Ongkaw, sebuah negeri pesisir di Afdeling Amurang, Minahasa bagian selatan pada suatu sore di tahun 1899. Zakarias Lapian, seorang penolong di negeri itu berkunjung ke rumah ‘tuang pandita’ J. Boddé. Rumah yang didiami tuang pandita adalah rumah panggung. Waktu itu dia berada di teras rumah ketika menyambut penolong Lapian yang sedang menaiki tangga rumah. “Tabe tuan!” Lapian memberi salam. “Tabe pénulung!" pandita Boddé membalasnya. “Apakah Anda datang untuk memberi tahu saya sesuatu yang baru? " "Ya,"katanya. "Seorang pria telah ditembak di Poigar." “Apakah sudah diberitahukan ke Amurang tentang kejahatan itu?" Tanya Boddé. Sang penolong lalu menjawab, “Tuan Jellesma telah menyelidiki siapa pelakunya, tetapi tidak berhasil, tidak ditemukan." “Sekarang itu tidak mengejutkanku," kata pandita Boddé. “Pelaku tidak akan pernah ditemukan." “Tuan," Lapian menambahkan dengan tatapan serius. “Yang terbunuh adalah seorang Kristen. Salah sa...
Dibuat dengan AI (bing.com) GENERASI bangsa ini memang dibesarkan oleh ideologi seragam. Seragam pakaian sekolah, seragam pakain kantor, seragam dinas, seragam panitia hari raya, dlsb. Sejak TK kita sudah harus seragam. Pengetahuan pun mesti seragam. Ilmu yang diajarkan dari sana ke sini, seragam. Tapi, apakah akhirnya tercipta keseragaman yang sesungguhnya? Tidak! Ideologi bhineka juga sudah ditanamkan sejak pertama menjadi warga negara. Cuma, sebagai ideologi tentu berbeda dengan fakta biologis dan kultural pada setiap orang Indonesia yang terdiri dari ciri, sifat dan bentuk-bentuk ekspresi yang berbeda-beda. Dalam hal sebagai ideologi, maka tidak juga kemudian terwujud suatu pengakuan terhadap keragaman yang otentik. Sebab, mungkin sudah jadi bawaan manusia, setiap orang butuh penanda-penanda yang sama antara dirinya dengan orang lain. Jadi, sebetulnya ada dua ideologi yang yang tertancap dalam kesadaran masyarakat kita: keseragaman dan keragaman. Dalam hal sebagai warga neg...