Skip to main content

Posts

Buku Walian dan Tuang Pandita

“WALIAN DAN TUANG PANDITA” Perjumpaan Agama Minahasa dan Agama Kristen pada Abad XIX © Juli 2019 Penulis: Denni H.R. Pinontoan Penerbit: Pustaka Pranala Alamat: Jl. Magelang km 20, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta Email: pustakapranala@gmail.com Pinontoan, Denni H.R., “WALIAN DAN TUANG PANDITA” Perjumpaan Agama Minahasa dan Agama Kristen pada Abad XIX/Denni H.R. Pinontoan – Cet. 1. –   ISBN: 978-623-7173-26-7 Buku ini membahas tentang kontak dan perjumpaan antara sistem dan praktek religi Minahasa dengan kekristenan melalui kehadiran para zendeling pada abad ke-19, terutama sejak tahun 1830-an hingga tahun 1890-an. Periode ini terutama berkaitan dengan kehadiran para zendeling utusan badan misi NZG yang sudah sejak zaman Joseph Kam (1817/1819), lalu Hellendoorn (1829), dan beberapa zendeling lainnya, lalu terutama sejak kedatangan Johann Gottlieb Schwarz dan Johann Frederik Riedel (1831) hingga masa penyerahan jemaat-jemaat...

Flu Spanyol di Minahasa tahun 1918 dan Medis yang Minim

Rumah Sakit Sipil di Manado yang dibangun tahun 1902 (sumber: colonialhospitals.com/KITLV) Flu Spanyol atau pandemi influenza yang melanda dunia tahun 1918 juga menyebabkan banyak korban meninggal di Minahasa. Ini terjadi di masa baik tenaga maupun fasilitas medis masih sangat minim FLU Spanyol atau pandemi influenza yang disebabkan oleh virus H1N1 yang menimpa masyarakat dunia pada tahun 1918 juga menyebar hingga ke Minahasa. Diperkirakan pandemi ini telah menyebabkan 20 sampai 40 juta orang sedunia meninggal dunia. Sementara jumlah korban meninggal di Hindia Belanda diperkirakan mencapai 1,5 juta.   Menurut Priyanto Wibowo, dkk dalam buku mereka Yang Terlupakan, Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (terbit tahun 2009), virus influenza telah hadir di Hindia Belanda pada bulan Juli. Pada bulan Januari, Konsul Belanda di Hongkong melaporkan kepada konsul Belanda di Singapura bahwa penguasa koloni Inggris di sana telah mengeluarkan peringatan kepada w...

Tuhan ke Mana?

AGAMA -agama dan ruang-ruang sosial sepi. Virus Corona menyerang manusia, masyarakat dan peradaban. Hal keagamaan dan kerutinan masyarakat sejenak berhenti. Peradaban memasuki masa hening. Orang-orang dunia banyak yang terkena penyakit Covid-19. Banyak yang meninggal. Virus Corona menyerang peradaban yang telah dibangun lama. Masyarakat dunia cemas, panik, takut.   Negara-negara sedunia punya prosedur bersama secara global menghadapi virus ini. Agar virus tidak menyebar, menurut prosedur global itu, masyarakat mesti menjalankan ‘social distancing’. Bentuknya antara lain, mengurangi atau mendiadakan pertemuan-pertemuan dan jabat tangan. Nah, ini soal bagi orang-orang beragama. Ritual mesti melibatkan banyak orang. Ibadah di gereja Minggu, Sholat Jum’at, sembayang di Klenteng, di Pura, dlsb, dibatasi atau dianjurkan agar tidak dulu dilakukan. Lalu, jabat tangan yang sudah dianggap bagian dari tindakan keaagamaan juga untuk sementara tidak diperbolehkan. Soal terak...

Covid-19

Oleh Denni H.R. Pinontoan SALING ber s alaman, untuk sekarang ini, dianjurkan baiknya tidak dilakukan dulu. Apalagi cipika-cipiki . Dulu larangan bersalaman antar orang-orang tertentu terutama karena alasan agama. Alasannya bersifat doktrinal. Sesuatu yang tak dapat diindera. T erkini, anjuran itu karena bahaya virus yang bernama corona. Itu juga karena sesuatu yang tidak dapat diindera dengan mata telanjang. Kontak langsung berbahaya menyebarnya virus corona itu. Orang yang terinfeksi virus ini akan terkena jenis penyakit baru bernama Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Bermula di Wuhan, China, kini sudah menyebar ke kira-kira 104 negara. Ia lalu mendapat gelar sebagai "pendemi global". Virus ini menyebar cepat. Satu orang diketahui dan ditetapkan positif, maka akan muncul dugaan untuk banyak orang. Seorang yang terinfeksi itu, sebelum diketahui dan positif terkena virus, pasti ia pernah melakukan kontak dengan banyak orang. Manusia itu mak...

Wabah Virus Cacar di Minahasa tahun 1908 Rengut 230 Nyawa

Pelabuhan Amurang awal abad 20 PENYAKIT cacar masih membahayakan orang-orang Minahasa hingga awal abad 20. Wabah penyakit terparah terjadi pada pertengahan abad 19. Populasi Minahasa menurun drastis. Sejak beberapa tahun sebelumnya, pemerintah telah berupaya melakukan vaksinasi. Tapi itu ternyata belum dapat menahan penyebaran virus cacar di Minahasa.   “P ada bulan Desember 1907 - kasus cacar pertama ditemukan di Romoöng (Amurang) ,” tulis Fred H. Wuller, seorang dokter Belanda dalam Is wettelijke Vaccinatie-en Revaccinatiedwang noodzakelijk, gewenscht en mogelijk? (1915). Wuller datang ke Keresidenan Manado untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit tersebut. Dia juga melakukan penyelidikan terkait penyebab dan tingkat penyebaran wabah tersebut. Dalam catatannya, Wuller mengatakan, dia lumayan leluasa melakukan pekerjaannya karena kepala di Amurang menyambut dengan ramah dan mendukung pekerjaannya. Wuller menulis, pada tanggal 1 Januari 1908, juml...