Skip to main content

Posts

Janji Bung Karno kepada Yurike Sanger, “Adiklah, istri yang terakhir”

KABAR duka itu datang dari California, 17 September 2025. Di sebuah rumah sakit di kota kecil Banning, San Gorgonio Memorial Hospital, seorang perempuan Minahasa berusia delapan puluh tahun telah meninggal dunia. Nama lengkapnya Yurike Mariana Sanger, tapi lebih dikenal dengan nama Yurike Sanger. Yurike lahir di Paso, Kakas Minahasa tanggal 21 Mei 1945. Ia anak dari pasangan keturunan Jerman dan Minahasa. Ayahnya bermarga Goltmier, ibunya bermarga Sanger dari Kakas, Minahasa. Dialah salah satu perempuan yang pernah menjadi bagian dari lingkaran rumah tangga Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno . Pertemuan Tak Terduga Cerita dimulai pada 1963, di Jakarta. Soekarno menghadiri sebuah acara kenegaraan. Seperti biasa, Bung Karno tidak hanya memperhatikan pidato atau upacara. Ia juga sering mengamati sekelilingnya. Di hadapannya berdiri barisan siswa Bhinneka Tunggal Ika, remaja-remaja yang mengenakan busana tradisional Nusantara. Dari sekian wajah, matanya tertuju pada satu sosok...

GMIM di Masa Jepang: Ds. Locher Ditawan, Ds. Wenas Jadi Ketua Sinode

Di tengah bayang pendudukan Jepang yang mengekang gereja dan menawan pemimpin Belanda, GMIM menemukan wajah barunya lewat kepemimpinan pendeta Minahasa, Ds. A.Z.R. Wenas. AWAL tahun 1942. Laut Sulawesi bergemuruh. Dari Davao, Filipina, kapal-kapal perang Jepang berlayar menuju selatan. Di langit, pesawat-pesawat tempur melintas seperti kawanan burung hitam. Pada 11 Januari, mereka mendarat di Manado dan Kema. Sehari itu juga, langit Minahasa dipenuhi terjun payung Jepang—operasi pertama mereka di Asia Tenggara. Mayor Ben Schillmöller, komandan Belanda, mencoba bertahan. Bersama pasukan KNIL, milisi Eropa, dan warga lokal Minahasa, ia mendirikan barikade di Pineleng, Tinoör, hingga Tomohon. Dentuman senjata terdengar. Namun kekuatan mereka terlalu kecil. Dalam dua hari, Manado, Tomohon, dan Langoan jatuh. Bendera matahari terbit berkibar di bumi Minahasa. Kehidupan berubah seketika. Laurens Th. Manus, dkk dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Utara (1945–1949) buku hasil p...

Minahasa Awal ke-20, Ibarat Pertemuan Dua Sungai

Pada awal abad ke-20, Minahasa berdiri di persimpangan adat leluhur dan tatanan kolonial Belanda, ketika struktur kepemimpinan dari Resident hingga Hoekoem Toea menata kehidupan rakyat. Di balik kerja rodi, pajak hasil, dan pengaruh gereja, terbentuklah sebuah simbiosis unik antara tradisi lokal dan kekuasaan asing yang membentuk wajah Minahasa modern.  Bayang-Bayang Kolonial   Awal abad ke-20, Minahasa adalah sebuah tanah yang hidup dalam pertemuan dua dunia: dunia adat yang telah lama berurat-akar, dan dunia kolonial yang hadir dengan aturan dan struktur yang tegas. Negeri pegunungan dengan Danau Tondano di pusatnya ini tidak sekadar menjadi tanah jajahan, melainkan sebuah ruang di mana Belanda menanamkan tatanan politik, sosial, dan ekonomi yang rapi, sambil tetap bernegosiasi dengan warisan leluhur. Belanda menyadari sejak awal bahwa Minahasa tidak bisa ditundukkan hanya dengan bedil dan barisan serdadu. Kekuatan masyarakatnya terletak pada struktur sosial yang solid,...

Mien Tampinongkol, Cerita yang Hidup di Ujung Zaman

TAHUN 1998, di Klaten, sebuah desa di Jawa Tengah, seorang ibu di jalan bertanya pada beberapa orang Belanda.  “Apakah kalian orang Belanda? Saya tahu seseorang yang pasti ingin sekali berbicara dengan kalian. Seorang nenek tua, tinggal agak jauh di sana,” ujar si ibu.   Salah seorang yang ditanya adalah Marius Bremmer, seorang jurnalis Belanda. Ia menulis laporan perjalanan dan kolom di banyak media Belanda. Ia dan beberapa temannya kebetulan sedang berada di Indonesia waktu itu.     “Namanya tante Mien,” lanjut si ibu itu. “Mari, saya antar, kalau tidak kalian tidak akan menemukannya. Rumahnya ada di tengah kampung. Saya yakin dia akan sangat menghargai kunjungan orang Belanda.” Bremmer menulis kisah perjumpaannya dengan tante Mien dengan judul “Hollands heimwee op Midden-Java: Tante Mien Tapi Nonkol: "Ik spreek nog heel goed Nederlands, hoor!" terbit di majalah Belanda Terdege edisi 13 Mei 1998.   Bremmer dan rombongan kecil itu mengikuti...