, oe-ek” ini dipandang sebagai pertanda baik. Bagi masyarakat Minahasa lama, alam tidak pernah dianggap diam. Setiap gejala alam mengandung pesan yang dapat dibaca dan ditafsirkan. Karena itu, suara manguni dipahami sebagai bentuk komunikasi dari dunia yang lebih luas kepada manusia.
Kepercayaan terhadap manguni memperlihatkan suatu kosmologi yang melihat alam sebagai ruang yang hidup dan penuh makna. Ketika seseorang mendengar suara manguni di halaman rumahnya, hal itu ditafsirkan sebagai tanda keberuntungan, kabar baik, atau keberhasilan yang akan datang. Bahkan jumlah bunyi yang terdengar memiliki arti tertentu. Sembilan kali panggilan dianggap baik, sedangkan sembilan kali sembilan merupakan tanda yang sangat sempurna dan hampir menghapus segala keraguan tentang keberhasilan suatu rencana.

Dalam masyarakat agraris dan komunal seperti Minahasa lama, keputusan-keputusan besar seperti membuka kebun baru, mendirikan permukiman, atau melakukan perjalanan penting tidak semata-mata ditentukan oleh pertimbangan praktis. Keputusan tersebut juga memerlukan legitimasi kosmis. Manguni menjadi salah satu medium yang memberikan legitimasi itu. Dengan kata lain, suara burung bukan hanya suara biologis, melainkan bagian dari sistem pengetahuan yang menghubungkan manusia dengan alam semesta.

Tonaas, Penafsir Tanda-Tanda Alam
Apabila manguni merupakan pesan, maka diperlukan seseorang yang mampu memahami dan menerjemahkan pesan tersebut. Di sinilah peran Tonaas menjadi sangat penting.

Dalam tradisi Minahasa, tonaas adalah tokoh yang memiliki kewibawaan spiritual, pengetahuan adat, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam. Ia bukan sekadar pemimpin ritual, melainkan juga penjaga hubungan harmonis antara manusia dan kekuatan-kekuatan yang diyakini hadir di alam sekitar.
Ketika masyarakat hendak membuka sebuah pemukiman baru, mereka tidak langsung memulai pekerjaan. Mereka terlebih dahulu pergi ke hutan bersama seorang tonaas. Di tempat yang diyakini menjadi habitat burung manguni, tonaas memimpin proses komunikasi simbolik dengan burung tersebut. Ia mengucapkan permohonan, memainkan suling bambu yang disebut soring, dan menirukan suara manguni hingga memperoleh jawaban.

Ritual ini menunjukkan bahwa tonaas berfungsi sebagai mediator. Ia menjembatani dunia manusia dengan dunia alam dan dunia roh. Dalam perspektif antropologi agama, tonaas menjalankan fungsi yang mirip dengan dukun, imam adat, atau shaman dalam berbagai masyarakat tradisional lainnya. Namun dalam konteks Minahasa, kewenangannya tidak hanya berasal dari kemampuan spiritual, melainkan juga dari pengakuan sosial komunitas.

Yang menarik adalah bahwa komunikasi yang dilakukan tonaas bukanlah tindakan menguasai alam, melainkan membangun dialog dengan alam. Burung manguni diperlakukan sebagai subjek yang dapat diajak berbicara dan dimintai petunjuk. Hal ini mencerminkan pandangan dunia yang menempatkan manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas, bukan sebagai penguasa tunggal atas alam.

Tumotowa, Penanda Kehadiran Leluhur
Apabila suara manguni dianggap menguntungkan dan ritual yang dipimpin tonaas berhasil, maka langkah berikutnya adalah mendirikan Tumotowa.

Menurut deskripsi Coomans de Ruiter, tali yang telah diberi simpul sesuai jumlah suara manguni kemudian dikuburkan dalam sebuah bambu hias (lentu) di tengah lokasi permukiman atau kebun yang akan dibangun. Di atasnya diletakkan tiga batu: dua batu besar dengan bentuk berbeda dan satu batu yang lebih kecil. Ketiga batu tersebut melambangkan ayah, ibu, dan anak. Susunan batu inilah yang disebut tumotowa.

Secara harfiah, istilah tumotowa berkaitan dengan konsep leluhur atau orang-orang tua terdahulu. Dalam tradisi Minahasa, leluhur bukan hanya figur masa lalu yang dikenang, tetapi sumber legitimasi, perlindungan, dan identitas kolektif. Dengan mendirikan tumotowa, suatu komunitas menandai hubungan simbolik antara ruang hidup baru dengan keberadaan para pendahulu mereka.

Tumotowa menjadi pusat ritual tempat berbagai persembahan atau fosso dilakukan. Ia berfungsi sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan dunia leluhur. Karena itu, tumotowa tidak hanya merupakan tumpukan batu, melainkan monumen kosmologis yang menyatakan bahwa kehidupan sosial harus berdiri di atas hubungan yang harmonis dengan para pendahulu.

Dalam banyak aspek, tumotowa memperlihatkan bagaimana masyarakat Minahasa memahami ruang. Sebuah permukiman bukan hanya wilayah geografis, melainkan ruang yang telah memperoleh persetujuan alam, restu spiritual, dan legitimasi leluhur.

Kesatuan Manguni, Tonaas, dan Tumotowa
Manguni, tonaas, dan tumotowa sesungguhnya merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Manguni menghadirkan pesan dari alam; tonaas menafsirkan dan memediasi pesan tersebut; sedangkan tumotowa menjadi wujud material dari keputusan yang telah memperoleh legitimasi kosmis. Ketiganya membentuk suatu sistem budaya yang memperlihatkan keterhubungan erat antara manusia, alam, dan leluhur dalam kosmologi Minahasa tradisional.

Catatan Coomans de Ruiter juga menunjukkan bahwa pada tahun 1925 pengetahuan ini sudah mulai memudar akibat perubahan sosial dan pengaruh lebih dari satu abad Kekristenan di Minahasa. Namun, walaupun banyak praktiknya telah hilang, makna simboliknya tetap penting untuk dipahami. Tradisi manguni mengingatkan bahwa masyarakat Minahasa pernah mengembangkan suatu cara pandang yang melihat alam sebagai mitra dialog. Sosok tonaas memperlihatkan pentingnya kebijaksanaan dalam membaca tanda-tanda kehidupan, sedangkan tumotowa mengajarkan bahwa setiap komunitas berdiri di atas ingatan terhadap leluhur dan sejarahnya.(Denni Pinontoan)

Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

Angkot Manado Tempo Doeloe, Dari Bemo ke ‘ST20’

Salah satu terminal di Kota Manado tahun 70-an. Foto: Expose Manado Juli 2015 Jenis mobil angkutan kota (angkot) di Kota Manado mengikuti trend dari Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Riwayat perjalanannya, dari bemo ke ‘ST20'. Oto Becak, Oto Kacili Kase Lari Sambilan Puluh Banyak Orang Suka Pa Ngana Ngana Bilang Ngoni Jo dulu Lagu ini populer di kalangan orang-orang Minahasa sampai tahun 1990-an. Tapi mungkin ia sudah ada sejak tahun 1960-an. Rupanya ia menggambarkan   kehidupan masyarakat Manado masa itu. Tentang   teknologi kendaraan umum. “ Oto becak, oto kacili” hendak mau menyebut jenis angkutan umum   populer di kota Manado dan kota-kota lain di Indonesia masa itu. Namanya bemo atau becak motor. Bemo adalah kendaraan beroda tiga dengan mesin sepeda motor sebagai angkutan dalam kota yang umum di Indonesia tahun 1960-an. “Luar Jawa seperti Medan, Ujung Pandang dan Menado, ia menjadi dasar untuk angkutan umum berjurusan tetap,” ...