Oleh Denni
H.R. Pinontoan
Pengantar
Ada diskusi menarik menanggapi artikel Greenhill Weol berjudul “Dari Wenang ke Manado” yang dipublikasikan di Facebook, Jumat, 23 Mei 2026. Demikian juga pada postingan saya yang mengambil artikel Adrianus Kojongian berjudul “Manado Tua dan Misteri di Balik Peta”. Salah satu yang menjadi perhatian, adalah tentang perbedaan antara Manado Tua, Manado dan Wenang.
Sebenarnya sudah ada beberapa penulis yang berusaha menjelaskan tentang apa yang menjadi tema tulisan saya ini. Antara lain Meers Malky Tzedek dengan tulisannya berjudul "Monango Labo (Pelabuhan Manado)”. Tulisan terbaru, selain dari Greenhil Weol juga Hendrik Rapar berjudul “Monango Labo: Nama yang Hilang di Arsip, tetapi Bertahan dalam Ingatan Manado”. Tulisan saya ini hendak menegaskan satu hal, bahwa yang disebut-sebut dalam dokumen klasik sebagai “Monango Labo” dengan beberapa varian penulisannya adalah “Wenang” atau “Pelabuhan Wenang” di daratan Minahasa.
Tumpahan Wenang dan Labuhan Wenang
Dalam historiografi Manado, istilah yang paling tua dan paling penting untuk dipahami sebelum membahas asal-usul nama Manado adalah Wenang. Dalam buku Sejarah Kota Manado 1945–1979 yang ditulis oleh Parengkuan, Manus, Nihe, dan Suryo (1986), dijelaskan bahwa lokasi yang kini menjadi Kota Manado dahulu dikenal dengan nama Wanua Wenang. Menurut tradisi lisan Minahasa, Wanua Wenang didirikan oleh tokoh Ares bernama Dotu Lolong Lasut. Nama “Wenang” sendiri dikaitkan dengan sejenis pohon yang banyak tumbuh di kawasan tersebut, yaitu Macaranga hispida. Kulit kayu pohon ini digunakan oleh para nelayan sebagai bahan penyamak jala agar tidak cepat rusak oleh air laut.
Parengkuan dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa kawasan yang sama juga pernah
dikenal dengan nama Mandolang Amian, untuk membedakannya dari Mandolang
Talikuran. Kata Mandolang berasal dari bahasa Tombulu Tua maodalan yang berarti
“saling mengunjungi”. Nama ini muncul karena kawasan tersebut menjadi tempat
yang sering didatangi para pelaut dari luar Minahasa untuk melakukan pertukaran
barang dengan masyarakat pedalaman. Selain itu, sumber yang sama menyebut
nama-nama lain seperti Pahawinaroran ni Tasikela, Manarou, dan Manadou. Semua
istilah ini merujuk pada kawasan yang sama, yakni daerah sekitar muara Sungai
Tondano yang kemudian berkembang menjadi Kota Manado.
Dalam konteks ekonomi dan perdagangan, kawasan tersebut dikenal sebagai
Tumpahan Wenang dan Labuhan Wenang. Sebutan Tumpahan Wenang menunjuk pada
tempat bertemunya orang-orang Minahasa dari pedalaman dengan para pedagang dari
luar. Adapun Labuhan Wenang menunjuk pada kawasan pesisir tempat kapal-kapal
asing berlabuh untuk melakukan perdagangan dengan masyarakat Minahasa. Dengan
demikian, sejak awal Wenang bukan sekadar nama sebuah kampung, melainkan sebuah
ruang perjumpaan antara dunia maritim Nusantara dan masyarakat agraris
Minahasa. Dalam perspektif ini, Wenang dapat dipahami sebagai pelabuhan
tradisional Minahasa jauh sebelum munculnya kota kolonial bernama Manado.
Wenang dan Manado dalam Tradisi Lisan Minahasa
Perbedaan antara Wenang dan Manado menjadi lebih jelas ketika menelusuri
tradisi lisan yang dicatat oleh berbagai penulis Minahasa. Dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, Jessy
Wenas (2007) menggunakan istilah Wenang-Manado untuk menggambarkan kawasan
pesisir yang menjadi pusat interaksi awal antara orang Minahasa dengan Portugis
dan Spanyol.
Menurut cerita rakyat yang dikutip Wenas, orang kulit putih pertama yang datang
ke Wenang tidak memperoleh izin mendirikan pusat perdagangan sehingga mereka
berpindah ke Amurang. Kemudian datang orang-orang Kastela (Spanyol) yang
memperoleh izin mendirikan kantor dagang di Wenang-Manado setelah melakukan
negosiasi dengan pemimpin lokal yang dalam tradisi Minahasa dihubungkan dengan
tokoh Lolong Lasut dan Ruru Ares. Penggunaan istilah “Wenang-Manado”
menunjukkan bahwa dalam masa transisi abad ke-16 hingga awal abad ke-17 kedua
nama tersebut hidup berdampingan. Nama Wenang masih dipakai untuk menunjuk
lokasi tradisionalnya, sementara nama Manado mulai muncul dalam konteks
hubungan dengan dunia luar.
Dalam narasi Wenas, pusat kekuasaan yang menerima kedatangan Portugis dan Spanyol berada di pesisir Wenang, bukan di Pulau Manado Tua. Hal ini penting karena memperlihatkan bahwa sejak awal tradisi Minahasa membedakan antara kawasan pesisir daratan Sulawesi dengan pulau yang berada di teluk.
Asal Usul Nama Manado
Sumber Eropa tertua yang sering dikaitkan dengan Manado adalah karya Tomé
Pires, The Suma Oriental, yang ditulis antara tahun 1512 hingga 1515.
Nama Manado tidak muncul secara eksplisit dalam teks tersebut. Namun editor
modernnya, Armando Cortesão, mencatat bahwa dalam peta Rodrigues terdapat nama
Vdama yang mungkin merupakan bentuk awal atau korupsi dari Menado.
Surat-surat dan catatan para pater Portugis pertengahan abad ke-16 juga
menyebut “Manado”. Dalam Documenta
Malucensia (editor Hubert Jacobs SJ, 1974) yang menghimpun surat-surat
dan catatan tersebut, terdapat frasa “ilha do Manado” yang berarti pulau
Manado. Ini jelas menunjuk “Manado Tua” yang berada di pulau.
Pertanyaan mengenai asal-usul nama Manado telah lama menjadi perdebatan. Salah satu teori yang terkenal dikemukakan oleh G.S.S.J. Ratu Langie dalam artikel “De Oorsprong van den Naam Menado” yang terbit tahun 1917. Ia menolak pendapat yang menghubungkan Manado dengan kata Jepang minato yang berarti pelabuhan.
Menurut Ratu Langie, sebelum masa Spanyol masyarakat Minahasa tidak mengenal nama Manado. Mereka mengenal kawasan tersebut sebagai Wenang. Orang-orang pedalaman yang harus melakukan perjalanan jauh ke Wenang untuk menyerahkan hasil hutan kepada orang-orang Spanyol sering mengatakan mana un dooe yang berarti “pergi ke tempat yang jauh”. Dalam perkembangan pengucapan sehari-hari, ungkapan ini berubah menjadi mana'ndooe dan kemudian menjadi Menado.
Walaupun teori ini tidak diterima oleh semua ahli, ia menunjukkan suatu hal yang penting: dalam ingatan masyarakat Minahasa awal abad ke-20, Wenang dipahami sebagai nama yang lebih tua daripada Manado. Nama Manado dianggap muncul kemudian dan berkembang seiring meningkatnya hubungan antara masyarakat Minahasa dengan kekuatan kolonial.
Wenang dalam
Tradisi Kolonial Belanda
Laporan Robertus
Padt-Brugge tahun 1679, tampak jelas bahwa ia membedakan antara orang Manado
dan orang Alfoeren (Alfur/Alifuru) di pedalaman Minahasa. Padt-Brugge menggunakan istilah "Alfoeren" untuk menyebut penduduk pedalaman Minahasa, yaitu kelompok-kelompok etnis yang
mendiami wilayah pegunungan dan pedalaman Sulawesi Utara. Bahkan editor naskah
abad ke-19 menjelaskan bahwa Alfoeren terdiri atas beberapa "stammen"
(suku atau kelompok) yang berbeda-beda. Jadi, bagi Padt-Brugge,
"Manado" di sini terutama menunjuk wilayah administratif atau kawasan
geografis VOC, sedangkan "Alfoeren" menunjuk penduduk pedalaman yang
menjadi objek etnografinya.
Setelah menjelaskan asal-usul orang Manado, barulah ia beralih kepada uraian panjang mengenai adat-istiadat Alfoeren, yaitu masyarakat pedalaman Minahasa. Seluruh bagian mengenai rumah panggung, pertanian, upacara, pemakaman, imam, ramalan burung, dan sebagainya merujuk kepada Alfoeren Minahasa.
Di antara para penulis kolonial, Nicolaas Graafland merupakan salah satu yang
paling konsisten membedakan Wenang dari Manado. Dalam De Minahassa (1898), ia
menjelaskan bahwa lokasi Kota Manado sekarang dahulu disebut Tumpaan-Wenang.
Menurutnya, penduduk Pulau Manado Tua atau Babontehu pada suatu masa berpindah
ke pesisir Teluk Manado dan menetap di Wenang.
Graafland menulis bahwa ketika orang-orang Spanyol datang pada pertengahan abad
ke-16, mereka diarahkan oleh orang-orang Babontehu untuk mendarat di Teluk
Wenang. Setelah itu Spanyol membangun benteng di kawasan tersebut dan
perlahan-lahan nama Manado mulai menggantikan nama Wenang.
Penjelasan Graafland memperlihatkan adanya tiga entitas yang berbeda. Pertama,
Manado Tua atau Babontehu sebagai pulau. Kedua, Wenang sebagai pemukiman
pesisir di daratan Sulawesi. Ketiga, Manado sebagai nama baru yang kemudian
digunakan untuk menggantikan Wenang. Dengan demikian, menurut Graafland, Manado
bukanlah nama asli kawasan tersebut, melainkan nama yang muncul kemudian dalam
konteks kolonial.
Pandangan yang serupa juga ditemukan dalam karya naturalis Inggris Sydney J.
Hickson. Dalam bukunya A Naturalist in North Celebes (1889), Hickson secara
tegas menulis bahwa sebelum kedatangan Portugis, tempat yang sekarang disebut
Manado bernama Wenang, sedangkan Pulau Manado Tua dikenal dengan nama
Bobantohé. Kesaksian ini menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19 masyarakat
Minahasa masih mengingat dengan jelas perbedaan antara Wenang dan Manado Tua.
Apabila identifikasi tersebut benar, maka penyebutan itu kemungkinan besar
tidak menunjuk kepada Wenang, melainkan kepada Pulau Manado Tua. Pada awal abad
ke-16 para pelaut Portugis lebih mengenal pulau-pulau sebagai titik navigasi
dibandingkan pemukiman kecil di daratan. Pulau Manado Tua yang menjulang di
Teluk Manado jauh lebih mudah dikenali oleh para pelaut daripada pemukiman
Wenang di pesisir.
Tentang Raja Manado yang disebut dibaptis pada tahun 1563 tidak disebutkan namanya. Tapi, terdapat sebuah surat seorang yang disebut Raja Manado bernama Cachiltulo, kepada Gubernur Don Gerónimo de Silva pada 21 Juni 1616: “Tanto de carta quel Cachiltulo, rey de Manados, escribió á el gobernador don Gerónimo de Silva en 21 de junio de 1616.
A 21 de mayo pasó por esta costa el navío San Antonio, y yo, el rey de Manados, Cachiltulo, sabiendo que venian en él dos padres de San Francisco, envíé á rogalles se viniesen conmigo. Vinieron, decláreles cómo queria ser christiano y amigo del rey de España. Enseñáronme y confirmaron en esto, y yo les encargué lo dijesen á V. S., á quien con toda esta brevedad digo, porque el tiempo no me da mas lugar, tenga por bien de favorecerme en todo lo que sobre dicho tengo, fuese importante y necesario, y en todo lo demás me remito á el padre comisario fray Pascual de Torrella, ques el que esta lleva. Nuestro Señor guarde á V. S. felices años. Manados 21 de junio de 1616.--De V. S. servidor Cachiltulo, rey de Manados.”)
(Terjemahkan: “Demikian pula dari surat yang ditulis Cachiltulo, Raja Manado, kepada Gubernur Don Gerónimo de Silva pada 21 Juni 1616.
Pada tanggal 21 Mei, kapal San Antonio melintas di pesisir ini, dan saya, Raja Manado, Cachiltulo, setelah mengetahui bahwa di dalam kapal itu datang dua pastor dari Ordo Santo Fransiskus, mengutus orang untuk memohon agar mereka datang bersama saya. Mereka datang, lalu saya menjelaskan kepada mereka bahwa saya ingin menjadi Kristen dan sahabat Raja Spanyol. Mereka mengajar saya dan meneguhkan saya dalam hal itu, dan saya meminta mereka menyampaikan hal ini kepada Yang Mulia (V.S.), kepada siapa dengan segala singkatnya saya sampaikan, karena waktu tidak memberi saya kesempatan lebih banyak, agar berkenan membantu saya dalam segala hal yang telah saya sebutkan di atas, sejauh itu penting dan diperlukan. Mengenai segala hal lainnya, saya serahkan kepada Pastor Komisaris Fray Pascual de Torrella, yang membawa surat ini. Semoga Tuhan kita menjaga Yang Mulia selama tahun-tahun yang berbahagia.”)
Cachiltulo itu adalah juga Tololiu, atau juga Tululio. Siapakah sebenarnya Raja Manado ini?
Adrianus Kojongian, sejarawan yang bermukim di Tomohon dalam artikelnya berjudul “Manado (Tua) dan Misteri Dibalik Peta” melakukan kajian tentang Manado pulau dan Manado daratan, menemukan bahwa dalam peta-peta sejak zaman abad ke-16 hingga abad ke-17 tidak selalu menunjuk di daratan dan juga di pulau. Demikian nama untuk Manado yang juga ditulis dengan berbeda-beda.
Tapi, satu hal yang jelas, nama Manado Tua sudah lama eksis yang umum diterima juga kerajaan. Penduduknya berpindah ke daratan yang juga disebut Manado. Pembaptisan terhadap Raja Manado dan Siau terjadi (Mei?) 1563. Jadi, jika ada nama tempat Manado Tua di pulau, maka Manado di daratan mestinya adalah Manado (baru).
Di tempat yang baru itu, bukan berarti tidak ada kehidupan dan peradaban di situ. Itulah yang kemudian disebut Monango Labo, Menangelabo, hingga dalam sebutan modern Labuhan Wenang. Nama tuanya, sebelum Manado adalah “Wenang”.
Dalam laporannya, Padt-Brugge terlebih dahulu menceritakan asal-usul orang Manado sebagai suatu kelompok tersendiri. Ia mengatakan bahwa Manado pada mulanya adalah sebuah pulau kecil yang sekarang dikenal sebagai Manado Tua. Penduduk pulau itu berjumlah sekitar 300 laki-laki bersenjata, terkenal suka berperang, lalu kemudian berpindah ke daratan karena pulau tersebut tidak memiliki air tawar dan tanaman mereka dirusak oleh banyak kera. Ia menulis bahwa: Orang Manado dahulu tinggal di pulau Manado; Mereka kemudian berpindah ke daratan, di lokasi benteng VOC berada; Nama "Manado" dipindahkan dari pulau ke permukiman baru di daratan.
Tentang "Manado Tua", Padt-Brugge membuka laporannya dengan uraian mengenai sebuah pulau yang ia sebut Manado: "Manado, sebuah pulau kecil, tetapi gunung yang sangat tinggi..." Dari catatan editor abad ke-19 dijelaskan bahwa pulau yang dimaksud adalah: "Oud-Manado" (Manado Lama), yang dalam bahasa Melayu disebut Manado-Toeah (Manado Tua). Menurut cerita yang ia catat: 1. Penduduk asli Manado mula-mula tinggal di Pulau Manado Tua; 2. Mereka mengalami kesulitan karena tidak ada sumber air. 3. Kebun-kebun mereka dirusak oleh kera dan monyet; 4. Mereka kemudian pindah ke daratan utama Minahasa; 5. Nama Manado ikut dipindahkan ke tempat baru tersebut.
Ada satu catatan yang sangat menarik pada bagian "Naschrift" (catatan penutup) dari editor abad ke-19. Ia menegaskan bahwa menurut Padt-Brugge: penduduk Manado mempunyai asal-usul yang berbeda dari penduduk pedalaman. Kalimat editor tersebut berbunyi: "...het opmerking verdient, dat hij aan de bewoners van Manado een anderen oorsprong toeschrijft dan aan die van het binnenland" ("patut diperhatikan bahwa ia menganggap penduduk Manado mempunyai asal-usul yang berbeda dari penduduk pedalaman").
Dengan demikian, dalam pandangan Robertus Padt-Brugge tahun 1679, Manado bukan sekadar nama sebuah kota, melainkan nama suatu komunitas yang menurut tradisi berasal dari Pulau Manado (Manado Tua) sebagai tanah asal mereka. Masyarakat Manado dibedakan dari kelompok Alfoeren, yakni masyarakat pedalaman Minahasa yang memiliki adat-istiadat, struktur sosial, dan sistem kepercayaan tersendiri. Walaupun keduanya hidup dalam kawasan geografis yang saling terhubung dan berinteraksi secara ekonomi maupun politik, Padt-Brugge memahami mereka sebagai kelompok dengan asal-usul historis yang berbeda. Karena itu, Manado Tua memperoleh posisi penting dalam ingatan historis orang Manado, sebab pulau tersebut dipandang sebagai tempat asal komunitas Manado sebelum sebagian penduduknya bermigrasi dan berkembang di wilayah daratan, khususnya di kawasan Wenang atau Monango Labo.
Bagi kajian sejarah Minahasa, keterangan ini sangat berharga karena merupakan salah satu kesaksian tertua (1679) yang merekam tradisi asal-usul orang Manado dan sekaligus menunjukkan bahwa pada abad ke-17 VOC masih melihat perbedaan identitas antara masyarakat pesisir Manado dan masyarakat Alfoeren pedalaman Minahasa.
Kemudian, dalam karya François Valentijn (1724), istilah “Menangelabo” muncul sebagai salah satu bentuk ejaan awal yang merujuk pada wilayah Wenang di daratan Minahasa, sebagaimana terlihat dalam kutipan “... Menangelabo heeft ...”; bentuk ini dapat dipahami sebagai varian fonetik dan ortografis dari nama yang kemudian dikenal dalam berbagai sumber sebagai Menanglabo, Monango Labo, atau Wenang Labo, yang menunjuk pada kawasan pesisir Minahasa (cikal bakal Manado di daratan), bukan pada Pulau Manado Tua (Babontehu).
Artikel dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië (1845) menjelaskan bahwa wilayah yang dalam sejumlah sumber Eropa disebut dengan berbagai bentuk ejaan seperti Menangelabo atau Menanglabo ((terutama Valentjn tahun 1724) sebenarnya “bij den Inlander bekend onder dien van Wenangé” (dikenal oleh penduduk asli dengan nama Wenangé), dan bahwa nama tersebut berasal dari suatu pohon buah yang dahulu banyak ditemukan di tempat itu. Keterangan ini memperlihatkan bahwa Wenang merupakan nama lokal yang mendasari berbagai variasi penulisan kolonial terhadap kawasan yang kemudian berkembang menjadi Manado di daratan Minahasa.
Monango Labo, Menangelabo, Nunangihobo dan Manangihabo
Ketika VOC mulai membangun pengaruhnya di Minahasa pada pertengahan abad
ke-17, sumber-sumber Belanda memperkenalkan nama baru yang berkaitan dengan
lokasi Wenang, yaitu Monango Labo atau Menangelabo.
Dalam karya L.C.D. van Dijk, Neêrland's Vroegste Betrekkingen met Borneo, den
Solo-Archipel, Cambodja, Siam en Cochin-China (1862), dijelaskan bahwa VOC
mendirikan sebuah benteng di dekat Sungai Monango Labo. Benteng tersebut
menjadi cikal bakal pusat pemerintahan Belanda di Manado.
Informasi yang lebih rinci diberikan oleh E.C. Godée Molsbergen dalam
Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (1928). Ia menyebut bahwa sungai yang
bermuara di dekat Fort Amsterdam dikenal dengan nama Menangelabo. Nama ini
menjadi penanda geografis penting pada masa awal kekuasaan VOC. Menangelabo
bukan nama kota, melainkan nama sungai yang mengalir di kawasan Wenang.
Kehadiran nama Monango Labo dan Menangelabo menunjukkan bahwa pada abad ke-17
identitas kawasan tersebut masih sangat terkait dengan unsur geografis lokal.
Nama Manado memang sudah digunakan, tetapi nama sungai dan kawasan Wenang masih
tetap hidup dalam berbagai catatan kolonial.
Variasi lain dari nama yang sama muncul dalam Corpus Diplomaticum
Neerlando-Indicum yang disunting oleh J.E. Heeres (1907). Dalam sebuah
perjanjian tahun 1673 muncul bentuk nama Manangihabo dan Nunangihobo. Heeres
sendiri menduga bahwa kedua bentuk tersebut merupakan kesalahan penyalinan atau
korupsi dari Monango Labo atau Menangelabo.
Keberadaan berbagai variasi penulisan ini memperlihatkan bahwa pada abad ke-17
belum ada standar ejaan yang baku bagi nama-nama lokal di Minahasa. Namun semua
bentuk tersebut merujuk pada kawasan yang sama, yaitu daerah sekitar benteng
Belanda di Wenang. Dengan kata lain, berbagai variasi itu justru memperkuat
identifikasi bahwa pusat kolonial awal Manado berdiri di wilayah Wenang.
Kesimpulan
Historiografi mengenai Wenang menunjukkan bahwa istilah ini memiliki
kedudukan yang sangat penting dalam sejarah awal Manado. Sumber-sumber tradisi
Minahasa, catatan kolonial Belanda, laporan naturalis Eropa, hingga kajian
sejarah modern secara umum sepakat bahwa sebelum munculnya nama Manado, kawasan
pesisir di muara Sungai Tondano dikenal sebagai Wenang. Nama ini muncul dalam
berbagai bentuk seperti Wanua Wenang, Tumpahan Wenang, dan Labuhan Wenang, yang
semuanya menggambarkan fungsi kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan dan
perjumpaan antara masyarakat Minahasa dengan dunia luar.
Sementara itu, Manado Tua pada mulanya merupakan nama sebuah pulau yang dalam
tradisi lokal dikenal sebagai Babontehu. Dalam sumber Portugis awal, penyebutan
Menado kemungkinan besar merujuk kepada pulau tersebut. Baru pada masa Spanyol
dan VOC nama Manado mulai digunakan untuk menyebut kawasan Wenang di daratan
Sulawesi.
Dengan demikian, perkembangan historis nama tersebut memperlihatkan tiga tahap
yang berbeda. Pertama, Manado Tua sebagai pulau yang menjadi penanda geografis
bagi para pelaut. Kedua, Wenang sebagai pelabuhan dan pemukiman asli di pesisir
daratan Minahasa. Ketiga, Manado sebagai nama yang kemudian menggantikan Wenang
dan berkembang menjadi identitas kota modern. Pemahaman terhadap perbedaan ini
penting karena membantu menempatkan sejarah Kota Manado dalam konteks yang
lebih tepat dan menghindarkan kekeliruan yang menyamakan Wenang, Manado Tua,
dan Manado sebagai satu entitas yang sama sejak awal.
Daftar Pustaka
Graafland, N. (1898). De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige
Toestand (Vol. 1). Batavia: G. Kolff.
Heeres, J. E. (Ed.). (1907). Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum: Verzameling
van Politieke Contracten en Verdere Verdragen door de Nederlanders in het
Oosten Gesloten, van Privilegebrieven, aan Hen Verleend, enz. (Deel II,
1650–1675). ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Hickson, S. J. (1889). A Naturalist in North Celebes: A Narrative of Travels in
Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with Notices of the Fauna, Flora and
Ethnology of the Districts Visited. London: John Murray.
Molsbergen, E. C. Godée. (1928). Geschiedenis van de Minahassa tot 1829.
Weltevreden: Landsdrukkerij.
Padt-Brugge, R. (1845). Beschrijving der zeden en gewoonten van de Alfoeren,
in het noorderdeel van Celebes of Manado (1679). In Tijdschrift voor
Neêrland's Indië, 7(4), 320–347. Batavia: Lange & Co.
Parengkuan, F. E. W., Manus, L. Th., Nihe, R. S., & Suryo, D.
(1986). Sejarah Kota Manado 1945–1979. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan
Dokumentasi Sejarah Nasional.
Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tomé Pires: An Account of the East, from
the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512–1515 (A. Cortesão,
Ed. & Trans., Vols. 1–2). London: Hakluyt Society.
Ratu Langie, G. S. S. J. (1917, 17 Juni). De oorsprong van den naam Menado.
Geïllustreerd Zondagsblad voor Katholieken.
Valentijn, F. (1724). Oud en Nieuw Oost-Indiën, Vervattende een Naaukeurige en
Uitvoerige Verhandelinge van Nederlands Mogentheyd in die Gewesten. Dordrecht
& Amsterdam: Joannes van Braam dan Gerard Onder de Linden.
Van Dijk, L. C. D. (1862). Neêrland's Vroegste Betrekkingen met Borneo, den
Solo-Archipel, Cambodja, Siam en Cochin-China. Amsterdam: J. H. Scheltema.
Wenas, J. (2007). Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Manado: Institut Seni Budaya
Sulawesi Utara.
Tijdschrift voor Neêrland’s Indië. (1845). Algemeen Overzigt. Tijdschrift voor
Neêrland’s Indië, 7(4). Batavia: Ter Lands Drukkerij.
Comments
Post a Comment