
Akhir Juni lalu, saya berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara. Niat untuk pergi museum karena penasaran dengan sosialisasi yang masif di media sosial. Apa yang menarik di museum yang baru di revonasi itu?
Setelah melapor kepada seorang ibu di dekat pintu masuk, saya dipersilakan untuk mengelilingi museum. Dibandingkan dengan keadaan museum sebelumnya, tampaknya ada yang benar-benar berbeda.
Hari itu ramai pengunjung di museum. Para pengunjung tampak antusias. Ada sepasang suami-istri bersama anak-anak mereka. Tampak juga para muda-mudi yang berkelompok.
Dan, di bagian galeri yang menampilkan koleksi artefak Minahasa, sekelompok anak sekolah dari Minahasa Selatan mendekat. Mereka mengamati dengan kagum warisan leluhur kaumnya, tapi tampak pula kebingungan.
“Oh, ini kata arca,” kata seseorang dari mereka.
“Ini kine watu tumotowa,” tambah yang lain
“Ih, sama deng patong ini,” kata anak yang satu lagi.
Kami sudah berdekatan. Lalu saya bertanya asal mereka. Mereka senang menyebut nama kampung dan nama sekolah mereka.
“Ada batu-batu sama deng ini pa ngoni pe kampung,” tanyaku kepada mereka.
Mereka terdiam, beberapa di antaranya tampak berusaha mengingat.
Anak-anak datang ke museum untuk memperoleh informasi dan pengetahuan tentang sejarah dan budaya mereka. Di museum mereka disuguhkan dengan, antara lain koleksi artefak. Ada tulisan dan sedikit penjelasan. Selebihnya adalah kebingungan.
“Oh, bagini reen tu ja bilang watu tumotowa,” terdengar ucapan mengeja nama jenis artefak sesuai dengan tulisan yang mereka baca.
Padahal, yang disebut watu tumotowa itu adalah watu toitou. Dan, kekeliruan ini sepertinya sudah lama terjadi.***
Comments
Post a Comment