Pada suatu hari musim gugur yang muram, menjelang akhir abad ke-18, lonceng Gereja Kaufmannskirche di Erfurt, Jerman, berdentang mengiringi sebuah iring-iringan pemakaman. Jalan-jalan sempit kota tua itu menjadi saksi perjalanan terakhir seorang saudagar yang dikenal luas karena kebaikan hatinya. Di belakang peti jenazah, seorang janda muda berjalan dengan tubuh nyaris tak sanggup menahan kesedihan. Lima orang anak mengikutinya. Anak yang paling kecil, seorang bocah berusia sekitar tiga tahun, menangis tanpa benar-benar memahami mengapa orang-orang dewasa di sekelilingnya begitu berduka. Seorang bayi lainnya masih terbaring di rumah.
Lelaki yang dimakamkan itu bernama Christian Emanuel Riedel, seorang pedagang yang dihormati masyarakat Erfurt. Ia meninggalkan bukan hanya keluarga yang kehilangan pelindung, melainkan juga sebuah nama yang telah lama dikenal karena kemurahan hati. Di tengah khotbah pemakaman, perhatian jemaat diarahkan kepada batu nisan seorang leluhur keluarga Riedel, seorang pendeta yang dahulu menjadi teladan kesalehan dan kebajikan bagi jemaatnya.
Reinhold Grundemann dalam bukunya Johann Friedrich Riedel, ein Lebensbild aus der Minahassa auf Celebes yang terbit pada tahun 1873 mengisahkan peristiwa tersebut sebagai awal kehidupan Johann Friedrich Riedel, seorang anak yang kelak meninggalkan Eropa untuk menjadi misionaris di Minahasa. Kisah Riedel dimulai bukan dari sebuah mimpi besar tentang negeri-negeri jauh, melainkan dari kehilangan, kesederhanaan keluarga, dan pendidikan agama yang membentuk masa kecilnya.
Gereja Kaufmannskirche sendiri merupakan salah satu gereja bersejarah di Erfurt, kota yang sejak masa Reformasi memiliki hubungan kuat dengan tradisi Lutheran. Gereja ini menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat kota, tempat ibadah, pewartaan firman, dan pembentukan kehidupan Kristen berlangsung dari generasi ke generasi. Dalam lingkungan seperti itulah keluarga Riedel menumbuhkan ingatan tentang iman, pelayanan, dan tanggung jawab moral.
Sepulang dari pemakaman, ibu Riedel, Anna Sabina, yang lahir dengan nama keluarga Müller, harus menghadapi kenyataan baru. Usaha dagang suaminya telah dijual. Setelah urusan harta diselesaikan, warisan yang tersisa tidak cukup besar untuk menjamin kehidupan yang berkecukupan bagi seluruh anak. Kebaikan hati Christian Emanuel, yang semasa hidupnya dikenal gemar menolong orang miskin dan sering memberi kelonggaran kepada pelanggan yang kesulitan membayar utang, ikut menjelaskan mengapa keluarga itu tidak meninggalkan kekayaan yang berarti.
Namun, keluarga Riedel tidak sepenuhnya kehilangan tempat untuk berlindung. Anna Sabina bersama anak-anaknya mendapat perlindungan di rumah orang tuanya. Di sana, Johann Friedrich kecil tumbuh di tengah keluarga sederhana yang saleh. Kakeknya mengambil peran penting dalam mendidik anak-anak yang kehilangan ayah. Ia berusaha menggantikan kehadiran sang ayah dengan disiplin, ketegasan, dan kasih sayang.
Kehidupan di rumah kakek berjalan menurut aturan yang jelas. Pekerjaan sekolah harus diselesaikan dengan teliti dan diperlihatkan tepat waktu. Jika tugas dikerjakan dengan ceroboh, pekerjaan itu harus dihapus dan diulang. Ketidaktaatan tidak dibiarkan begitu saja. Anak-anak juga dijauhkan dari pergaulan yang dianggap buruk dan sedapat mungkin berada di bawah pengawasan orang dewasa.
Di rumah itu, Alkitab bukan sekadar buku yang disimpan di rak. Pagi dan malam, anak-anak yang lebih besar diminta membaca satu pasal Kitab Suci. Mereka dibiasakan membaca sendiri dan mendengarkan firman Tuhan. Setiap hari Minggu, sang kakek membawa seluruh keluarga ke Kaufmannskirche. Ketika Johann Friedrich berusia sekitar empat atau lima tahun, ia pun mulai ikut beribadah bersama mereka.
Pada mulanya, perhatian Fritz kecil mudah teralihkan. Di dalam gereja, ia lebih tertarik memandang figur-figur malaikat berpipi bulat yang menghiasi bagian organ, terutama ketika pada hari-hari raya trompet mereka tampak diangkat dan diturunkan. Namun, seiring pertambahan usia, perhatian anak itu perlahan berubah. Ibadah dan pembacaan Alkitab mulai meninggalkan jejak yang lebih dalam di hatinya.
Di rumah kakeknya tergantung potret seorang leluhur bernama Magister Johannes Henricus Riedel. Sosok itu adalah seorang pendeta yang dikenang karena kefasihan mengajar, kesalehan, pengetahuan Kitab Suci, dan kemurahan hatinya kepada orang miskin. Dalam potret tersebut, sang pendeta memegang Alkitab terbuka di dekat sebuah salib. Bagi Johann Friedrich, gambar itu bukan sekadar kenangan keluarga. Di dalamnya tersimpan gambaran tentang seorang manusia yang ingin ia teladani.
Grundemann menuliskan bahwa Johann Friedrich tumbuh menjadi anak yang rajin, sopan, rendah hati, dan disukai guru maupun teman-temannya. Nasihat kakeknya agar ia menjadi manusia yang takut akan Tuhan dan hidup berbudi luhur terus teringat dalam pikirannya. Ia ingin menjadi seperti leluhurnya: seorang yang mengabdikan hidup kepada Tuhan dan sesama.
Akan tetapi, perjalanan imannya tidak segera membawanya kepada kedamaian. Ketika berusia sekitar sepuluh tahun, ia mengalami sakit berat. Dalam riwayat hidupnya yang kemudian dikutip Grundemann, Riedel mengenang penyakit tersebut sebagai pengalaman yang membuatnya semakin sadar akan keadaan batinnya sendiri. Ia merasa dirinya berdosa dan tidak layak memperoleh keselamatan.
Kesadaran itu justru membawanya kepada pergumulan yang panjang. Ia berusaha memperbaiki dirinya melalui perbuatan baik, disiplin, dan ketaatan yang semakin ketat. Ia membayangkan bahwa keselamatan harus diperoleh dengan kesungguhan menjalankan kewajiban agama. Dalam pandangannya ketika itu, semakin sempurna ia berbuat, semakin dekat pula ia kepada Tuhan.
Masa menjelang peneguhan sidi memperdalam pergumulan tersebut. Pengajaran yang diterimanya dari pendeta setempat tidak memberikan jawaban yang sungguh-sungguh menenteramkan. Riedel melihat perilaku pendetanya yang menurut penilaiannya sendiri tidak sesuai dengan kehidupan Kristen. Ketika ia memberanikan diri mengungkapkan kecemasan tentang ketidaklayakannya menerima Perjamuan Kudus, sang pendeta justru menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia dikenal sebagai anak yang baik, disukai guru, dan membanggakan keluarganya.
Untuk sementara, kegelisahan itu mereda. Riedel mengikuti peneguhan sidi, tetapi pertanyaan tentang dosa dan keselamatan tidak benar-benar hilang. Ia menjalani kehidupan sebagai seorang anak yang tekun beragama, sambil terus membawa keyakinan bahwa dirinya harus berusaha lebih keras agar menjadi manusia yang layak di hadapan Tuhan.
Ketika masa sekolah berakhir, keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan Riedel menempuh pendidikan tinggi. Seperti saudara-saudaranya, ia harus mempelajari pekerjaan praktis untuk mencari nafkah. Ia kemudian dikirim kepada seorang penjahit untuk menjalani masa magang selama tiga tahun. Di sanalah ia belajar menjahit, sebuah keterampilan yang kelak menjadi bekal penting ketika ia meninggalkan rumah dan mengembara dari satu kota ke kota lain.
Masa kecil Johann Friedrich telah memberinya dua warisan yang kelak terus menyertai hidupnya: keterampilan bekerja untuk mempertahankan kehidupan dan keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan kesungguhan di hadapan Tuhan. Namun, ia belum mengetahui ke mana kedua warisan itu akan membawanya. Jalan menuju Minahasa masih jauh, sementara perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Mengembara, Sakit, dan Mencari Kedamaian
Pada usia delapan belas tahun, Johann Friedrich meninggalkan Erfurt. Dengan ransel di punggung dan tongkat di tangan, ia berpamitan kepada ibunya dan kakeknya. Sang ibu tentu berat melepas putra terakhir yang masih tinggal di rumah. Kakeknya kembali menyampaikan nasihat yang sejak kecil selalu diulang: agar Fritz hidup dengan baik dan tetap berjalan di jalan Tuhan.
Bersama Wilhelm Fils, seorang pembuat sabun, Riedel memulai perjalanan melintasi Franken, Swabia, Bayern, Tirol, hingga mencapai Graz di Austria. Mereka bekerja di tempat-tempat yang disinggahi untuk memperoleh uang dan melanjutkan perjalanan. Dunia yang dijumpainya jauh lebih luas daripada jalan-jalan di Erfurt. Ia melihat kota-kota baru, bentang alam yang berbeda, dan kehidupan masyarakat dengan kebiasaan masing-masing.
Di Graz, ia bertemu kembali dengan seorang saudaranya yang bekerja di kota itu. Namun, tempat yang semula menjanjikan ketenangan tersebut tidak bertahan lama. Riedel dan saudaranya, yang berasal dari lingkungan Lutheran, mengalami tekanan untuk berpindah ke Gereja Katolik. Mereka akhirnya kembali mengembara dan menemukan pekerjaan di wilayah Hungaria, tempat mereka berharap dapat hidup di tengah masyarakat Protestan.
Harapan itu kembali terganggu ketika Riedel jatuh sakit. Dalam riwayat hidupnya, penyakit tersebut disebut sebagai penyakit Hungaria. Kondisinya memburuk sehingga ia harus melanjutkan perjalanan seorang diri. Tubuhnya yang dahulu kuat kini berjalan tertatih-tatih. Ia mencari pekerjaan di Silesia, tetapi beberapa majikan menolaknya karena kesehatannya. Akhirnya, seorang penjahit di Liegnitz bersedia menerimanya.
Di kota itu, penyakitnya semakin berat. Ia harus bekerja dalam keadaan kesakitan, sementara upahnya bahkan tidak cukup untuk membeli obat. Meski demikian, ia enggan meminta bantuan ibunya. Baginya, pulang dengan keadaan seperti itu terasa memalukan.
Dalam kesendirian dan penderitaan, pertanyaan lama kembali menghantuinya: bagaimana ia dapat berdiri di hadapan Tuhan jika hidupnya masih dipenuhi dosa? Ia berdoa dan berjanji bahwa apabila Tuhan menyembuhkannya, ia akan mengabdikan seluruh hidupnya kepada pelayanan-Nya. Namun, kesembuhan fisik tidak serta-merta membawa kedamaian batin. Ia justru semakin keras mendisiplinkan dirinya, berpuasa, berdoa berjam-jam, dan berusaha mengendalikan setiap perkataan maupun pikirannya.
Pada suatu hari di musim panas 1818, Riedel berjalan melewati gerbang Liegnitz. Ia mendengar dua orang teman seperjalanan mengejek kesungguhannya beragama. Ia memilih diam dan meneruskan langkah. Dalam perjalanan itu, ia melihat seorang pengemis tua yang buta. Tanpa ingin menarik perhatian orang lain, ia memberikan sebagian besar upah mingguannya kepada lelaki tersebut.
Malamnya, ia berlutut di kamar kecil tempat ia tidur bersama para pekerja lain. Ia berusaha mengucapkan doa-doa yang telah dihafalnya, tetapi kata-kata itu seakan berhenti di tenggorokannya. Akhirnya, dengan kelelahan dan kesedihan, ia mengakui bahwa dirinya tidak mampu berdoa.
September 1818, ia meninggalkan Liegnitz dan menuju Breslau. Di kota ini, ia mendengar tentang persekutuan orang-orang Kristen yang berkumpul di luar kebaktian gereja. Dengan rasa ingin tahu sekaligus keraguan, ia menghadiri salah satu pertemuan mereka.
Di ruangan sederhana itu, ia mendengar nyanyian Jesus nimmt die Sünder an—Yesus menerima orang berdosa. Kemudian, sebuah khotbah yang dibacakan dari tulisan Heinrich Schubert menjelaskan bahwa manusia diselamatkan oleh anugerah, bukan oleh keberhasilan mengumpulkan perbuatan baik. Bagi Riedel, pertemuan itu menjadi titik balik. Tanggal 22 September 1818 dikenangnya sebagai hari ketika ia menemukan kedamaian dalam keyakinan bahwa keselamatan adalah pemberian anugerah Tuhan.
Dari Penjahit Menjadi Calon Misionaris
Di Breslau, Riedel semakin mengenal kehidupan persekutuan Kristen yang tekun berdoa dan berbicara tentang misi kepada bangsa-bangsa lain. Melalui seorang pemuda yang mengenal kegiatan misi Johann Jänicke di Berlin, ia mulai membayangkan kemungkinan untuk mengabdikan hidupnya di luar Eropa.
Keinginan itu tidak segera menjadi keputusan. Ia merasa pengetahuan teologinya terbatas dan dirinya belum cukup matang. Namun, setelah melalui pergumulan dan doa, ia berangkat ke Berlin pada September 1821 untuk menemui Jänicke, seorang pendeta yang dikenal membina calon-calon misionaris.
Pertemuan mereka berlangsung pada 22 September 1821. Jänicke tidak langsung menerimanya ke sekolah misi karena tempat yang tersedia telah penuh. Ia menyarankan Riedel bekerja terlebih dahulu sebagai penjahit sambil menunggu kesempatan. Riedel mengikuti nasihat tersebut dan kemudian aktif dalam kehidupan jemaat serta persekutuan yang dibina Jänicke. Ia belajar Alkitab, mendengarkan khotbah, dan mengenal lebih dekat pekerjaan misi.
Pada 1 Oktober 1822, Riedel akhirnya diterima di sekolah misi Jänicke. Selama lima tahun berikutnya, ia mempelajari bahasa, pengetahuan Alkitab, dogmatika, penafsiran Kitab Suci, dan keterampilan berkhotbah. Pendidikan itu juga meliputi pelayanan kepada orang sakit dan pekerjaan kasih kepada masyarakat miskin. Di sana, panggilan misi tidak hanya dibentuk melalui pelajaran, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari.
Ketika Jänicke meninggal pada Juli 1827, Riedel kehilangan seorang pembimbing rohani yang sangat dikasihinya. Namun, jalan menuju pelayanan lintas benua telah terbuka. Atas rekomendasi Jänicke, ia bersama Johann Gottlieb Schwarz dipersiapkan untuk melayani melalui Nederlandsche Zendelinggenootschap (NZG), atau Lembaga Misi Belanda.
Pada 13 November 1827, Riedel dan Schwarz meninggalkan Berlin. Setelah singgah di Erfurt untuk mengunjungi keluarga, Riedel meneruskan perjalanan ke Belanda. Di Rotterdam, mereka tinggal bersama keluarga Oudshoff dan mempelajari bahasa Belanda serta memperdalam pengetahuan teologi. Mereka juga menjalani pemeriksaan untuk memastikan kesiapan melaksanakan pelayanan misi.
Pada September 1829, setelah melalui ujian dan penahbisan, keduanya ditetapkan untuk bekerja di wilayah utara Celebes, yakni Sulawesi, menyusul permohonan agar misi didirikan di kawasan tersebut. Pada 23 November 1829, kapal Geelvink meninggalkan Hellevoetsluis dengan membawa para utusan Injil itu menuju medan pelayanan yang jauh dari tanah kelahiran mereka.
Perjalanan Johann Friedrich Riedel dari Erfurt menuju Rotterdam bukan sekadar perpindahan seorang pekerja dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perjalanan seorang anak keluarga Lutheran yang tumbuh dalam disiplin, mengalami penderitaan, bergumul dengan keyakinannya, lalu menemukan panggilan hidup melalui persekutuan Kristen dan pendidikan misi. Ketika kapal membawanya meninggalkan Eropa, ia belum mengetahui seluruh pengalaman yang akan menantinya di Sulawesi. Namun, jalan panjang yang dimulai dari kehilangan ayah di Erfurt akhirnya mengantarnya menuju Minahasa.***

Comments
Post a Comment