Skip to main content

Museum dan Literasinya

Mengupload: 3305527 dari 3305527 byte diupload.

Akhir Juni lalu, saya berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Niat untuk pergi museum karena penasaran dengan sosialisasi yang masif di media sosial. Apa yang menarik di museum yang baru di revonasi itu?

Setelah melapor kepada seorang ibu di dekat pintu masuk, saya dipersilakan untuk mengelilingi museum. Dibandingkan dengan keadaan museum sebelumnya, tampaknya ada yang benar-benar berbeda.
Hari itu ramai pengunjung di museum. Para pengunjung tampak antusias. Ada sepasang suami-istri bersama anak-anak mereka. Tampak juga para muda-mudi yang berkelompok.
Dan, di bagian galeri yang menampilkan koleksi artefak Minahasa, sekelompok anak sekolah dari Minahasa Selatan mendekat. Mereka mengamati dengan kagum warisan leluhur kaumnya, tapi tampak pula kebingungan.
“Oh, ini kata arca,” kata seseorang dari mereka.
“Ini kine watu tumotowa,” tambah yang lain
“Ih, sama deng patong ini,” kata anak yang satu lagi.
Kami sudah berdekatan. Lalu saya bertanya asal mereka. Mereka senang menyebut nama kampung dan nama sekolah mereka.
“Ada batu-batu sama deng ini pa ngoni pe kampung,” tanyaku kepada mereka.
Mereka terdiam, beberapa di antaranya tampak berusaha mengingat.
Anak-anak datang ke museum untuk memperoleh informasi dan pengetahuan tentang sejarah dan budaya mereka. Di museum mereka disuguhkan dengan, antara lain koleksi artefak. Ada tulisan dan sedikit penjelasan. Selebihnya adalah kebingungan.
“Oh, bagini reen tu ja bilang watu tumotowa,” terdengar ucapan mengeja nama jenis artefak sesuai dengan tulisan yang mereka baca.
Padahal, yang disebut watu tumotowa itu adalah watu toitou. Dan, kekeliruan ini sepertinya sudah lama terjadi.***

Comments

Popular posts from this blog

Awal Mula Gerakan Pantekosta di Tanah Minahasa

Sekolah Alkitab di Surabaya tahun 1941 Orang-orang Minahasa di tanah rantau, bertemu dan meyakini gerakan Pantekosta yang diperkenalkan oleh para missionaris keturunan Belanda yang bermigrasi ke Amerika. Lalu para penginjil ini pulang kampung dan menyebarkan gerakan Pantekosta di tanah asal mereka. PELABUHAN Amurang, 13 Maret 1929. Sebuah kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya baru saja berlabuh. Dua penumpang di antaranya sedang menjalankan misi gerakan Pantekosta. Julianus Repi dan Alexius Tambuwun, nama dua penumpang itu.    Di Tanah Jawa, tanah perantauan, mereka mengenal dan belajar aliran kekristenan ini. Di tanah asal mereka, Minahasa jemat Kristen Protestan sudah berdiri sampai ke kampung-kampung sejak beberapa abad lampau. Dengan semangat yang menyala-nyala, dua pemuda ini bertekad pulang ke tanah kelahiran untuk menjalankan misi.   "GPdI masuk di Sulut ketika itu dikenal dengan Sulutteng pada awal Maret 1929. Julianus Repi dan Alexius Tambu...

Riwayat Lagu ‘Sayang-sayang Si Patokaan’

Lagu 'Patokaan' pada iklan Haagsche Courant edisi Februari 1928 “Sayang-sayang si Patokaan” lagu rakyat asal Minahasa yang bemula dari saling ejek antar orang-orang di beberapa kampung di Tonsea, bagian utara tanah Minahasa. Dalam perjalanannya, lagu ini sering disalahartikan. SUATU hari di tahun 1950-an, Wilhelmus Absalom Reeroe, waktu itu sebagai mahasiswa di Jakarta menyaksikan sebuh kapal perang Uni Soviet yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Sebagian penumpang kapal turun untuk main sepak bola persahabatan di lapangan Ikada. Sebelum pertandingan di mulai, orang-orang Uni Soviet ini terlebih dahulu menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenal oleh Roeroe sejak masa kanak-kanaknya di Kakaskasen, Minahasa. Lagu “Sayang-sayang si Patokaan”. Aslinya, syair lagu ini ditulis dalam bahasa Tonsea. “Terkejutlah juga kami mendengarnya,” tulis Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi, terbit tahun 2003. Di masa perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an itu, kata Roero...

Angkot Manado Tempo Doeloe, Dari Bemo ke ‘ST20’

Salah satu terminal di Kota Manado tahun 70-an. Foto: Expose Manado Juli 2015 Jenis mobil angkutan kota (angkot) di Kota Manado mengikuti trend dari Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Riwayat perjalanannya, dari bemo ke ‘ST20'. Oto Becak, Oto Kacili Kase Lari Sambilan Puluh Banyak Orang Suka Pa Ngana Ngana Bilang Ngoni Jo dulu Lagu ini populer di kalangan orang-orang Minahasa sampai tahun 1990-an. Tapi mungkin ia sudah ada sejak tahun 1960-an. Rupanya ia menggambarkan   kehidupan masyarakat Manado masa itu. Tentang   teknologi kendaraan umum. “ Oto becak, oto kacili” hendak mau menyebut jenis angkutan umum   populer di kota Manado dan kota-kota lain di Indonesia masa itu. Namanya bemo atau becak motor. Bemo adalah kendaraan beroda tiga dengan mesin sepeda motor sebagai angkutan dalam kota yang umum di Indonesia tahun 1960-an. “Luar Jawa seperti Medan, Ujung Pandang dan Menado, ia menjadi dasar untuk angkutan umum berjurusan tetap,” ...